Tempaan Jiwa

Posted: November 25, 2012 in Ceritaku
Tags: , , , ,

Keputusan hidup seringkali dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit yang selalu ada konsekuensi tersembunyi dibaliknya. Setiap keputusan yang diambil, terdapat ancaman resiko-baik besar maupun kecil, bagi kelangsungan hidup kita kedepannya. Hidup hanya satu kali, menjadi pecundang atau pahlawan, merupakan pilihan yang kita sendirilah yang memutuskannya. Pahlawan muncul karena ia memberanikan dirinya menghadapi rintangan yang terjal, badai cobaan, dan jalan yang berliku. Kesulitan demi kesulitan dihadapinya tanpa mengenal kata mundur. Ketakutan dan keputusasaan merupakan musuh yang selalu mengintainya ditiap menjalani langkah perjuangan. Perihnya derita tak pernah dirasa seiring janji kemuliaan yang akan diraih. Kemuliaan seakan menanti datangnya pahlawan yang telah gigih berjuang menghadapi kerasnya badai kehidupan.

Tertawa dalam derita, senyum saat susah menerpa, merupakan tabiat sejati seorang pahlawan.  Pahlawan memang tercipta dari hati yang terperisai baja, sehingga hantaman cobaan sekeras apapun tidak akan menjadikan kakinya melangkah kebelakang. Walaupun selama hidupnya selalu terpayungi duka, namun tak sepatah katapun keluh keluar dari lisannya. Hatinya enggan menjerit perih, wajahnya pun malu memelas kasih, tiada berharap uluran tangan manusia, karena baginya sudahlah cukup karunia dan pertolongan Tuhan yang Kuasa. Pahlawan tak pernah takut pada caci maki manusia, tak pula gembira dengan pujian mereka. Bertekuk lutut dihadapan manusia, sama saja membuat goresan luka pada bilik jantung kehormatannya.

(Klik untuk info kain tenun tapis Lampung terlengkap)

Sosok pahlawan selalu menunjukkan hasil kerja yang konkrit, bukan sekedar buah pikiran yang berwujud wacana. Bagi pahlawan, selangkah menapaki jalan terjal, lebih baik daripada hanya berangan-angan berdiri di atas awan. Dunia bukanlah negeri khayalan yang di dalamnya penuh dengan keindahan dan kenikmatan. Dunia adalah alam nyata, realitas kehidupan yang keras yang mesti ditaklukan oleh rasio yang cerdas, namun tanpa harus mematikan hati yang tertanam dilubuk sanubari. Pahlawan tidak akan menyesali keberadaannya di dunia ini, karena dunia adalah takdir yang telah ditetapkan Tuhan untuk dihadapi, bukan untuk ditangisi. Menangisi takdir adalah sikap yang muncul dari para pecundang, mereka hanya bisa mencela Tuhan, lalu berusaha lari dari kenyataan dengan menyegerakan kematian. Pahlawan selalu teguh menghadapi kerasnya kehidupan, pantang berbalik dikala perang berkecamuk. Kehidupan takkan luput dari selimut kegelapan, namun berhentilah mencela kegelapan, dan mulai nyalakan api (Anis Baswedan).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s