Nafsu, Laknat atau Berkat?

Posted: March 6, 2013 in Kejiwaan
Tags: , , , , , ,

Manusia merupakan sebuah gambaran makhluk hidup yang memiliki unsur pembentuk yang kompleks. Ia bukanlah seperti malaikat yang tidak memiliki nafsu, atau bukan seperti iblis yang tak mempunyai nurani. Dorongan nafsu, maupun pandangan nurani, keduanya dimiliki oleh setiap individu. Nafsu dan nurani merupakan dua kutub magnet yang saling berlawanan. Mereka saling tarik menarik dan saling mempengaruhi. Jika nafsu mampu mendominasi nurani, maka kehidupan manusia tak jauh bedanya dengan binatang, kebutuhan hidupnya takkan jauh dari pusaran perut dan kemaluannya. Sedangkan bila nurani berkuasa, manusia layaknya malaikat, menebar kebaikan dimuka bumi. Kebutuhan hidupnya bukan lagi sekadar pusaran perut ataupun kemaluan, akan tetapi lebih tinggi lagi, masuk dalam lingkup kebutuhan akan spiritualitas atau ruh. Sedangkan dalam Hirarkhi Maslow, orang seperti ini sudah layak berada pada tahap aktualisasi diri karena akalnya telah merdeka, lepas dari penjajahan nafsunya.
Manusia, memang dalam beberapa sisi lebih unggul daripada malaikat. Dalam melakukan suatu ketaatan, manusia membutuhkan perjuangan. Ia harus lebih dulu mampu mengalahkan nafsunya yang cenderung mendorongnya pada kelalaian serta kemaksiatan. Sedangkan malaikat, tidaklah memiliki nafsu, tetapi ia telah terkondisikan, terdoktrin, dan berperilaku secara otomatis sesuai kehendak Tuhan-Nya. Manusia pun dianugerahi kemampuan kognitif, akal, otak guna memikirkan problem solving yang mungkin ia hadapi dalam kehidupannya. Malaikat tidak dibekali kognitif, sehingga ia tidak mungkin membantah perintah Tuhan-Nya. Berbeda dengan manusia, walaupun lemah akan tetapi seringkali menantang perintah Tuhan-Nya, semua itu karena akalnya yang kelewat batas. Namun dengan anugerah akal inilah, manusia patut berbangga hati. Dalam sejarah awal kehidupan manusia, Adam, pernah mengajari malaikat di surga. Dan kita pun patut sedih, karena justru akibat dorongan nafsu, Adam diturunkan dari kenikmatan langit.

(Klik untuk info kain tenun tapis Lampung terlengkap)

Dalam kajian psikologi, nafsu mungkin masuk dalam ranah afektif. Mungkin tepatnya masuk dalam sub materi “drive”. Entahlah, tak begitu paham. Dorongan nafsu manusia memang lebih banyak mengarah pada perilaku negatif. Oleh karenanya, Tuhan mengancam manusia yang tidak mampu mengendalikan nafsunya dengan dosa, yang kemudian akan diasingkan ke suatu tempat bernama neraka, sedangkan hukum manusia memberi ancaman dengan pembatasan ruang gerak berupa sebuah ruang yang diberi julukan penjara. Namun toh, semua jenis pusnishment itu tidak serta merta menjadikan dunia bersih dari ulah usil manusia. Selalu saja ada pelanggaran disana-sini. Penjara justru penuh dihuni para napi yang jumlahnya berada diambang batas kapasitasnya. Ancaman panasnya neraka pun seolah hanya terbawa angin lalu. Bahkan manusia tak juga belajar dari berbagai adzab yang sering menimpanya. Demikianlah manusia, sosok makhluk kompleks yang sulit dipahami, bahkan ilmu psikologi pun dibuatnya kewalahan.

Nafsu memang tidak mungkin dihilangkan, namun bisa diredam dan dikendalikan. Ia akan selalu menjadi bagian dari diri manusia untuk selamanya. Justru karena adanya nafsu itulah, peradaban manusia terus berkembang seiring perkembangan zaman. Ketika akal dan nafsu berkolaborasi, maka akan selalu muncul perasaan ingin tahu dalam diri manusia. Hal itu akan memunculkan hal-hal baru atau inovasi yang mendukung perkembangan sains, teknologi atau ilmu pengetahuan pada umumnya. Dan sebaliknya, ketika nafsu dilepaskan secara liar, maka yang timbul adalah kerusakan, kehancuran, serta mengancam runtuhnya suatu peradaban. Yunani dan Romawi telah merasakan manisnya berada pada puncak peradaban. Mereka hidup dalam alam keilmuan yang berkembang begitu pesat. Namun, sesuai dengan siklus sejarah, peradaban yang berada dipuncak, maka sedikit demi sedikit akan mulai menemui masa ajalnya guna diganti oleh peradaban yang lain. Setelah merasakan manis, Yunani dan Romawi pun mulai merasakan pahitnya berada diambang kehancuran. Yunani hancur, demikian pula Romawi. Kehancuran mereka tak pelak disebabkan nafsu yang dibiarkan liar. Romawi misalnya, kehidupan moral masyarakatnya berada pada tingkat yang menyedihkan. Bila kita menengok kehidupan Amerika pada saat ini, mungkin tak berbeda jauh dengan Romawi dulu. Romawi diliputi oleh keangkuhan, perilaku seks yang tak terkendali, korupsi, hingga pembunuhan yang merajalela. Perang saudara pun tak terelakkan yang berujung pada pecahnya Romawi menjadi dua, Barat dan Timur. Bahkan Byzantium, sebutan Romawi Timur, imperium raksasa itupun harus takluk ditangan seorang panglima tampan nan perkasa, Muhammad Al-Fatih (semoga Allah selalu merahmatinya). Kini, Yunani dan romawi tinggal sebuah nama dalam sejarah. Mereka pun punah tertelan zaman.

Perjuangan, itulah simbol dari perlawanan manusia terhadap penjajahan nafsunya. Manusia harus merdeka, sehingga bisa mengendalikan kecenderungan nafsunya yang selalu mengarah pada perbuatan dosa. Nafsu dalam berbagai dimensinya, sebenarnya memiliki fungsi inti supaya manusia dapat survive, mempertahankan eksistensinya dalam kehidupan. Akan tetapi dari sisi yang lain, nafsu yang tidak dikendalikan justru dapat berakibat pada kebinasaan. Hingga Sigmund Freud pun menyatakan bahwa dalam diri manusia terdapat death instinct, membinasakan diri, mempertahankan keadaan anorganis. Death instinct, mungkin muncul akibat adanya libido, sebuah energi psikis, kata lain dari sebutan nafsu, dengan spesifikasi nafsu birahi. Nafsu inilah dorongan utama setiap tingkah laku manusia. Dalam teori Freud, perilaku selalu diasosiasikan dengan seks. Dan seks harus selalu dipenuhi. Seks merupakan bagian dari id, tabiat binatang yang ada dalam diri manusia. Ia akan selalu menuntut manusia untuk memenuhinya. Bila tidak, maka berakibat pada efek kecemasan. Akan tetapi, norma-aturan atau kata lain dari super ego membatasi keinginan id. Namun, manusia memiliki akal, nurani, atau iman, makna yang hampir senada dengan istilah ego yang berfungsi untuk meregulasi atau mengatur peran yang saling berlawanan antara id dengan super ego. Oleh karenanya, manusia dianjurkan untuk selalu memperkuat skill ego, terutama dalam meregulasi konflik yang terjadi dalam diri manusia. Dengan demikian, regulasi konflik yang benar akan berujung pada sebuah resolusi. Resolution of anxiety, istilah yang dipakai dalam teori psikoanalisis. Namun entahlah, karena aku pun tak begitu paham mengenai teori psikoanalisis.

Alam ini diciptakan Tuhan dalam keadaan yang seimbang. Demikian pula dalam proses penciptaan manusia, terdapat unsur keseimbangan di dalamnya. Nafsu menjadi penyeimbang dari unsur pembentuk manusia yang lain. Nafsu merupakan penggerak, pendorong, motivator dari setiap aktivitas manusia. Tanpa nafsu, manusia akan hidup dalam kehampaan, stagnan, mapan, dan stabil. Hal itu justru membuat manusia menjadi jenuh, merasakan kebosanan karena tidak adanya serba-serbi ataupun warna-warni kehidupan yang mendorongnya untuk mencicipi situasi yang menantang. Sehingga kita tidak bisa melulu menyalahkan keberadaan nafsu yang bersemayam dalam diri kita. Namun nafsu tetap harus berada dalam suatu kendali, karena jika ia dibiarkan liar, berdampak pada hancurnya eksistensi hidup seseorang baik dari sisi harkat maupun martabatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s