Makin Cantik Dengan Berjilbab?

Posted: May 19, 2013 in Pemikiran
Tags: , , , , , ,

Islam mewajibkan bagi para wanita untuk menutup auratnya. Pakaian penutup itu dikenal dengan jilbab. Jilbab tentu berfungsi tidak hanya untuk menutup aurat, namun juga menutup lekuk tubuh. Intinya, tujuan berjilbab adalag untuk menghilangkan celah-celah fitnah dan godaan. Barangkali, karena pada asalnya seluruh tubuh wanita dianggap indah, sehingga bisa menimbulkan semacam godaan bagi lawan jenisnya, maka diwajibkanlah bagi mereka untuk berjilbab. Oleh karenanya, para ulama pun, sangat ketat dalam menentukan kriteria jilbab syar’i. Semisal syaikh Bakr Abu Zaid, bahkan melarang jilbab yang terdapat hiasan pernak-pernik. Ulama-ulama Saudi pada umumnya malah mengharuskan para wanita agar menggunakan cadar. Memang banyak perdebatan, apakah wajah masuk dalam kategori aurat atau tidak. Tapi seperti diawal, bahwa tujuan jilbab, salah satunya, adalah untuk mencegah munculnya fitnah dan godaan yang mungkin muncul dari keindahan tubuh wanita itu sendiri. Memang yang pokok, tujuan seorang wanita berjilbab adalah menjalankan perintah Allah dan rasul-Nya. Itu yang utama. Perkara ada manfaat lain dari jilbab seperti adanya efek kemaslahatan sosial, kesehatan, maupun keadaban, itu adalah hikmah dari pelaksanaan syariat Allah.Tentu yang menjadi pertanyaan, bagaimana jika seorang wanita menggunakan jilbab justru penampilannya makin memikat dan mempesona (baca: cantik). Bolehkah seorang wanita memakai jilbab agar lebih cantik penampilannya? Ah, saya tidak ingin masuk dalam perkara memutuskan halal atau haram, sebab fatwa adalah wewenang para ulama. Namun jika pendapat pribadi, wanita yang menggunakan jilbab seharusnya semakin tidak cantik. Sebab tadi, jilbab memang tujuannya untuk menutupi bagian-bagian tubuh wanita yang bisa menarik perhatian lawan jenis. Barangkali pemikiran ini dianggap ekstrim, konservatif, atau radikal. Meski secara sikap, saya menganggap seorang wanita yang menggunakan jilbab ‘gaul’, itu lebih baik karena sudah menutup auratnya. Makanya, daripada memarahi, malah bikin ngambek, trus malah pakai pakaian mini, lebih baik bersabar, sedikit toleransi.

(Klik untuk info kain tenun tapis Lampung terlengkap)

Namun menarik bahwa merebaknya jilbab sebagai tren fashion, disebabkan model dan warna jilbab yang semakin variatif. Model-model jilbab terus berkembang beserta aksesorinya. Jilbab pun penuh warna-warni, yang menjadikan pemakainya semakin fashionable. Mungkin ini, salah satu sebab yang menjadikan pemakai jilbab melonjak drastis. Alhamdulillah.

Tentunya fenomena merebaknya jilbab dalam kehidupan masyarakat, menjadi kebanggaan dan kebahagiaan adanya kesadaran masyarakat untuk kembali pada syariat Islam. Memang belum ideal sebagaimana mestinya, namun setidaknya, ada secercah harapan akan tegaknya penerapan syariat di masa mendatang. Patut disyukuri perkembangan yang ada, daripada stagnan, tidak ada perubahan. Barangkali fenomena jilbab gaul ini adalah cara agar syariat Islam bisa diterima kembali oleh masyarakat dengan sedikit memodifikasi cara penyampaiannya, tanpa mengurangi esensi. Walaupun saya tetap beranggapan, perlunya upaya untuk memahamkan masyarakat tentang esensi penggunaan jilbab.

Memang dilema para aktivis dakwah. Seringkali jika langsung dipaksa untuk mengikuti syariat sesuai aturan baku, masyarakat banyak yang sulit menerima. Tetapi jika dimodifikasi sedikit, meski dengan adanya beberapa pengurangan, masyarakat bisa menerimanya. Sungguh dilema, sangat dilema. Aktivis dakwah dipaksa harus memilih, kualitas atau kuantitas. Jika memilih kualitas, keharusan menjalankan syariat sebagaimana adanya, resikonya hanya segelintir orang yang sanggup mengikuti ajakannya. Namun jika memilih kuantitas, biasanya dengan melakukan sedikit pengurangan-pengurangan dari  standar syariat yang ada. Efeknya biasanya akan banyak pengikutnya. Tetapi, namanya ada pengurangan, pahalanya tidak dapat full, berkahnya tidak full, pertolongan dari Allah juga tidak full. Tapi upaya yang ada harus dihargai.

Daripada hanya sekedar mengkritik, baiknya diikuti dengan aksi intensif. Perubahan tentu sebuah jalan panjang yang membutuhkan energi besar. Jika hanya sibuk berdebat, maka energi terbuang sia-sia. Komat-kamit juga butuh energi. Oleh sebab itu, lebih baik introspeksi dan beraksi dengan giat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s