Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab

Posted: January 7, 2014 in Biografi
Tags: , , , , ,

Semenanjung Arabia

Menurut bahasa, Arab berarti padang pasir, tanah gundul, dan gersang yang tidak terdapat air serta tanaman. Wilayah Arab memiliki beberapa nama, di antaranya yaitu Jazirah Al-‘Arab (pulau Arab) dan Ardh Al-‘Arab (bumi Arab). Sedangkan pada saat ini, wilayah Arab lebih dikenal dengan nama Al-jazirah Al-Arabiyah (semenanjung Arab). Semenanjung Arab adalah semenanjung terbesar di dunia. Semenanjung ini dikelilingi oleh tiga lautan, yaitu Laut Merat di Barat, Teluk Arab di Timur, serta Laut Yaman di Selatan. Bangsa Arab kemudian membagi wilayah mereka berdasarkan bentuk bumi, iklim, dan jenis vegetasi, sehingga terbentuklah lima wilayah yang meliputi:

  1. Wilayah Tihamah. Biasa juga disebut dengan nama Ghaur atau Ghaur Tihamah, keduanya memiliki makna yang sama.
  2. Hijaz.  Hijaz kota membentang dari pinggiran Mekah hingga Madinah Utara. Kemudian Tabuk yang meliputi daerah Bani Sulaim, Waqim, Laila, Syauran, dan daerah Nar. Sedangkan Hijaz pinggiran merupakan wilayah yang dibatasi oleh pegunungan Sarah. Sarah secara bahasa bermakna puncak. Pegunungan ini membentang dari gunung Tatslits hingga Thaif di Utara. Dengan demikian, di wilayah Hijaz ini terdapat dua kota suci Islam, yaitu Mekah dan Madinah.
  3. Najd. Wilayah ini di antaranya meliputi Da’iyah, Uyainah, Riyadh, dan Huraimala. Wilayah Najd sebelum kehadiran dakwah syekh Muhammad bin Abdul Wahab diliputi oleh ritual-ritual bid’ah, khurafat, dan kesyirikan. Di sana banyak terdapat kuburan-kuburan, pohon-pohon, batu, serta gua yang dijadikan sebagai tempat ritual peribadatan bid’ah.
  4. Arudh, disebut juga Yamamah.
  5. Oman. Beberapa pendapat ahli memasukkannya ke wilayah Yaman.

(Klik untuk info kain tenun tapis Lampung terlengkap)

Keadaan Najd Pada Masa Kekhalifahan Utsmani

Najd pada masa Kekhalifahan Utsmani tidaklah mendapat perhatian yang besar. Selain itu, pemerintahan Utsmani juga tidak memiliki kekuasaan langsung terhadap Najd. Kekuasaan Utsmani di Semenanjung Arabia hanya meliputi Yaman, Hijaz, dan Bahrain. Pengaruh Utsmani terhadap Bahrain menjadi terputus ketika pemimpin Bani Khalid, Barrak bin Gharir, menetapkan otonomi Bahrain dari pemerintahan Utsmani pada tahun 1080 Hijriah. Najd pada masa itu secara tidak langsung berada dibawah kekuasaan penguasa Bahrain. Bahkan, Najd cenderung menjadi ajang perebutan antara penguasa-penguasa (amir) yang berada di sekeliling wilayah setempat. Oleh karenanya, Pemerintahan Turki memang tidak memiliki pengaruh terhadap Najd. Walaupun pada tahun 986 Hijriah hingga 1108 Hijriah, ada sejumlah tokoh yang berusaha menguasai beberapa wilayah di Najd. Namun, mereka tidak mendapat pengaruh yang besar di sana. Hanya beberapa orang saja yang kemudian tunduk kepada pemerintahan Turki. Itupun, pemerintahan Turki tidak turut langsung menangani permasalahan internal wilayah Najd. Otoritas kekuasaan, hukum, dan ekonomi berada dibawah amir wilayah tersebut. Sehingga, tidaklah benar anggapan sebagian sejarawan yang menyatakan bahwa syekh Muhammad bin Abdul Wahab dan pemerintahan Saudi memberontak, berusaha memerdekakan diri dari kekuasaan Kekhalifahan Turki.

Menurut syekh Kamil Muhammad Uwaidhah, pertentangan antara syekh Muhammad bin Abdul Wahab dengan Kekhalifahan Utsmani dipicu oleh upaya musuh-musuh dakwah syekh Muhammad bin Abdul Wahab untuk menghalangi dakwah beliau. Musuh-musuh beliau memprovokasi Kekhalifahan Utsmani agar memberangus dakwah syekh Muhammad bin Abdul Wahab yang dianggap sebagai ancaman terhadap tradisi keagamaan di Mekah dan Madinah.

Ketakutan pemerintahan Utsmani pun semakin besar disebabkan Dinasti Su’udiyah yang merupakan penopang dakwah syekh Muhammad bin Abdul Wahab berhasil menguasai Najd, Amman, Irak, dan sebagian wilayah Syam. Hal tersebut tentu mengancam kekuasaan Kekhalifahan Utsmani. Apalagi ketika Dinasti Su’udiyah berhasil menguasai Mekah pada 1218 Hijriah, maka Kekhalifahan Utsmani melakukan upaya politik baik melalui pendekatan diplomatis maupun agresif. Upaya diplomatik dilakukan dengan mendekati ulama-ulama agar mereka menulis karya-karya yang berisikan penentangan terhadap dakwah syekh Muhammad bin Abdul Wahab. Sedangkan upaya agresif dilakukan dengan cara memerintahkan Muhammad Ali, penguasa Mesir pada saat itu, agar memerangi Dinasti Su’udiyah.

Syekh Muhammad bin Abdul Wahab

Syekh Muhammad bin Abdul Wahab lahir pada tahun 1115 Hijriah di Uyainah, Negeri Najd, Semenanjung Arabia, dan wafat pada 1206 Hijriah. Beliau bernama lengkap Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid bin Barid bin Musyrif An-Najdi At-Tamimi.

Syekh Muhammad bin Abdul Wahab menganut mazhab Hambali. Ia banyak mengkaji pemikiran Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Misi dakwah syekh Muhammad bin Abdul Wahab adalah berupaya untuk menghilangkan kebodohan, bid’ah, tahayul, kesyirikan, dan perpecahan, yang pada masanya itu banyak terjadi pada kaum muslimin. Oleh karenanya, syekh Muhammad bin Abdul Wahab banyak mengingkari dan menentang orang-orang yang berbuat bid’ah, menghilangkan adat istiadat yang bertentangan syari’at, menebang pohon-pohon yang dikeramatkan, dan menghancurkan bangunan-bangunan yang didirikan di atas kubur.

Pada awal dakwahnya, syekh Muhammad bin Abdul Wahab mendapat banyak dukungan dari masyarakat Uyainah. Di tempat ini pula, syekh Muhammad bin Abdul Wahab mengamankan diri dari ancaman orang-orang yang membenci dakwahnya. Walaupun pengikut dakwahnya semakin besar jumlahnya, namun hal tersebut diikuti pula dengan ancaman yang semakin gencar terhadap syekh Muhammad bin Abdul Wahab. Oleh karenanya, pengikut syekh Muhammad bin Abdul Wahab meminta Muhammad ibnu Sa’ud untuk melindungi beliau. Muhammad ibnu Sa’ud bersedia memberikan perlindungan pada syekh Muhammad bin Abdul Wahab. Dengan adanya kerjasama antara Muhammad ibnu Sa’ud dengan syekh Muhammad bin Abdul Wahab inilah, maka dakwah syekh Muhammad bin Abdul Wahab berkembang pesat di Jazirah Arab.

Istilah wahabi yang selama ini dikaitkan dengan paham syekh Muhammad bin Abdul Wahab, umumnya diberikan oleh pihak-pihak yang berseberangan dengan beliau, walaupun kemudian sebutan wahabi memang populer digunakan untuk menyebutkan paham yang dibawa oleh syekh Muhammad bin Abdul Wahab.

Gerakan dakwah syekh Muhammad bin Abdul Wahab pernah mengalami dua masa kejayaan. Masa kejayaan pertama dimulai pada abad kesembilan belas dibawah pimpinan dinasti Ibnu Sa’ud yang didirikan oleh Muhammad ibnu Sa’ud (1735-1766). Pada masa kejayaannya, dinasti Ibnu Sa’ud berhasil menguasai Karbala (1801), Mekah (1803), Madinah (1804). Namun pada 1818, dinasti Sa’ud harus menerima kekalahan dari Gubernur Mesir yang pada saat itu berada dibawah pimpinan Muhammad Ali. Kekuasaan dinasti Sa’ud pada saat itu hanya melingkupi wilayah Najd.

Masa kejayaan kedua terjadi pada tahun-tahun pertama abad kedua puluh dimasa kekuasaan Abdul Aziz ibnu Abdurrahman Al-Faisal Al-Sa’ud (1880-1953). Ia merupakan salah seorang keturunan penguasa Najd yang kemudian kembali menguasai Riyadh pada tahun 1901. Setelah perang dunia pertama, ia berhasil menguasai seluruh Arab Tengah. Ia kemudian menduduki Mekah pada tahun 1924 serta menguasai Madinah dan Jeddah pada tahun 1925. Setelah ia mendapatkan gelar raja, maka pada tahun 1932 negaranya diberi nama Saudi Arabia (Al-Mamlakat Al-‘Arabiyyat Al-Sa’udiyya). Raja Abdul ‘Aziz Al-Sa’ud kemudian menjadikan paham Muhammad bin Abdul Wahab sebagai ideologi negara, sehingga paham tersebut menyebar di seluruh Jazirah Arab, termasuk di dua kota suci Islam, Mekah dan Madinah.

Sebagian besar karya syekh Muhammad bin Abdul Wahab membahas tentang permasalahan tauhid. Di antara karya-karyanya yaitu Ushul Al-Iman, Mukhtashar Zad Al-Mi’ad, Mukhtashar Shahih Bukhari, Masail Al-Jahiliyah, Mukhtashar As-Sirat An-Nabawiyah, Tsalatsat Al-Ushul, dan At-Tauhid Alladzi Huwa Haqqullah ‘Ala Al-Abid.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Aql, Nashir bin Abdul Karim. 2006. Hanya Islam, Bukan Wahabi terjemah: Abdur Rosyad Siddiq. Jakarta: Darul Falah

Abu Zaid, Bakr bin Abdullah. 2008. Jangan Nodai Tanah Arab terjemah: Muhammad Muhtadi. Solo: Multazam

Mubarakfury, Shafiyyurrahman. 2006. Sirah Nabawiyah terjemah: Kathur Suhardi. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar

Pijper, G.F.. 1985. Sejarah Islam di Indonesia 1900-1950 terjemah: Tudjimah dan Yessy Augusdin. Jakarta: UI Press

Uwaidhah, Kamil Muhammad. 2004. Muhammad bin Abdul Wahab dan Gerakan Wahabi terjemah: Ahmad Fatoni dan Tatik Chusniyati. Malang: Penerbit Madinah

Zainu, Muhammad bin Jamil. 2010. Ada Apa Dengan Wahabi, Pro Kontra Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab terjemah: Abu Ayyub. Bekasi: Pustaka Imam Nawawi

Comments
  1. Adidoank says:

    Mudah2 yg mencari kebenaran mndapat hidayah…

  2. Soni sopyan says:

    Da’wah kepada tauhid adalah da’wahnya para nabi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s