Memilih Pilihan

Posted: November 25, 2012 in Pemikiran
Tags: , , , , ,

“Dengan sujud dan bicara tanpa makna, aku muak dengan kemegahan palsu kelenteng pualam.” (syair dari seorang pujangga terkemuka, Muhammad Iqbal)

Kehidupan seperti apakah yang kita pilih. Terkadang kita dihadapkan pada kebingungan untuk menentukan tujuan hidup. Hidup adalah jalan pilihan yang mesti kita tempuh. Tiap pilihan itu, tentu dengan konsekuensi yang harus berani kita hadapi. Tidaklah mudah untuk menentukan jalan hidup. Kesalahan berarti sebuah penyesalan yang mungkin sangat sulit termaafkan, karena hidup tak akan terulang untuk yang kedua kalinya. Hidup merupakan bilangan satu, tunggal. Jika ia telah hilang, maka tak tergantikan, pupus, dan lenyap.
Kehidupan memang menyajikan bermacam cobaan dan ujian. Setiap hari, bahkan detik, manusia selalu dihadapkan pada suatu problema. Entah itu sepele, hingga yang berat bertubi-tubi. Ada manusia yang bersabar, bahkan mungkin ada juga orang yang justru menertawakan cobaan yang ia hadapi. Bahkan ada pula yang diliputi kecemasan, berada diambang keputusasaan. Namun apapun tingkatan cobaan yang dialami seseorang, tetaplah hal itu sebagai bagian dari konsekuensi jalan hidup yang ia pilih.

(Klik untuk info kain tenun tapis Lampung terlengkap)

Menjadi manusia seutuhnya adalah pilihan, atau ingin menjadi manusia malaikat, itu pun pilihan. Sebagai sebuah pilihan juga menjadi manusia binatang dan manusia iblis. Itu semua pilihan, kita yang menentukan. Namun tetap pada sebuah kaidah, yang mungkin muncul dari sebuah perasaan yang egoistis, bahwa tentukan itu, dan setiap resiko yang dihadapi haruslah ia tanggung sendiri. Janganlah salahkan siapapun. Karena siapapun mereka, orang lain yang berada disekitarnya, tetap keputusan berada pada dirinya sendiri. Perlu diingat bahwa orang lain pun boleh saja menghakimi kita, jika perbuatan yang muncul dari pilihan hidup kita justru membuat orang lain merasa gundah dan tak nyaman akan kehadiran kita berada didekatnya.

Itulah kita disaat ini, di era demokrasi. Penuh dengan kebebasan, liberal, dan lepas aturan. Semua terserah pada kita. Hak-hak individu dilindungi dalam balik perisai HAM. Lakukan apapun, tiada yang menghalangi. Norma tak mampu lagi menembus perisai itu. Segala bentuk perilaku gender, orientasi seks, ruang publik, hingga keyakinan pun bebas diputarbalikkan sesuai kondisi hati. Tidak ada yang mungkin mengekang, semua berjalan bebas sebagaimana adanya, tanpa hukum, terkecuali hukum rimba.

Kita disini, dan pada saat ini dapat dengan mudahnya melihat laki-laki berpayudara. Menjamurnya cinta sesama jenis. Kebebasan ekspresi, bergaya tanpa busana di depan kamera, merebak luas, menyebabkan hati yang masih suci begitu merasa miris. Keyakinan sesat begitu mudahnya dibuat-buat, teramat mudah, hingga nabi palsu pun terus menerus bermunculan. Suatu sistem dan ajaran yang telah mapan dengan gampangnya diinterpretasi ulang dengan logika kontekstual. Semua orang bebas berekspresi dengan sesuka hati. Setiap yang menghalangi, berarti ia telah masuk batas intervensi. Dalam hal ini, ranah liberal, intervensi adalah terlarang.

Akal dibiarkan liar, perilaku pun bebas berbuat segalanya. Bebas dalam alam rimba, yang dihuni populasi manusia, dalam suatu komunitas yang bernama dunia. Dunia memang semakin memilukan. Perang tak kunjung henti. Kedamaian seolah tinggal sejarah, yang meninggalkan sisa-sisa dalam keadaan yang porak poranda. Segala macam harga kebutuhan melonjak naik, mahal, kecuali nyawa manusia. Nyawa manusia menjadi tak memiliki nilai, sehingga mudah direnggut walau hanya dengan sebutir peluru. Manusia terjebak dalam kebebasan, sebuah pilihan hidup untuk melekat pada kerakusan diri. Haus akan darah manusia, tertawa atas setiap nyawa yang terbang melayang. Begitu pula pada alam yang mungkin kini merintih, hanyut dalam tangis akibat ulah manusia yang mengoyaknya serta mencabik-cabiknya dengan serakah. Manusia terbelenggu dalam ambisi, memperkaya diri tanpa peduli alam lestari.

Haruskah seperti ini dunia kita. Kebebasan begitu dipuja. Kehidupan menjadi liar tanpa kendali. Mungkin memang itu yang selama ini kita dambakan, sebuah kebebasan. Kita benci pengekangan, tak mau terpenjara dalam jeruji norma-norma. Dan itu memang pilihan kita, dan kita pula yang akan merasakan dampaknya. Menyakitkan, itulah dampak yang mungkin dihadapi. Namun perlu diketahui, kita tak boleh menyalahkan orang lain, karena kita sendirilah yang memutuskan pilihan itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s