Belenggu Sejarah

Posted: November 25, 2012 in Pemikiran
Tags: , , ,

Fajar terbit memancarkan kemilau sinarnya yang terpancar dari ufuk timur. Burung-burung berkicau dan mulai mengepakkan sayapnya menjelajah angkasa. Embun pun bermunculan membasahi dedaunan. Pekik ayam jantan menjadi pertanda hari baru kan dimulai. Pagi kembali datang setelah malam kian berlalu. Jutaan anak manusia kembali terbangun dari tidur lelapnya. Jalan raya pun kembali riuh dengan ribuan kendaraan yang lalu lalang. Kemacetan terkadang tak terhindarkan karena motor dan mobil saling berjejalan. Gelora kembali menyelinap dalam jiwa para insan demi menyongsong masa depan. Sekejap, kisah lampau kan terlupakan.
Kita seringkali menyalahkan sejarah atas kegagalan yang kita alami disaat ini. Padahal diri kita adalah bagian dari sejarah, sehingga sedikit atau banyak, kita pun berperan dalam menciptakan sejarah itu sendiri. Itu berarti, tak elok jika setiap kegagalan selalu dikembalikan pada sejarah. Tentu, karena kita sendiri yang ikut berpartisipasi dalam pembentukan sejarah. Maka bila dicermati, inti dari kegagalan yang kita hadapi, disebabkan pula oleh diri kita sendiri.

(Klik untuk info kain tenun tapis Lampung terlengkap)

Hanya terpaku pada situasi masa silam akan menjadikan kita sebagai manusia stagnan. Kita hanya menjadi makhluk pesimis yang tak mampu membangun visi. Kehidupan tanpa visi akan menghalangi kita dari perubahan sikap dan pola pikir yang seharusnya selalu berkembang seiring kemajuan zaman. Kita tidak bisa hanya merenung sambil menyalahi kegagalan hidup kita di masa lampau, sebab terus menerus menyalahkan masa lampau tidak akan pernah memperbaiki situasi yang telah terlanjur terjadi.

Kisah masa lampau senantiasa menghidupkan kembali nostalgia yang mungkin telah lama terpendam. Tak dipungkiri bahwa peristiwa masa lampau selalu meninggalkan noktah yang akan berpengaruh pada perilaku, persepsi, dan karakter kita dimasa kini. Seringkali pula, kisah masa lampau meninggalkan trauma yang begitu mendalam hingga kita tak ingin lagi ia muncul dalam memori kenangan kita. Kisah masa lampau memang acapkali mengungkap masa-masa bahagia, namun tak jarang yang memendam kisah-kisah pilu yang berujung duka. Mozaik-mozaik kisah lampau memang merupakan rangkaian dari sejarah yang membentuk kepribadian seseorang. Ia menjadi pondasi bagi terbentuknya pengalaman-pengalaman yang berharga bagi seseorang ketika akan menginjakkan langkahnya ke masa depan. Akan tetapi, manusia tentunya tidaklah bijak apabila ia hanya terpaku pada pengalaman masa silamnya. Masa depan merupakan dimensi waktu yang penuh misteri, sebab pasti akan terjadi peristiwa yang serba tak terduga. Oleh karenanya, problema di masa depan membutuhkan solusi yang tak sama dengan masa silam, sehingga perlu adanya inovasi dan visi yang cemerlang dalam tiap diri seseorang.

Nostalgia

Menguak kisah indah yang terjadi di masa silam memang kerap memberi kebahagiaan kepada jiwa kita. Masa-masa yang telah terlewati, mungkin tidak akan terjadi untuk kedua kali. Kita seringkali termenung dalam lamunan untuk merasakan kembali nostalgia-nostalgia itu. Indah, memang terasa indah mengail kembali kenangan dimasa silam. Akan tetapi, masa silam tetaplah sejarah. Sejarah selalu saja terlewati oleh masa. Mengapa kita harus memaksa waktu untuk kembali ke masa lalu, padahal masa depan telah menanti kita dengan tantangan hidup yang tak disangka-sangka. Mampukah diri kita menghadapi masa depan, jika kita selalu bernostalgia dengan masa silam.

Seberapa pun buruk masa silam kita, akan selalu ada secercah cahaya menanti didepan arah kita. Keputusasaan hanyalah penghalang yang akan menghentikan kita menuju arah perubahan yang lebih baik. Begitupun dengan keterlenaan, hanya melalaikan kita pada angan-angan panjang. Kehidupan memang terkadang menciptakan kisah yang paradoks dalam rangkaian waktu. Tak disangka, masa lalu yang kelam membuahkan akhir jalan hidup yang justru cemerlang, hingga berujung pada kenikmatan surga. Itulah kisah paradoks dalam rangkaian waktu Umar bin Khattab. Dimasa jahiliyah, Umar dikenal dengan manusia bengis yang rela mengubur anak perempuannya hidup-hidup karena rasa malu yang mengendap begitu dalam, akibat tradisi jahiliyah yang mendudukkan anak wanita pada posisi yang tidak bermartabat. Namun masa depan memang penuh dengan misteri, Islam telah mengubah kehidupan Umar hingga menjadikannya termasuk dalam sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang terbaik. Maka kemudian terjadilah dalam kehidupan Umar rangkaian amal taubat, amal soleh, jihad, dan keadilan yang selalu menyertai kehidupannya sehari-hari sampai akhir hayatnya. Ternyata kebaikan Umar setelah dirinya masuk Islam, menutupi aib-aib yang ia kerjakan dimasa Jahiliyah. Allah pun meridhainya, begitu pun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan Allah pun membalas perjuangan Umar dengan kepastian berupa kenikmatan yang sempurna baginya kelak, surga.

Sejarah, kenangan masa lalu mungkin akan selalu lekat dalam memori sepanjang hayat kita. Kelam atau cemerlangnya masa lalu, akan selalu membekas dalam diri kita. Seringkali optimisme memang akan tumbuh menjulang dalam jiwa jika kita selalu berkaca pada melimpahnya pengalaman kita. Sebaliknya, kita akan merasa pesimis menatap masa depan jika kita menengok kebelakang, keadaan yang penuh kegagalan. Kesuksesan memang membawa angin segar, sedangkan kegagalan memberikan kesedihan yang mengoyak perasaan. Namun bukankah kita harus selalu bijak dalam menyikapi keadaan. Keadaan akan selalu berubah seiring perkembangan zaman.

Bukanlah suatu jaminan masa depan kita akan berbanding lurus dengan masa silam kita. Hidup kita adalah sekarang, didetik ini, dan saat ini. Masa depan menanti kita dengan situasi dan kondisi yang tak terduga, penuh dengan misteri, prediksi, dan prasangka. Disaat itulah kita harus melepaskan belenggu yang terjadi di masa lalu. Dengan demikian, kita harus melangkah dengan paradigma berpikir yang baru dikala kaki melangkah maju. Tak ubahnya seorang burung yang siap mengepakkan sayapnya dipagi hari untuk mengelilingi angkasa raya, tanpa tahu, apakah hari itu akan cerah, angin kan bersahabat, atau justru hujan kan turun lebat. Namun burung-burung itu tetap terbang, menjelajahi angkasa dengan penuh kesungguhan, walaupun diiringi dengan was-was dan ketidakpastian. Bukankah seharusnya manusia harus lebih optimis dalam menatap masa depan, karena ia dianugerahi dengan proses penciptaan makhluk yang terbaik. Sudah saatnya kita melepas buaian masa silam dengan keluar dari nostalgia yang melenakan. Tantangan, ujian, dan cobaan merindukan kedatangan kita. Tak elok rasanya jika kita tak bersiap diri menghadapinya. Optimisme harus selalu terpatri didalam dada, keyakinan yang tak boleh lepas begitu saja. Allah, Sang Pencipta jagat raya tak mungkin memberi cobaan diluar kemampuan hamba-Nya. Sehingga, akan selalu ada secercah cahaya menanti kita di depan sana, tentu bagi kita yang bersungguh sungguh dalam berusaha, dan tak terbuai dengan masa silamnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s