Berawal Dari Masjid

Posted: November 25, 2012 in Pemikiran
Tags: , , , ,

Bagi umat muslim, masjid merupakan tempat paling sakral di muka bumi. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat peribadatan, namun juga sebagai tempat penentuan kebijakan yang berkaitan dengan kemaslahatan umat. Tuhan pun memberikan keutamaan 27 derajat bagi hamba-Nya yang mau solat berjama’ah di rumah-Nya itu. Kewajiban bagi setiap laki-laki yang sudah baligh (puber) untuk segera berangkat ke masjid begitu azan berkumandang. Bagi wanita, keutamaan bagi mereka menunaikan solat di rumahnya, meskipun ke masjid pun tidak dilarang.

Tidak semua orang yang datang ke masjid bertujuan untuk menunaikan solat. Jika seseorang datang dengan pakaian takwa, peci, dan sarung, maka kemungkinan besar orang itu memang bertujuan ingin solat. Orang yang datang ke masjid dengan berpakaian kantor, biasanya selain solat, tujuan mereka setelah itu adalah istirahat atau tidur-tiduran. Adapula orang yang ke masjid berpakaian kumal, muka begitu kusam, badannya terlihat kotor. Biasanya mereka akan duduk di depan gerbang masjid, menadahkan tangan, lalu memelas, itulah pengemis. Jika begitu solat didirikan, sementara ada sesosok manusia yang duduk-duduk di teras masjid dengan pandangan yang suka menoleh kanan-kiri, maka hati-hatilah, karena kemungkinan akan ada sandal, helm, sepatu, atau kotak infak yang hilang. Biasanya terdapat orang yang membawa tas koper besar. Selesai solat dia terburu-buru keluar masjid sehingga lupa berzikir dan berdoa, lalu dia sibuk membuka tas kopernya sambil menata rapi barang bawaannya di halaman masjid, maka biasanya orang seperti itu pedagang sepatu atau pakaian keliling. Namun bila ia dengan sengaja membiarkan tas kopernya tergeletak di dalam masjid, maka waspada, jangan-jangan bom di dalamnya.

(Klik untuk info kain tenun tapis Lampung terlengkap)

Pada kesempatan yang lain ibu-ibu datang ke masjid dengan pakaian yang seragam, membawa rebana, lalu mengecek mikrofon dengan berkata, “tes, tes, tes,” maka siap-siap kita akan mendengar solawat dan kasidahan yang bertalu-talu dari corong speaker masjid. Paduan suara yang serasi, selaras, harmonis, namun tak dibarengi suara merdu. Ibu-ibu itu begitu percaya dirinya memamerkan suaranya di depan mikrofon, tanpa mempedulikan banyak orang disekitarnya yang telinganya begitu tersiksa. Pakaian ngaji mereka selalu seragam, pertanda mereka selalu kompak dan teratur. Bilamana diperintah, mereka siap siaga menjalankan perintah sebagaimana mestinya. Atas penilaian itu, mereka layak menjadi peserta kajian “Mama Dedeh”. Supervisor acara pun tak perlu lagi repot melatih mereka agar serempak mengucap “iya dong”. Selesai dari kajian “Mamah Dedeh”, ibu-ibu kompak itupun diundang tampil dalam kajian Ustadz Maulana. Supervisor acara pun tak perlu repot mengajarkan ibu-ibu itu agar serempak berteriak “Alhamdulillah…”. Itulah buah keteraturan dan keharmonisan. Setelah tampil di dua acara tv, saat keesokan harinya berbelanja di warung sayur, ibu-ibu itupun akan cerita tentang penampilannya di tv. Dari warung sayur, berita menyebar ke RT sebelah. Dari RT sebelah, lalu ke kampung sebelah. Dari kampung, lalu ke pasar. Penyebaran berita tidak penting itu terus melaju tanpa ada yang sanggup menghentikannya. Itulah sulitnya menjadi ibu-ibu. Sudah mengaji pun masih sulit menjaga lidah agar tak bergosip. Pagi hari mereka menyimak kajian Mamah Dedeh di Indosiar, Ustadz Solmed, Ustad Maulana, kamudian Mamah dedeh lagi di ANTV, namun sorenya mereka tak lepas dari Kiss, beralih ke Status Selebriti, dilanjutkan Cek dan Ricek, kemudian Silet, diakhiri hidangan Insert. Inilah gejala kepribadian ganda.

Sore hari, masjid akan ramai dengan anak-anak. Mereka datang ke masjid untuk belajar mengaji. Lekuk-lekuk huruf hijaiyah yang rumit itu sedikit demi sedikit mereka pelajari. Awalnya memang terbata-bata, namun lama-kelamaan akan makin terdengar merdu bacaannya. Setelah lancar membaca Al-Qur’an, ayat demi ayat pun mulai dihafal. Itu gambaran ideal pembelajaran anak-anak di masjid. Realitanya, gambaran ideal itu banyak yang melenceng pada praktiknya. Sungguh senangnya anak-anak beramai-ramai datang ke masjid untuk belajar mengaji. Namun apa jadinya saat ditanya gurunya, “anak-anak, siapa yang belum solat?”, lantas seluruh santri mengangkat tangannya sebagai pertanda mereka belum menunaikan rukun Islam kedua itu. Tiba-tiba guru shock dan segera pingsan ditempat. Sang guru pun siuman, kemudian berusaha menenangkan diri. Ia menghibur diri dengan memaklumi ulah anak didiknya yang tidak solat karena mereka memang belum masuk usia wajib solat. Waktu demi waktu sang guru terus memaklumi tindakan indisipliner anak didiknya dari menunaikan solat. Nyatanya, ketika anak didiknya sudah masuk wajib militer pun, mereka tak kunjung komitmen mendirikan solat. Sang guru menyesal, namun tetap bangga pada anak didiknya yang begitu merdu melantunkan ayat suci. Jadilah sang guru tersenyum puas melihat anak didiknya berdasi, akan tetapi selalu lupa memakai celana.

Begitulah masjid dengan ragam fenomena dan peristiwa yang terjadi di dalamnya. Masjid adalah rumah Allah. Namun sayangnya, banyak orang sulit membedakan rumah Allah dengan gedung DPR. Bukti nyata bahwa lebih banyak sandal dan sepatu yang hilang di masjid dibanding di gedung DPR. Tapi biarlah, semua orang pun paham, di gedung DPR, memang bukan sepatu atau sandal yang sering dicuri, tetapi uang rakyat yang dicuri. Ah, barangkali pencuri uang rakyat di gedung DPR itu menganggap dirinya seperti Robin Hood. Ia mencuri uang, lalu memberikannya untuk rakyat miskin. Jika Robin Hood menyerahkan hasil curiannya tanpa mengharap balas, namun pencuri di gedung DPR itu sangat mengharap foto wajahnya banyak dicoblos pada masa pemilihan berikutnya. Biarlah, dunia memang semakin aneh, seakan samar antara masjid dengan gedung DPR. Orang berbondong-bondong ke gedung DPR menuntut perbaikan kesejahteraan. Sementara di masjid, rumah Allah, suasana begitu sepi dari tangis dan permohonan doa. Seandainya saja ceramah Ustadz Yusuf Mansur tentang “Allah dulu, Allah lagi, Allah terus” didengar seantero negeri, tentulah gedung DPR akan sepi dari demonstrasi, rakyat pun tak perlu lagi memilih anggota DPR. Dengan begitu, gedung DPR pun akan kosong, segala ruang menjadi kosong, sehingga jin dan demit menjadi penghuninya. Jin dan demit menarik perhatian para dukun yang amat terobsesi dengan kesaktian. Jadilah gedung DPR sebagai tempat pertapaan yang teramat menyeramkan. Gedung DPR pun membuat penasaran para pecinta klenik dan mistis macam Tukul Arwana. Keangkeran itu lalu ditayangkan secara eksklusif dalam acara Mister Tukul Jalan-Jalan. Kabar keangkeran gedung DPR kian tersebar. Rakyat pun kembali berbondong-bondong ke gedung DPR mengharap perbaikan nasib. Namun kali ini rakyat berharap pada dedemit agar bermurah hati membantu mereka yang seumur hidupnya tak pernah diperhatikan anggota dewan.  Dulu, didepan anggota dewan, rakyat berorasi dengan berteriak-teriak dan menendangi jeruji pagar. Sebaliknya dihadapan dukun, mereka memohon dengan takzim sambil membawakan sesaji. Semakin jelas nampak, rakyat ternyata lebih menghormati dukun daripada anggota dewan. Sementara itu kesepian tetap melanda masjid. Kalaupun ada orang yang menadahkan tangan, memelas, dan memasang tampang meringis, maka biasanya orang itu bukan berada di dalam masjid, tapi di halaman masjid, merekalah pengemis. Pengemis itu keanehan tersendiri. Mereka mengemis dengan khusyu’ kepada orang-orang yang lalu lalang, namun dirinya sendiri tak pernah mengemis khusyu’ dihadapan Tuhan. Barangkali mereka telah putus asa menanti jawaban Tuhan yang tak kunjung turun.

Dunia ini memang semakin aneh, mungkin pertanda kiamat kian dekat. Kiamat kian dekat seringkali diucapkan. Anehnya, pengucapnya pun tak kunjung mempersiapkan diri menghadapi kiamat. Ia asyik bersabda tentang kiamat, sementara ditangannya terdapat botol bertuliskan Anggur Cap Orang Tua. Luar biasa, orang tua macam apa yang mengajarkan anaknya mabuk-mabukan. Kiamat yang begitu dahsyat dampak kerusakannya ternyata seringkali hanya menjadi bahan gurauan. Sementara kebakaran di Tanah Abang, orang sudah gila sampai meratap-ratap dan menampar-nampar. Di masjid pun sama, sudah biasa terdengar canda-tawa. Tengoklah di gedung DPR, pejabat seperti wakil presiden, menteri, jenderal polisi, bahkan panglima TNI sekalipun tertunduk kaku dan sulit tersenyum. Jelas nampak, para pejabat itu begitu ketakutan dihadapan anggota dewan, sedangkan buruh, mahasiswa, rakyat jelata berani berteriak dan memaki anggota dewan. Siapakah yang pemberani? Pejabat atau rakyat biasa?

Tidak perlu heran jika nyatanya dunia memang aneh. Di negeri ini, konser dangdut, penontonnya akan begitu ramai hingga memenuhi stadion Gelora Bung Karno. Tampaknya wajar, sebab sang pedangdut akan tampil dengan mengenakan pakaian yang didesain seminimalis dan setransparan mungkin. Terlihatlah tonjolan-tonjolan seksi dari tubuh sang pedangdut. Penonton terlihat jelas bernafsu menatap area tonjolan itu, akibatnya mereka pun berjoget sambil menahan laju dongkraknya yang terus naik tanpa sanggup dikendalikan. Sang pedangdut pun demikian fasih mengucap lafaz zikir “Alhamdulillah, Subhanallah, Allahuakbar” bersamaan dengan goyang patah-patah, ngebor, kayang, atau gergaji. Sebenarnya para pedangdut itu lebih layak disebut sebagai tukang gali sumur. Berbeda nasibnya para ustadzah yang berusaha menutup wajahnya karena alasan tuntutan syar’i. Ustadzah seperti mereka itu, acaranya selalu sepi. Sangat jarang orang yang berminat dengan acaranya. Padahal mereka berusaha mengajak orang-orang kembali pada jalan yang benar. Orang-orang malah berlarian dari ajakan mereka, sebab takut dianggap keturunan radikalis bin ekstrimis bin fundamentalis bin teroris! Namun sang ustadzah bercadar tetap bersyukur masih ada satu-dua orang yang mau mendengar petuahnya. Tak jarang kajiannya tanpa dihadiri seorang pun. Acapkali justru cicak, nyamuk, kecoa, tokek, dan laba-laba yang bersemangat sebagai pendengar setianya. Toh, walaupun sepi, ustadzah bercadar tetap ikhlas dan datang kembali mengisi kajian dikesempatan berikutnya. Sang ustadzah rela datang tanpa dibayar. Sementara pedangdut itu, mereka tetap cemberut walau telah menerima honor. Oh, ternyata, pedangdut kurang puas dengan bayaran yang dianggap tak setimpal dengan pengorbannya yang rela habis-habisan mengumbar aurat dan syahwat dikhalayak ramai. Itulah anehnya dunia ini. Ternyata orang-orang lebih senang berada di tengah konser seronok dan dicap maksiat, daripada datang ke masjid walau dicap teroris!

Entah kapan masjid akan kembali masa kejayaannya. Perlu dikembalikan lagi fungsi masjid yang sesungguhnya, sebagaimana diajarkan baginda nabi dulu, yaitu tempat ibadah, musyawarah, dan belajar. Tempo dulu, saat istilah universitas belum dikenal, masjid adalah pusat pendidikan yang melahirkan ilmuwan jempolan. Namun lihatlah sekarang, masjid tak ubahnya hanya sebagai tempat pertaubatan orang-orang yang sedang mengalami penderitaaan. Setelah deritanya dicabut Tuhan, mereka pun tak lagi datang ke masjid. Tentunya yang lebih mengenaskan lagi, sering orang mampir ke masjid hanya untuk buang hajat. Tak perlu heran, beberapa masjid pun sering nampak pasangan bukan mahram berpeluk mesra. Mereka ini, pasangan muda-mudi yang otaknya kembali menjadi otak monyet, tampaknya sudah sulit membedakan antara masjid dengan hotel mesum!

Mungkin, kejayaan masjid akan datang pada masa Imam Mahdi. Saat itu, kaum muslimin berada dalam perlindungan kekhalifahan yang berjalan di atas minhajul nubuwwah, metode nabi. Semoga saja, saat menunggu kedatangan Al-Mahdi, tidak ada umat Islam yang keburu beralih menjadi pengikut Dajjal. Apalagi, jangan sampai ada umat Islam yang justru bercita-cita agar kelak salah seorang keturunannya adalah Dajjal. Lebih tidak pantas lagi kalau ada umat Islam yang berhasrat menjadi pencipta Dajjal. Mari berharap yang baik, semoga kita bisa mati sebelum bertemu Dajjal. Jikalau harus bertemu Dajjal, semoga kita dikuatkan agar tidak terkena fitnah Dajjah. Jika tanda-tanda Dajjal nyatanya belum datang, maka jangan menipu umat dengan menjadi Dajjal palsu. Jangan merepotkan umat, karena segelintir pendusta tengik yang ada di gedung DPR pun sudah sangat menyusahkan. Andaikata engkau bertemu Dajjal, maka jangan dilawan dengan berdusta, sebab yang kau hadapi itu adalah bos besarnya para pendusta.

Seandainya ditengah jalan engkau berpapasan dengan Dajjal, segeralah masuk masjid, jangan ke gedung DPR. Kalau Dajjal membuat hidup kau susah, datanglah ke masjid, usah demo ke gedung DPR. Jika kau begitu mudahnya dikelabui akal busuk anggota dewan, maka Dajjal lebih pandai lagi mengelabuimu. Dajjal takkan gentar dengan gertakan anggota dewan. Tetapi beberapa anggota dewan justru gemetar dengan gertakan penyanyi dangdut. Kalau anggota dewan pandai bersandiwara, maka Dajjal pandai berkonspirasi. Barangkali, jika saja gedung DPR itu selesai direnovasi seluruhnya, maka bisa jadi gedung itu akan menjadi incaran utama Dajjal untuk dijadikan markas besarnya. Bilamana gedung DPR jadi markas besar Dajjal, tiada sanggup anggota dewan melarikan diri kecuali ke toilet, maka direnovasilah bagus-bagus jamban mereka itu. Jika Dajjal berani masuk masjid, maka dia harus bertarung dulu dengan malaikat bila ingin telapak kakinya menyentuh masjid. Namun apabila seumur masjid itu hanya ramai kalau ada acara tahlilan, sementara solat lima waktu kadang ada kadang tidak, jangan harap ada malaikat disitu, barangkali gendoruwo, sundal bolong, dan kuntilanak yang berkeliaran.

Malu kiranya jika masjid kian sepi ditengah kerumunan manusia. Populasi manusia terus bertambah dari waktu ke waktu, selalu suplus, tiada stagnan apalagi defisit. Artinya, jumlah kelahiran selalu lebih banyak daripada kematian. Namun sayang, jama’ah di masjid tak kunjung bertambah walaupun penghuni bumi ini terus meningkat. Ini berarti terdapat korelasi negatif, semakin banyak penduduk, semakin sedikit jama’ah masjid. Bisa jadi tuntutan zaman yang kian sulit menjadikan frekuensi kerja terus bertambah. Namun tiadakah waktu sejenak untuk meluangkan waktu memakmurkan masjid walau hanya solat lima waktu. Nikmat nian kita saling kenal, berjabat erat, berpeluk kuat setelah solat jama’ah di masjid. Ukhuwah terjalin dan ikatan iman terajut karena sepanjang waktu perjumpaan diawali dan diakhiri dengan salam di tempat yang penuh berkah. Dari masjid, kita menabur benih-benih cinta yang senantiasa tumbuh di dalam kalbu. Tatkala cinta itu tumbuh besar dan mengakar kuat, dimanapun kita berada, cinta itu takkan goyah meski diterjang badai. Musnahlah segala bentuk prasangka buruk, kedengkian, ataupun dendam, karena rasa cinta yang begitu tulus dan kokoh. Bilamana kebangkitan ukhuwah itu bermula, tentu semuanya berawal dari solat jama’ah di masjid.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s