Sampai Batas Mana, Hembusan Nafas Kita

Posted: November 25, 2012 in Pemikiran
Tags: , , , , ,

Kita tak pernah tahu, kapan kehidupan ini akan berakhir. Akhir merupakan suatu keniscayaan, namun kapan itu terjadi, tak pernah ada yang mengetahuinya dengan pasti. Bagaikan gunung yang tak diketahui puncaknya, ibarat palung yang tak diketahui kedalamannya. Perjuangan dalam hidup ini memang membutuhkan nafas yang panjang, doa yang tak terputus, serta langkah yang tak pernah berhenti.

Kita tidak pernah meminta untuk dilahirkan di dunia ini. Namun mengeluh, tiadalah guna. Kita terlanjur keluar dari rahim ibu kita. Penyesalan, untuk apa arti dari penyesalan. Kita telah terlahir, dan kini menginjak bumi. Berbagai onak dan duri, halang dan rintangan telah menanti untuk menusuk-nusuk tubuh kita. Menyesal, mungkin ada sedikit rasa penyesalan terlahir ke dunia yang sesak ini. Namun sekali lagi, usahlah itu dipikirkan.

(Klik untuk info kain tenun tapis Lampung terlengkap)

Hidup tak pernah lepas dari cobaan. Suka adalah cobaan, duka pun suatu cobaan. Lalai dalam suka, dapat menjerumuskan kita pada kemaksiatan. Sementara larut dalam duka bisa menghanyutkan kita pada kekufuran. Sungguh hidup, tiada nilai yang pasti. Semuanya adalah nisbi, tidak jelas, abstrak, relatif.

Perjalanan hidup kita selalu saja diliputi tuntutan-tuntutan, entah dari lingkungan sekitar, orang tua, ataupun orang-orang terdekat kita. Kita selalu dituntut untuk melakukan ini dan itu. Satu tugas selesai, maka akan muncul tuntutan yang lain. Namun pada sisi lain, kita tak boleh menuntut orang lain. Ini adalah sisi paradoks kehidupan. Hidup kita diatur sedemikian rupa, namun kita tidak boleh mengatur orang lain. HAM, itu katanya, setiap orang berhak untuk menentukan nasibnya sendiri, dan orang lain pun tidak boleh turut campur dalam urusan kehidupannya.

Adakalanya, keberadaan kita ditengah-tengah manusia seolah tidak berharga. Hasil kita kerja diremehkan, atau pemikiran kita seakan hanya angin lalu. Kita seakan budak yang bisa dipaksa dengan tuntutan-tuntutan manusia, tapi mereka sendiri acuh, tidak  menghargai, tiada yang peduli. Disaat seperti itu, hanya kita, yang bisa memahami diri kita sendiri. Dan hanya kita yang bisa mengharga idiri kita sendiri.

Lalu,apakah kematian menjadi pilihan yang terbaik? Ternyata tidak. Kematian pun tak lebih baik dari kehidupan. Alam barzah tidaklah lebih indah dari dunia. Kematian menjadi sangat menyeramkan jika kita tidak memiliki amal yang bisa dipertanggungjawabkan. Alam barzah bukanlah solusi migrasi bagi orang yang berputus asa hidup didunia. Justru, alam barzah merupakan ajang punishment bagi mereka yang telah hilang harapan hidup di dunia, lalu memutuskan untuk menyegerakan kematiannya. Kita bukanlah ateis yang tidak mengakui eksistensi kehidupan alam ghaib. Kita juga bukan Marxis, yang menganggap ajaran agama sebagai candu. Kita adalah muslim yang meyakini adanya kehidupan setelah kematian, adanya akhirat setelah  dunia ini. Seringkali, kita merasakan putus asa, beban kehidupan yang demikian berat. Namun apabila dihadapkan pada kematian, kita pun merasa gentar dan takut, karena menanggung beban dosa yang melimpah. Dilema, hidup selalu dihadapkan pada dua pilihan, yang pilihan satu dengan pilihan lainnya tampaknya berbeda ,namun sebenarnya sama-sama menyakitkan dan menakutkan.

Kesabaran merupakan kunci keberhasilan hidup. Hidup bukanlah jalan tol yang beralur lurus dan bergestur mulus. Namun sebaliknya, hidup adalah menapaki jalan yang terjal, berbatu, dan berliku. Badai datang tanpa disangka, cobaan siap menghampiri setiap waktu. Hanya dengan kesabaran, manusia mampu bertahan. Tanpanya, manusia hanya akan diliputi keputusasaan. Apalagi menghadapi masa depan yang tak pernah pasti, penuh dengan utopia, impian dan khayalan, kita pun dituntut untuk memiliki kesabaran yang besar. Entah sebesar apa, manusia memang membutuhkan kesabaran yang absolut, tanpa batas.

Kesulitan apapun, akan selalu ada asa, akan selalu ada cahaya di depan sana. Setinggi apapun gunung, akan selalu ada ujung puncaknya. Demikian pula, sedalam apapun palung laut, akan selalu ada ujung dasarnya. Badai yang mengamuk akan selalu berakhir reda. Kilat yang menyambar bertubi-tubi pun akan ada batasnya. Pendakian setinggi apapun akan selalu mencapai puncaknya. Jalan kehidupan pun tak selamanya berliku. Cobaan akan senantiasa berlalu. Tiada cobaan yang abadi. Kesulitan selalu diapit oleh dua kemudahan, dan setelah kesulitan akan diikuti oleh datangnya kemudahan pula.

Tulisan ini merupakan buah perenungan dari suatu kegagalan yang amat menyakitkan. Buah dari peristiwa, dimana hasil jerih payah tidak lagi dihargai. Disaat, manusia tidak lagi peduli, memahami, apalagi menghargai hasil pemikiran orang lain. Dikala, pengorbanan tidak lagi diapresiasi, kerja keras disepelekan, serta tidak adanya penghargaan terhadap potensi. Namun pada saat yang sama, tuntutan terhadap diri kita pun semakin besar. Tuntutan untuk tidak menuntut, karena orang lain pun memiliki kesibukan masing-masing. Persaudaraan yang apatis, hubungan sosial yang semu.

Atau mungkin, tulisan ini adalah bentuk kecengengan, karena ketidaksanggupan menahan sakitnya tusukan duri-duri kehidupan. Atau juga, bentuk kelemahan, karena ketidakmampuan menghadapi badai cobaan. Atau mungkin, bentuk ketergesa-gesaan, karena sebenarnya kita belum mengetahui hikmah dibalik kegagalan tersebut. Terlepas dari itu semua, dikala manusia seakan berjalan pada fase makhluk sosialis menuju fase makhluk individualis, maka kita hanya membutuhkan satu sandaran, yaitu Tuhan. Kalaupun manusia tidak lagi peduli terhadap kita, selama Tuhan bersama kita, itu adalah jauh lebih baik. Mungkin pada saat Ramadhan ini, moment yang tepat untuk mengasingkan diri, menempa jiwa, menitikkan air mata, memohon, bermunajat pada Ilahi, merengkuh rahmat-Nya, bersujud dan menghinakan diri dihadapan-Nya, guna menata kembali serpihan-serpihan jiwa yang telah runtuh. Semoga bangunan serpihan-serpihan itu, nantinya, bukan lagi sebuah rumah yang rapuh, akan tetapi menjadi benteng yang kokoh dan tangguh. Mungkin cobaan ini, merupakan ujian dari Tuhan untuk mengetahui, sampai batas mana hembusan nafas kita, seluas apakah hamparan kesabaran kita, dan sekuat apakah benteng keimanan kita. Ya Allah, mampukanlah hamba-Mu yang hina ini. Kuatkanlah hamba-Mu yang lemah ini. Kokohkanlah hamba-Mu yang rapuh ini. Ya Rabbi, karuniakanlah hamba cahaya guna menerangi kegelapan ini. Berikanlah hamba kelapangan setelah kesempitan ini, serta kebahagiaan setelah kesedihan ini. Amiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s