Sosok Bunda

Posted: November 25, 2012 in Ceritaku
Tags: , , , , ,

Kita semua mungkin sepakat bahwa orang yang paling berjasa dalam hidup kita adalah ibu kita. Ibu yang telah melahirkan, membesarkan, mendidik, dan membimbing kita. Tiap tetes keringatnya, hanya diperuntukkan untuk buah hatinya. Walaupun tubuhnya lelah, namun ibu tak pernah berkeluh kesah. Disaat sedih, ibu sembunyikan tangisnya. Iba baginya jika anaknya turut menanggung derita.
Cintanya mengisi tiap-tiap sudut rumah kita. Menciptakan kedamaian dan kebahagiaan di dalam rumah kita. Kasih sayangnya menembus dan merasuk ke dalam hati suami dan anak-anaknya, membangun harmonisasi dan ketentraman dalam rumah tangga.
Namun, seberapa besarkah penghargaan kita terhadap jerih payah ibu kita? Tidaklah mungkin kita mampu membalas cinta-kasihnya. Hendaknya tiap diri kita sadar, ibulah yang paling berhak mendapatkan bakti kita. Segunung emas pun tidak akan mampu membalas jasa baiknya. Bahkan nyawa kita pun tidak akan sebanding dengan pengorbanannya. Ibu kita sudah lebih dulu mempertaruhkan nyawanya ketika melahirkan kita. Ibu juga yang lebih dulu merasakan sakit ketika berusaha mengeluarkan tubuh kecil kita dari rahimnya. Namun, ibu tak pernah mengeluh. Ibu kita tidak pernah mengharap balas jasa dari anak-anaknya.

(Klik untuk info kain tenun tapis Lampung terlengkap)

Kita, bagaimana dengan kita? Kita sebagai anaknya. Tiap bakti kita selalu saja tersisipi keluh kesah. Sulit hati ini ikhlas, dengan senang hati untuk berbakti. Jahatnya, mungkin tiap uluran tangan kita, masih saja berharap balas budi. Sulitnya untuk berbuat dengan tulus dan ikhlas. Riya’ pun acapkali hinggap dalam amalan kita. Segelintir dari kita pun enggan untuk mengabdikan diri pada ibu kita dimasa senjanya. Tidak mau, atau tidak sanggup memikul beban ibu di saat tua. Tapi dulu, ibu telah memikul hidup kita untuk sekian lama. Sejak pertama kita menatap dunia, bahkan hingga kini, saat kita dewasa.
Kita seringkali melupakan kebaikan ibu kita. Pikiran picik dan tak tahu diri kadang hinggap dibenak kita. Betapa kejam, sudah tak lagi menghiraukan nasehat ibu lagi. Disebabkan ibu tidak pernah mencicipi pendidikan tinggi. Kita merasa tinggi. Lupa, padahal dulu ibu yang memotivasi kita belajar, mengantar ke sekolah, dan mencucikan baju seragam kita. Ditiap sujudnya, tak lupa ibu mendoakan kita. Memohon pada-Nya agar anak-anaknya menggapai cita-cita tertinggi. Namun sekali lagi, kita memang sering lupa. Dan ibu tak marah pada kita.

Bunda Kita Multitalenta

Mungkin, ibu kita hanya berpendidikan rendah. Namun ibu kita multitalenta. Sejumlah skill profesi, ibu kita memilikinya. Kita takkan betah jika rumah kotor, berdebu, dan perabotan berserakan tak beraturan. Ibulah yang membersihkan rumah, menata perabotan, dan menjaga rumah disaat suami bekerja. Uang belanja diatur dengan secermat mungkin. Pendapatan dan pengeluaran diatur dengan sebaik-baiknya. Ibu menguasai ilmu debit dan kredit, layaknya seorang akuntan. Ibu juga tempat curahan hati anak-anaknya. Sandaran keluh kesah suaminya. Ajang konsultasi para tetangga. Ibu seperti seorang psikolog. Disaat tatanan perabotan rumah membosankan, hati ibu akan resah. Takut suami tak betah dirumah. Perlu kiranya perabotan rumah tangga ditata dengan apik. Jika perlu, dirombak sepenuhnya. Taman rumah pun tak lepas dari penanganannya. Didesain ulang, perlu pula ditambah dengan bunga-bunga. Rumah rapi luar-dalam. Harmonis penataan interior dan eksteriornya. Ibu bekerja seperti arsitek. Panik, emosi ibu naik. Bagaimana tidak, anaknya ternyata tiba-tiba sakit. Namun tak boleh bimbang. Naluri ibu aktif, Otaknya bekerja. Mengidentifikasi, sakit apa anakku? Ibu sigap, diberikannya pertolongan pertama. Ibu layak diacungi jempol, bertindak seperti dokter. Ibu pun menunggui anaknya yang sakit. Tak tega anaknya ia tinggal. Tangannya cekatan. Responnya cepat. Ibu begitu disiplin mengingatkan anaknya untuk selalu minum obat. Tidak mengeluh walaupun dibangunkan tengah malam. Ibu memang perawat yang baik hati.

Suapan nasi, sayur, dan lauk-pauk yang masuk kemulut kita adalah ibu yang buat. Tangannya lihai memotong-motong sayuran, daging, atau ikan. Tangannya lihai mencampur bumbu dan sayuran diatas penggorengan. Variasi masakan ibu dikuasai. Suami dan anak-anak pulang, makanan telah siap saji. Ibu, koki yang hebat. Hati-hati, itulah pikiran ibu ketika memasak. Memilah-milah, bumbu apa yang layak diolah. Jangan sampai bahan pengawet dan kimia berbahaya tercampur dalam masakan. Vitamin, karbohidrat, zat besi, kalsium, lemak, dan protein dalam makanan perlu ditakar. Masakannya tidak hanya lezat, namun juga bergizi. Benar-benar seorang ahli gizi.

Pendidikan anak ada ditangan ibu. Pelajaran tidak hanya diberikan di sekolah, namun juga di rumah. Ibu membantu anak-anaknya mengerjakan tugas sekolah. Menjelaskan bahasan yang sulit dipahami. Ibu pula yang membangun karakter anak-anaknya. Memberi mereka teladan. Tiada henti diberikannya pendidikan budi pekerti, akidah yang lurus, ibadah yang benar, akhlak yang mulia, serta sopan santun. Dipahamkan anak-anaknya agar kelak mereka harus berjuang untuk agamanya. Ibu seorang guru sejati. Guru sepanjang masa.

Seorang ibu memang multitalenta. Terlalu banyak potensi terpendam yang belum terungkap kepermukaan. Demi suami tercinta, ibu harus selalu tampil menarik. Berbagai kosmetik, lipstik, dan parfum perlu dikoleksi. Tangan seorang seniman berkreasi indah diatas kanvas. Berusaha memadukan corak warna-warni agar harmonis dan serasi. Sedangkan tangan ibu berkreasi dengan wajahnya. Ia duduk khusyu’ didepan cermin. Berkreasi dengan bedak dan lipstik agar tampak serasi. Rambutnya pun tak luput dari perhatiannya. Sisir pun sibuk naik-turun merapikan rambutnya. Tak perlu menyewa tukang salon, ibu telah tampil menarik. Hanya untuk suami.

Kerja seorang ibu memang kompleks, banyak, dan melelahkan. Hingga pakaian anak pun tetap menjadi urusan ibu. Pakaian anak untuk sekolah, bermain, atau untuk dirumah pun ibu yang memilihkannya. Bahkan tak jarang, ibu yang merancang dan menjahitkannya. Anak tak perlu malu untuk bergaya didepan teman-temannya. Pakaian pilihan ibu sungguh indah. Layak dikenakan, pilihan dari seseorang yang ahli mode.

Kita akan diliputi rasa heran, kekuatan macam apa yang telah menopang tubuh ibu kita. Tubuhnya lemah, namun mampu mengerjakan banyak tugas kehidupan. Dalam sehari, seorang ibu bisa menempuh jarak sekian jauh. Berapa kali seorang ibu harus mondar-mandir dapur-sumur tiap harinya. Belum lagi keliling rumah untuk menyapu, mengepel, mencabut rumput, atau memangkas tanaman di halaman. Belum cukup, ibu masih harus mengantarkan anaknya ke sekolah, lalu belanja ke pasar, atau membeli keperluan lain di toko. Mungkin layak jika seorang ibu diikutkan dalam kejuaraan dunia atletik, lomba marathon.

Seorang ibu memang spektakuler. Layak baginya mendapatkan medali emas, Nobel, World Cup, piala Oscar, atau penghargaan bergengsi lainnya. Namun, itu semua tidak sebanding dengan tetes keringat dan lelah yang telah dikeluarkannya.

Sebuah Renungan

Kita tidak akan mungkin melupakan jasa seorang ibu. Dan tak mungkin terlupakan. Jasanya terlalu besar. Kita tidak akan sanggup menyelami kebaikannya. Kebaikannya begitu luas, bagai laut tak bertepi. Maka wajar jika ibulah yang paling berhak untuk mendapat bakti kita, bahkan hingga tiga kali lebih utama dibandingkan bakti kepada seorang lelaki yang bernama ayah kita. Sekali lagi, jangan lupakan jerih payah ibu kita.

Ibu telah merelakan nyawanya untuk menghadirkan kita ke dunia. Cukup satu Malin Kundang. Jangan muncul Malin Kundang yang lain. Walaupun itu sulit pada saat ini. Memang tak dipungkiri, pada era globalisasi ini banyak anak yang mewarisi gen Malin Kundang. Durhaka pada ibu. Lupa, bahwa ibunyalah yang berjuang agar ia bisa meraih cita-cita. Dan malu, disaat ia telah menjadi sarjana, kaya raya, dan orang terkemuka. Dianggapnya ibunya tidak lagi sederajat dengan dirinya.

Bagi kita, yang sadar arti pentingnya ibu dalam hidup kita, upayakan maksimal dalam pengabdian padanya. Kenang selalu jasanya. Mintakan doa melalui perantaraannya. Jika perlu, goreskan tinta diatas selembar kertas, lalu buatkan puisi untuknya. Jadikan lantunan dan elok bahasa sastra menyenangkan jiwanya. Menghujam kedalam lubuk hatinya. Jadikan puisi itu sebagai salah satu tanda cinta kita kepadanya. Jangan lupa senantiasa gunakan tutur kata yang lembut ketika berbicara dengan ibu kita. Buatlah ia selalu tersenyum. Senyumnya adalah tanda restu darinya. Tak perlu malu mengakui kesalahan dihadapannya. Mintalah maaf jika membuat amarahnya bergejolak.

Arti Penyesalan

Bersyukurlah, jika ibu kita masih ada. Duduk bersebelahan disamping kita. Masih ada waktu untuk berbakti kepadanya. Menuai pahala yang berlimpah tak terkira. Namun, entah bagaimana jika ibu telah tiada. Kita mungkin hanya menyesal dan meneteskan air mata. Belum mampu memaksimalkan pengabdian. Telah hilang lumbung pahala. Penyesalan sudah tiada guna. Jasad ibu sudah kaku, menyatu dengan tanah. Hati menjadi suram. Bibir pun turut bergetar. Tubuh lunglai lemas. Belum siap untuk kehilangan orang tercinta. Apa daya, takdir telah menimpa. Kita tak mengira, ternyata ibu begitu cepat meninggalkan kita. Cinta dan kasih sayangnya turut hilang menguap. Tidak ada lagi senyum, canda, dan tawa ibu di rumah. Disaat itulah, kita hanya mampu membangunkan romantisme dan kenangan kita. Kenangan tentang ibu kita. Rindu, ingin bernostalgia dengan ibu. Kita tidak lagi bisa menggandeng tangan ibu kita dan bermanja ria dengannya, kecuali dalam angan-angan. Kini yang ada hanya sedih. Hanya mampu mengungkapkan kebaikan-kebaikan ibu kita. Kebaikan yang sudah tidak bisa lagi kita rasakan. Kebaikan itu ikut terbawa seiring tercabutnya roh ibu kita. Tapi jangan berhenti untuk berbakti. Tiap doa dan amal sholeh kita begitu bermanfaat untuknya. Bermanfaat di alam sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s