Archive for January 9, 2014

Beliau adalah Umar bin Al-Khathab bin Nufail bin Adi bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Lu’ai, Abu Hafs Al-‘Adawi. Julukan beliau adalah Al-Faruq.

Adapun ibunya bernama Hantamah bin Hisyam bin Al-Mughirah, kakak dari Abu Jahal bin Hisyam.

Ibnu Katsir berkata, “Jumlah seluruh anak Umar adalah empat belas, yaitu: Zaid yang sulung, Zaid yang bungsu, Ashim, Abdullah, Abdurrahman yang sulung, Abdurrahman yang pertengahan, Az-Zubai bin Bakkar─yaitu Abu Syahmah, Abdurrahman yang bungsu, Ubaidullah, Iyadh, Hafsah, Ruqayyah, Zainab, Fathimah. Jumlah seluruh istri Umar yang pernah dinikahi pada masa Jahiliyah dan Islam, baik yang diceraikan ataupun yang ditinggal wafat sebanyak tujuh orang. (more…)

Advertisements

Namanya adalah Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi’I bin As-Saib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim bin Al Muthalib bin Abdi Manaf  bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai bin Ghalib. Nama panggilannya adalah Abu Abdillah.

Beliau dilahirkan di Gaza tahun 150 Hijriyah pada tahun dimana Imam Abu Hanifah An Nu’man meninggal. Ayahnya meninggal dalam usia muda, sehingga Muhammad bin Idris As-Syafi’I menjadi yatim dalam asuhan ibunya. Pada usia 7 tahun ia sudah hafal al-Qur’an 30 juz, pada usia 10 tahun (menurut riwayat lain, 13 tahun) ia hafal kitab al-Muwaththa` karya Imam Malik dan pada usia 15 tahun (menurut riwayat lain, 18 tahun) ia sudah dipercayakan untuk berfatwa oleh gurunya Muslim bin Khalid az-Zanji. (more…)

Abu Hurairah radiallahu ‘anhu dilahirkan tahun 19 sebelum Hijriyah. Nama beliau sebelum memeluk Islam tidaklah diketahui dengan jelas, tetapi pendapat yang mashyur adalah Abd Syams. Nama Islamnya adalah Abd al-Rahman. Beliau berasal daripada qabilah al-Dusi di Yaman. Abu Hurairah memeluk Islam pada tahun 7 Hijriyah ketika Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam berangkat menuju Khaibar.  Ketika itu, ibunya belum menerima Islam bahkan menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Abu Hurairah lalu bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan meminta Rasulullah berdoa agar ibunya masuk Islam. Kemudian Abu Hurairah kembali menemui ibunya, lalu mengajaknya masuk Islam. Ternyata ibunya telah berubah pikiran dan bersedia mengucapkan dua kalimat syahadat.

Setelah pulang dari Perang Khaibar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ingin memperluas Masjid Nabawi ke arah barat dengan menambah ruang sebanyak tiga tiang lagi. Abu Hurairah turut terlibat dalam pembangunan ini. Ketika dilihatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam turut mengangkat batu, ia meminta agar beliau menyerahkan batu itu kepadanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menolak seraya bersabda, “Tiada kehidupan sebenarnya, melainkan kehidupan akhirat.” (more…)

Secara bahasa, pengertian hadits adalah berita atau baru. Fairuz Abadi berkata, “(hadatsu, huduutsan, wa hadaatsatan) maknanya adalah kebalikan dari lama, dan alhadiitsu maknanya adalah baru atau berita. Bentuk jamaknya ahaadiitsu (Lihat Al-Qomus Muhith 1/164).

Adapun pengertian hadits secara istilah adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, baik berupa ucapan, perbuatan, ketetapan, perangai, maupun sifat jasad beliau (Taisir Mushtholah Hadits oleh Syekh Mahmud Ath-Thohhan, hal. 14).  Pengertian ini sama dengan pengertian as-sunnah, khobar, dan atsar (Nuzhatun Nazhar oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar, hal. 52). Hanya saja sebagian ulama membedakan antara hadits dengan atsar. Mereka menyatakan bahwa hadits itu yang datangnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan jika datangnya dari sahabat maka disebut atsar (Dirosat fi Ulumil Hadits oleh Isma’il Salim Abdul ‘Ali, hal. 7; Al-Hadits An-Nabawi oleh Muhammad Ash-Shobbagh hal. 15). (more…)

Hadits palsu dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah hadits maudhu (alhaditsul maudhu’). Al-Maudhu’ secara bahasa merupakan bentuk isim maf’ul dari kata wadho’a yang berarti meletakkan, merendahkan, membuat-buat, dan menempelkan (Lisanul Arab oleh Ibnu Mandhur 8/389; Al-Qomus Muhith oleh Fairuz Abadi 3/94).

Sedangkan secara istilah, hadits maudhu adalah hadits yang dibuat-buat dan didustakan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, sebenarnya hadits maudhu bukanlah hadits, namun hanya bentuk kedustaan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (Lamahat an Ushulil Hadits oleh Syekh Muhammad Adib Sholih, hal. 305). (more…)