Menembus Belantara Nalar

Posted: November 25, 2012 in Pemikiran
Tags: , , , , , ,

Kawan, apa kiranya yang kalian pikirkan tentang Indonesia tercinta ini lima puluh tahun ke depan? Aku yakin, pasti ada di antara kalian yang akan berpikiran optimis. Barangkali para optimistik ini memperkirakan Indonesia di masa depan akan menjadi negara adidaya menggantikan Amerika. Mungkin juga, Indonesia akan menjadi pusat segala kemajuan sains, budaya, industri, pertahanan, sosial, pendidikan maupun ekonomi. Dengan berpikiran optimis, kita bisa berandai-andai, kampus terbaik tak lagi berlokasi di Inggris atau Amerika, tapi berada di Salemba, Jalan Ganesha, atau Bulaksumur. Namun bagaimana bagi para penganut pesimistik? Tentu mereka berpikir bahwa lima puluh tahun ke depan, Indonesia kemungkinan masih berkutat pada krisis ekonomi, korupsi, kemiskinan, dan pengangguran. Pengangguran? Ah, kata itu lagi. Seperti hantu saja kata itu, menakutkan. Pengangguran, kata itu memang menyeramkan, tapi ada kemungkinan yang lebih buruk yang bisa saja terjadi pada bangsa ini. Bayangkan olehmu, bagaimana jika lima puluh tahun lagi tak ada negara yang bernama Indonesia! Disintegrasi! Gawat, sungguh gawat! Perlu kalian ketahui Kawan, saat ini aku memang pengangguran, tapi bukan berarti aku berputus asa dengan nasibku yang tak kunjung membaik ini. Maksudku, tak berarti karena lamaranku selalu ditampik perusahaan dalam negeri, sehingga aku sakit hati, lantas aku melamar jadi anggota GAM, RMS, atau OPM, kemudian menjadi terobsesi untuk menjadikan Indonesia bubar, bukan itu. Aku tetap cinta Indonesia. Perkara aku selalu ditampik perusahaan dalam negeri, itu perkara mereka yang tidak mampu melihat diriku sebagai sosok yang loyal, pintar, pekerja keras, ulet, tidak sombong, dan rajin menabung. Inilah bahayanya penganut aliran pesimistik, melihat suatu objek perkara selalu dari perspektif negatif. Oleh sebab itu, kusarankan kalian, jauhilah wartawan infotainment.

Dalam perenunganku, alangkah banyaknya negara baru yang bisa terbentuk jika bangsa ini terpecah belah. Barangkali, akan muncul negara baru seperti Nangroe Aceh Darussalam, Republik Rakyat Batak, Republik Sosialis Minangkabau, Kerajaan Melayu Riau, Republik Demokratik Bengkulu, Kesultanan Lampung, Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat, United States of Borneo, Kekaisaran Bugis, atau United Kingdom of Papua.

(Klik untuk info kain tenun tapis Lampung terlengkap)

Itulah bahayanya terlalu lama menganggur. Pelaku menjadi terlalu banyak merenung. Acapkali, perenungannya itu menelikung batas-batas norma dan etika. Ketika merenung, maka pelaku biasa secara sengaja membiarkan pikirannya menembus batas waktu guna menemukan kebahagiaan dalam pikirannya itu. Ada di antaranya yang berusaha mengingat kembali keindahan di masa lalu, ada pula yang berimajinasi hingga melesat ke masa depan. Bagi perenung yang senang bernostalgia, mereka beranggapan bahwa masa lalunya begitu manis, dan hidup yang sedang dijalaninya saat ini teramat pahit. Sedangkan bagi perenung yang senang berangan-angan, itu lebih karena masa lalu, serta saat hidupnya kini, tiada yang bisa ia banggakan, jadilah ia berharap masa depan bisa memberinya harapan kesenangan. Hebatnya lagi, merenung bisa menjadikan objek yang tidak ada menjadi ada. Terdapat perbedaan signifikan antara tukang angan-angan dengan innovator. Perbedaan utamanya yaitu, pada tukang angan-angan, ia tidak akan pernah berusaha meraih atau mewujudkan objek yang tergambar dalam pikirannya tentang masa depan. Lain halnya dengan innovator, pikirannya melesat hingga ke masa depan, namun mereka berusaha mewujudkan objek yang tertangkap dalam pikirannya tentang segala kemungkinan yang akan terjadi di masa yang akan datang. Jika tak ada sosok innovator seperti Thomas Alva Edison, maka jadilah kita selalu hidup dalam masa kegelapan, tanpa lampu. Dan apa gunanya seseorang dipanggil orang pintar (baca: peramal) namun hanya banyak berkhayal, sementara ia sendiri tak mampu menghilangkan kata “Bodo” dari namanya.

Dalam tiap perenungan, tidak selalu seseorang mendapatkan kebahagiaan. Seringkali mereka malah mengalami stress tingkat tinggi. Tekanan tinggi itu disebabkan pikirannya telah memasuki zona prediksi negatif. Perenung yang mendapat kebahagiaan, mereka selalu berpikir masa depannya akan cerah, secerah pagi di musim kemarau. Sebaliknya, perenung yang tersiksa, selalu meramalkan hidupnya kelak akan melarat, miskin, kelaparan, terlilit utang, atau dihinggapi banyak penyakit. Seseorang yang pikirannya memasuki zona prediksi negatif, melihat dirinya senantiasa diintai oleh kemungkinan-kemungkinan buruk berupa segala macam kesengsaraan. Keberanian memasuki zona prediksi negatif dapat berakibat fatal. Akibat terburuk tentunya menjadi komplotan orang sinting di jalanan yang selalu disalaki anjing rabies, sedangkan dampak teringan setidaknya menjadi pecandu obat Bodrex. Maka kusarankan, jauhilah pikiranmu dari zona prediksi negatif. Kalaupun engkau nekat memasuki zona itu, janganlah berlama-lama berada di sana, bahaya!

Hal yang lebih berbahaya dari zona prediksi negatif, yaitu zona alam ghaib. Tampaknya memang mistis, namun ku peringatkan keras, jangan sekali-kali pikiranmu memasuki zona sangat terlarang itu. Usahlah sekali-kali engkau memikirkan bentuk rupa jin, iblis, atau setan. Bila nyatanya dirimu penakut, siap-siaplah engkau mengidap schizophrenia, atau minimal menjadi phobia. Jangankan ditempat gelap seperti kuburan, berada di rumah sakit siang bolong pun bisa membuatmu takut karena pikiranmu akan terasosiasi pada suster ngesot. Jika ada pelawak yang juga meminati dunia mistis, maka dirinya berpotensi terkena gejala gila dua alam, yaitu gila di dunia maupun di akhirat. Tiada perlu pula memikirkan Tuhan. Ku yakinkan, Tuhan akan selalu baik-baik saja tanpa perlu engkau pikirkan. Dia sudah pasti ada tanpa perlu repot-repot dibuktikan dengan segala bentuk percobaan eksperimen. Jika nekat memikirkan ada-tidaknya Tuhan, kemungkinan terburuk adalah bakal gantung diri dengan tali jemuran, atau minimal menjadi penghuni seumur hidup rumah sakit jiwa.

Tidur merupakan cara paling jitu mengendalikan pikiran. Dengan tidur, berarti kita secara sengaja tidak memfungsikan otak untuk berpikir. Bisa jadi hipotesisku ini salah. Tapi, apakah bisa seseorang yang tertidur pulas sambil memikirkan sesuatu? Alhamdulillah ya, sepertinya tidak bisa. Jika masih memikirkan sesuatu, berarti kita belum tertidur pulas. Namun, janganlah tidur terlalu lama. Resiko terburuk tidur terlalu lama adalah tidak bisa bangun lagi, sedangkan resiko teringan yaitu tak kunjung mendapat pekerjaan.

Bila bangsa ini semakin maju, berharap saja penggangguran akan berada pada titik terendah 0%. Betapa ruginya bangsa ini membiarkan bertumpuk-tumpuk generasi mudanya dibiarkan menganggur. Disaat negara lain, seperti Jerman dan Jepang bingung digerogoti oleh kaum tua, justru bangsa ini membiarkan potensi kaum mudanya terlunta-lunta. Semoga tiada lagi yang tersiksa dengan pikirannya sendiri. Jika engkau masih menganggur, tetaplah bersyukur, setidaknya engkau diberi Tuhan banyak waktu untuk berimajinasi. Tetaplah bersyukur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s