Penguasa yang Lalai

Posted: November 25, 2012 in Pemikiran
Tags: , , , ,

Indonesia, yang tercinta. Bangsa kaya yang menyimpan kandungan alam yang berlimpah ruah. Hutannya pun luas yang ditumbuhi pohon-pohon besar nan rindang. Aneka ragam habitat pun ada, disertai berupa-rupa fauna hidup disana. Pesona alam yang elok menghampar luas dari ujung barat Sumatera hingga timur Papua. Variasi budaya yang unik pun teramat banyak jumlahnya. Bangsa Indonesia memang sudah selayaknya disebut sebagai surga dunia.
Sayangnya, kekayaan bangsa ini seolah menjadi petaka. Indonesia menjadi arena perebutan kekuasaan bangsa-bangsa adidaya. Sekian abad bangsa ini terjajah oleh keserakahan bangsa Barat. Begitu lamanya rakyat Indonesia merasakan perihnya tusukan tombak dan serpihan peluru. Sudah jutaan nyawa melayang demi membela harkat dan martabat bangsa ini. Ribuan pahlawan telah gugur karena mengusir penjajah yang semena-mena mengeksploitasi kekayaan bangsa ini. Kini pun, disaat bangsa ini sudah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, perubahan tak kunjung ada. Bangsa Indonesia tetap miskin seperti dulu. Sumber daya Alam bangsa ini tak juga bisa sepenuhnya dinikmati rakyat. Tetap saja bangsa asing yang terus menggerogoti hutan, laut, dan perut bumi Indonesia. Semenjak dahulu hingga sekarang, hanya sedikit saja kekayaan Indonesia yang bisa dinikmati rakyatnya.

(Klik untuk info kain tenun tapis Lampung terlengkap)

Mayoritas rakyat Indonesia terus saja hidup dalam kesengsaraan. Bayi-bayi mungil pun banyak yang tak mendapatkan gizi yang layak. Mereka hanya makan seadanya, karena orang tuanya miskin, tak mampu membelikan yang terbaik untuk mereka. Bayi-bayi mungil itu menjadi korban dari kemiskinan orang tuanya, hidupnya selalu saja terancam dalam marabahaya. Jika tak digugurkan kala masih dalam kandungan, terlahir ke dunia pun mereka diperjualbelikan. Kalau pun mereka diasuh orang tuanya, kelak mereka juga harus membantu orang tuanya mengais rezeki dijalanan. Mereka menderita, padahal mereka berpijak diatas tanah, yang didalamnya terdapat logam, minyak, dan gas yang begitu melimpah.

Kerusakan sosial terjadi secara merajalela. Terlalu banyak jumlahnya gadis-gadis belia yang terjun dalam bisnis hina. Demi obsesi meraih kepuasan material, gadis-gadis belia itupun menukarkan paras wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang elok dengan sejumlah lembaran uang kertas. Angka pencurian pun terus meningkat. Tak pandang bulu siapapun dan dimanapun, pencurian tetap bisa terjadi. Mulai kandang sapi bahkan parkiran kantor polisi pun maling tetap bisa mencuri. Tak peduli jemuran hingga perhiasan menjadi barang incaran para pencuri. Itulah setitik gambaran mengenai potret kemiskinan yang menghinggapi mayoritas rakyat bangsa ini.

Duhai sang penguasa, rajin-rajinlah engkau tengok derita rakyatmu itu. Mengapa terus saja engkau banggakan keberhasilanmu yang sebenarnya tak seberapa itu. Patut diakui, engkau duhai sang penguasa mendapat banyak kesuksesan, namun usahlah kau bangga-banggakan didepan rakyatmu. Keberhasilanmu yang tak signifikan itu, hanya semakin mengelabui dirimu. Engkau akan semakin terbuai. Masih banyak, bahkan jutaan rakyatmu yang berebut untuk mendapatkan jatah zakat. Bahkan mereka pun harus mengorbankan nyawanya hanya demi 2,5 kg beras. Padahal engkau seringkali bertuah diatas mimbar, bahwa Indonesia telah berhasil meraih predikat swasembada pangan. Namun mengapa duhai penguasaku, rakyatmu masih harus berdesak-desakan dan berebut sekantong plastik beras zakat. Bahkan masih ada rakyatmu yang harus mengais sisa-sisa beras yang berjatuhan dijalanan. Bahkan banyak pula rakyatmu yang demi sepotong daging kurban, rela mengantri hingga demikian lamanya. Duhai penguasaku, mengapa itu masih terjadi? Bukankah engkau banggakan perekonomian bangsa kita demikian hebatnya? Mampu berdiri tegak ditengah hantaman krisis global? Sering pula engkau katakan ekonomi kita terus merangkak naik? Tapi ternyata, apa yang kau gembor-gemborkan itu, jauh dari fakta yang tersedia dihadapan mataku.

Duhai penguasaku, lihat pula calon-calon penerus bangsa ini. Bayi-bayi lucu itu ternyata tersenyum pun sulit. Terus saja mereka hanya bisa menangis. Perut mereka dihinggapi keroncongan yang teramat perih. Tubuh mereka pun demikian lemah terbaring dipangkuan ibunya. Gizi mereka tak terpenuhi. Mereka kelaparan. Tak sedikit dari para bayi itu yang mengalami nasib yang sama dipelosok tanah air kita ini.

Duhai penguasaku, coba tataplah wajah-wajah buruh itu. Mereka tak pernah tenang dalam kenyamanan. Bekerja pun kesejahteraan mereka tetap sangat memprihatinkan. Apalagi sewaktu-waktu ketika perusahaan tempat mereka bekerja dililit pailit, para buruh itulah yang pertama kali akan dikorbankan.

Duhai penguasaku, amatilah mata anak-anak miskin namun berotak cemerlang itu. Mereka sulit masuk perguruan tinggi. Biaya terlalu mahal. Semangat mereka yang demikian menjulang, tertebas pedang tajam yang bernama kemiskinan. Terpaksalah akhirnya mereka mengubur cita-citanya.
Namun, lihatlah duhai pejabat-pejabatmu itu. Mereka selalu merongrongmu dengan kenaikan upah demikian tinggi. Hal yang sungguh menyakitkan hati rakyatmu. Padahal, setiap hari mereka sudah menunggangi kendaraan mewah yang baru saja dibeli. Belum lagi fasilitas yang demikian eksklusif dan memiliki standar para eksekutif tentunya. Bekerja pun belum seberapa, namun mereka sudah menuntut hak yang tak sebanding dengan kinerjanya. Apakah ini duhai penguasaku? Para pejabatmu itu menuntut rumah baru yang mewah, padahal disaat yang bersamaan, rakyat yang memilih mereka pun hidup dipemukiman kumuh. Mereka pun masih dihantui dengan penggusuran yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Inilah potret yang seringkali terlupakan. Kalaupun teringat, itupun disaat akan menghadapi pemilihan umum. Rakyat jelata itu begitu disanjung, namun dilupakan selanjutnya. Sehabis manis, pahit pun ditendang.

Duhai penguasaku, realitas demikian nyata dihadapan mata kita. Jutaan, bahkan puluhan juta rakyatmu hidup dalam kesengsaraan. Ku harap, usahlah engkau terbuai dengan prestasimu itu. Perlulah engkau membaca sosok Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pada masanya, rakyat pun hidup sejahtera hingga tak ada satupun rakyatnya yang mau menerima zakat. Selain itu pun, pada masanya, keamanan begitu terasa hingga kawanan kambing tak perlu takut berdampingan dengan srigala. Namun duhai penguasaku, Umar bin Abdul Aziz selalu rendah hati. Tak pernah ia membangga-banggakan keberhasilannya itu dihadapan rakyatnya. Ia selalu diliputi dengan kerendahhatian. Sekarang bandingkan duhai penguasaku, keadaan bangsamu ini dengan keadaan Jazirah Arab pada masa Umar bin Abdul Aziz. Tentu bagaikan langit dengan palung bumi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s