Kedua Kakiku

Posted: November 25, 2012 in Ceritaku
Tags: , , , , ,

Alur kakiku melangkah cepat. Ayunan tangan pun kian menggebu. Diikuti pula dengan irama detak jantung yang semakin kencang. Aku bergerak cepat. Gerak tubuh yang cepat, namun padu dan serasi, menjadikan tubuhku serasa aerodinamis melayang di udara. Aku senang berlari. Berjalan pun cepat, tak peduli dijalanan yang datar atau mendaki. Ingin kuterus berlari mengejar waktu, melawan teriknya matahari, dan menembus hempasan angin.
Ikal, tokoh utama dalam novel Sang Pemimpi pun suka berlari. Mungkin sama-sama berlari, tapi berbeda tujuan antara aku dengan Ikal. Jika Ikal berlari agar tepat waktu sampai di sekolah, sedangkan aku biasanya berlari karena sudah terlanjur telat masuk kuliah. Tapi kami sama, suka berlari. Memang, terkadang rasa iri hinggap di dalam hati. Melihat teman-teman dengan mobilisasi yang tinggi bisa bergerak kesana-kemari hanya dengan duduk manis di atas sepeda motor. Atau, terkadang ingin tidak terkena derasnya hujan dengan asyik berada di dalam mobil.

(Klik untuk info kain tenun tapis Lampung terlengkap)

Keinginan-keinginan seperti itu seringkali datang, ketika rasa syukurku mulai menghilang. Hingga pada suatu hari, Tuhan memperlihatkan betapa agungnya nikmat kedua kaki yang telah Ia berikan kepadaku. Pada saat itu, aku berdiri di sebuah shelter Trans Jogja sambil mengamati seseorang dengan kursi rodanya. Orang itu dengan susah payah mengerahkan tenaganya memutar kursi rodanya. Petugas shelter pun turut mengamatinya. Dengan pandangan yang saling berpandangan, petugas shelter sudah memahami, orang tersebut ingin bepergian dengan menggunakan Trans Jogja. Lalu ia pun memasuki shelter dengan bantuan sang petugas. Ketika bus Trans Jogja datang, ia pun masuk dengan bantuan dari petugas kondektur bis.

Pandanganku memang berpaling dari menatapnya. Tapi hatiku terus mengamatinya. Pikiranku terus merenungi, sangat tidak bersyukurnya aku terhadap karunia Tuhan. Seringkali aku melupakan kenangan indah yang tercipta melalui gerak langkah kakiku ini. Dengannya aku berlari ke kampus, mendaki puncak gunung, dan berenang ditepian pantai. Disaat SMA, sepulang sekolah aku biasa melangkah diatas ubin-ubin trotoar menuju terminal. Semasa SMP dulu, seusai sekolah, dengan kakiku ini aku menelusuri rel kereta api yang melintas ditengah kota. Ketika SD, kakiku tidak kenal lelah menjelajah ramainya jalanan dengan mengayuh sepeda. Kenangan-kenangan itu tak mungkin ada jika kakiku ini lumpuh tak bergerak.

Setelah peristiwa itu, baru kurasakan betapa berharganya kedua kakiku ini. Kakiku ini yang telah mengantarkanku melihat indahnya dunia. Dengan keduanya pula aku merasakan betapa kokohnya bumi. Kini aku ingin terus bergerak dengan kedua kakiku. Akan ku lupakan kenyamanan berada diatas kendaraan beroda. Tak ku hiraukan lagi derasnya hujan, sengatan matahari, ataupun terpaan debu. Aku bahagia dengan berjalan diatas panasnya aspal. Aku merasakan nyaman berlari disempitnya trotoar. Tak boleh kulupakan dan haruslah aku syukuri nikmat yang sangat besar ini. Aku ingin dengan kedua kakiku ini berlari, mengejar, dan mendaki mimpi-mimpi. Mimpi-mimpi yang masih teramat jauh dan begitu tinggi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s