Merajut Asa

Posted: November 25, 2012 in Ceritaku
Tags: , , , ,

Syukur selalu terucap tatkala mata menatap mentari. Waktu terus berganti seiring kegelapan yang beralih terang. Cahaya membangkitkan umat manusia dari lelapnya yang begitu panjang. Kehidupan kembali berjalan, bersamaan dengan bunga-bunga yang mulai bermekaran. Dinginnya malam pun sirna dengan kehadiran hangatnya pagi. Daun tak lagi meneteskan embun bersamaan sinar yang kian terik, mungkinkah ini pertanda air mata duka segera berganti air mata kebahagiaan. Sorot sinar mentari menyiratkan bahwa seberat apapun kehidupan, sekelam apapun jalan yang pernah dilalui, selalu akan ada secercah harapan. Begitulah filosofi kehidupan, di belahan bumi manapun, pekatnya malam selalu silih berganti dengan cerahnya mentari. Tiada sungai yang tak mengalir, tiada samudera yang tak berarus, tiada laut yang tak pasang-surut, tiada pantai yang tak berombak; hidup tak pernah statis maupun stagnan, namun selalu bergerak mengikuti dinamika ketentuan dan takdir yang telah Tuhan gariskan untuk setiap hamba-Nya.

Inilah kisah makhluk ciptaan Tuhan yang mampu terbang di angkasa dan menjelajah bumi tanpa terhalang oleh batas alam. Kala pagi kembali hadir, burung-burung beterbangan mengepakkan sayapnya memburu karunia Tuhan. Perut mereka yang keroncongan tidak menyurutkan keyakinan bahwa Tuhan nanti sore pasti akan menjadikan perut mereka kenyang. Mereka pun terbang ke arah yang mampu dituju. Kemanapun itu, di belahan bumi manapun, disana selalu ada benih rejeki yang telah Tuhan taburkan. Burung selalu yakin mampu menembus angin yang kencang. Mereka tak takut tersesat ditengah luasnya langit. Nalurinya tak pula resah apalagi berkeluh resah tentang rezeki yang telah ditentukan. Dirinya tiada terhadang oleh badai yang datang menerjang. Tubuhnya terus berayun memburu takdir diantara kilatan-kilatan petir. Hujan yang mengguyur tidak menyiutkan nyalinya untuk berteduh. Burung-burung itu tahu, rezeki telah menanti. Nyatanya, rezeki yang tak terduga selalu saja menghampiri. Waktu terus berlanjut, burung-burung itu pun kian yakin, Tuhan takkan pernah menghianati mereka.

(Klik untuk info kain tenun tapis Lampung terlengkap)

Burung-burung bahagia hidup di alam bebas. Kebahagiaan tak terperi mampu terbang menjelajah seantero bumi. Demi ritual migrasi, mereka rela menempuh jarak beribu mil, berhari-hari, dan hanya sesekali berhenti. Tak terlintas untuk menyerah meski ancaman kematian terus menghantui. Burung-burung itu, begitu teguh mengikuti nalurinya. Tiada mereka mempertanyakan ketentuan Tuhan yang teramat berat ini. Beribu mil mesti ditempuh sepanjang tahun, dengan resiko mati tercabik oleh mulut pemangsa. Hanya dengan berbekal naluri dan keyakinan, burung-burung itu terus melaju dan menembus awan hingga pemberhentian akhir di belahan bumi yang lain.

Disaat makhluk lain yang bernama manusia berperang demi memperebutkan sumber daya alam, burung dengan eloknya terbang tanpa dihinggapi rasa takut kekurangan makanan. Sebaliknya, manusia sampai rela mencuri, membunuh, memfitnah, dan membantai demi memenuhi hasratnya terhadap sepiring makanan. Sepiring makanan yang tak hanya sekedar mengenyangkan perutnya, namun juga memenuhi nafsunya terhadap kekuasaan. Segenggam biji telah cukup menjadikan burung bersyukur pada Tuhannya. Akan tetapi sepiring makanan tidak menjadikan hasrat manusia puas. Sepiring makanan mendorong ambisi untuk meraih keinginan yang lebih tinggi lagi. Ketakutan akan keterbatasan sumber alam sanggup mendorong manusia untuk bertempur hingga titik darah penghabisan. Pada sisi ini, barangkali naluri burung lebih beradab dibanding akal manusia. Seringkali akal yang terbatas ruang pikirnya dipaksa untuk memasuki zona ketuhanan yang takkan pernah mampu dijangkau oleh indera makhluk manapun. Manusia hanya diminta oleh Tuhan sebagaimana perintah-Nya pada burung, yaitu berusaha. Manusia diwajibkan untuk untuk berusaha sebaik-baiknya, namun tak dipaksa untuk berhasil. Oleh karenanya, masalah kadar rezeki yang akan diperoleh, maka serahkan semuanya pada kuasa-Nya. Dalam hal kebahagiaan, boleh jadi burung menjadi makhluk yang paling bahagia. Sebaliknya manusia, jiwa mereka acapkali sakit karena selalu dilanda kegundahan atau dirudung kecemasan. Naluri membimbing burung untuk senantiasa bertawakal, kepasrahan diri yang tinggi. Sedangkan akal manusia seringkali memberontak, bahkan selalu mempertanyakan ketentuan Tuhan.

Barangkali kita harus banyak belajar bagaimana burung menjalani hidupnya. Sebelum manusia mengenal jam kerja 8 jam, ternyata burung sudah menerapkan jam kerja. Burung mencari makan di pagi hari dan kembali ke sarangnya saat waktu menjelang sore. Sebelum manusia bisa terbang ke angkasa, maka burung telah menjelajah seisi dunia. Dalam banyak hal, terutama ketawakalan, manusia masih harus belajar kepada burung. Jika ketawakalan pada setiap insan begitu kokoh, maka tiada lagi istilah gila, stress, frustasi, depresi, cemas, ataupun takut. Tawakal adalah sumber kebahagiaan, karena menyandarkan kehidupan kepada Sang Pemilik Kehidupan. Jiwa yang bahagia tentu akan menjadi jiwa yang sehat. Jiwa yang sehat akan membentuk manusia berperilakuan yang baik. Manusia berperilakuan baik akan membentuk masyarakat yang beradab. Masyarakat yang beradab akan membentuk kebudayaan yang bernilai tinggi. Kebudayaan yang bernilai tinggi merupakan pintu bangsa menuju negara dengan puncak kejayaan dan kedigdayaan. Hanya Tuhan yang tahu, apa yang baik untuk kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s