Malik bin Anas, Imam Dar Al-Hijrah

Posted: January 10, 2014 in Biografi
Tags: , , , , , ,

Nama beliau adalah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin Al-Harits bin Ghaiman bin Khutsail bin Amr bin Al-Harits Al-Ashbahi Al-Humairi, Abu Abdillah Al-Madani, Imam Dar Al-Hijrah. Nenek moyangnya berasal dari Bani Tamim bin Murrah dari suku Quraisy. Imam Malik adalah sahabat Utsman bin Ubaidillah At-Taimi, saudara Thalhah bin Ubaidillah.

Adz-Dzahabi berkata, “Imam Malik lahir pada tahun 93 Hijriah, yaitu tahun dimana Anas, pembantu Rasulullah, meninggal.”

Awal Menuntut Ilmu

Adz-Dzahabi berkata, “Imam Malik mulai menuntut ilmu ketika umurnya menginjak belasan tahun. Beliau mulai memberikan fatwa ketika berumur 21 tahun. Orang-orang pun telah mengambil hadits darinya disaat beliau masih muda.”

Asy-Syafi’i berkata, “Jika menyebut tentang para ulama, maka Imam Malik adalah bintangnya.”

Ibnu Mahdi berkata, “Tokoh-tokoh besar yang sezaman dengan Imam Malik ada empat orang, yaitu Ats-Tsauri, Malik, Al-Auza’i dan Hammad bin Zaid. Dan aku melihat tidak ada orang yang lebih pandai dari Imam Malik.”

Penghormatannya Terhadap Hadits

Ibnu Abi Uwais berkata, “Jika Imam Malik ingin menceritakan sebuah hadits, maka dia berwudhu terlebih dahulu, merapikan jenggotnya, duduk dengan tenang dan sopan, kemudian dia baru berbicara.” Seseorang bertanya tentang hal itu, maka Imam Malik menjawab, “Aku ingin memuliakan hadits Rasulullah, dan aku tidak mau menceritakan suatu hadits kecuali aku dalam keadaan suci dan tenang.”

(Klik untuk info kain tenun tapis Lampung terlengkap)

Kehati-hatiannya Dalam Berfatwa

Al-Haitsam bin Jamil berkata, “Aku mendengar Imam Malik ditanya empat puluh delapan masalah, dan dia menjawab tiga puluh dua pertanyaan dengan jawaban ‘aku tidak mengetahui’.”

Khalid bin Khaddasy berkata, “Aku mengajukan empat puluh pertanyaan kepada Imam Malik, dan dia menjawab hanya lima pertanyaan.”

Al-Qadhi bin ‘Iyad berkata, “Seseorang bertanya kepada Imam Malik tentang firman Allah, ‘(Yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas Arsy.’ (Thaha: 5)…..Bagaimana Dia bersemayam?” Imam Malik terdiam hingga keringat bercucuran keluar dari tubuhnya. Imam Malik berkata, “Bersemayam sudah maklum diketahui. Tentang bagaimana Dia bersemayam, maka tidak bisa dinalar. Pertanyaan seperti ini adalah bid’ah. Iman kepadanya adalah wajib dan aku menduga kamu berada dalam kesesatan, maka keluar!”

Cobaan yang Menimpanya

Al-Fadhl bin Ziyad Al-Qaththan berkata, “Aku bertanya pada Ahmad bin Hambal, ‘Siapa yang mencambuk Malik bin Anas?’ Dia menjawab, ‘Orang yang mencambuk Malik adalah seorang penguasa, aku tidak mengetahui siapa dia. Malik dicambuk karena fatwanya tentang thalak seseorang yang berada dalam paksaan, dan Malik tidak mengakui thalak seseorang yang berada dalam paksaan, karena itu Malik dicambuk.’”

Dari Abu Bakar bin Muhammad, dia berkata, “Aku mendengar Abu Daud berkata, ‘Jafar bin Sulaiman mencambuk Malik karena masalah thalak seseorang yang berada dalam paksaan.’”

Al-Wakidi berkata, “Dan sungguh, setelah kejadian ini (hukum cambuk), Malik senantiasa berada pada posisi terhormat dan luhur.”

Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan sabar di antara kamu…..” (QS. Muhammad: 31)

Guru dan Murid-Muridnya

An-Nawawi berkata, “Dalam kitab Ar-Risalah Al-Mushannafah fi Bayani Subulissunnah Al-Musyarrafah, disebutkan bahwa Malik mengambil hadits dari sembilan ratus orang guru, yaitu tiga ratus orang dari generasi tabi’in dan enam ratus dari generasi tabi’ut tabi’in.”

Adz-Dzahabi berkata, “Imam Malik mengambil hadits dari Nafi, Said Al-Maqburi, Nu’aim Al-Mujammar, Ibnu Al-Mukandir, Abdullah bin Dinar, Ishaq bin Abi Thalhah, Abu Az-Zinad, Rabi’ah bin Abi Abdirrahman dan banyak lagi dari kalangan ulama-ulama Madinah. Imam Malik jarang meriwayatkan hadits dari orang-orang di luar Madinah.”

Orang-orang yang meriwayatkan dari Imam Malik, diantaranya: Ibnu Al-Mubarak, Yahya bin Said Al-Qaththan, Muhammad bin Al-Hasan, Ma’an bin Isa, Hisyam bin Ammar, Ismail bin Musa As-Saddi, Qutaibah bin Said, dll.

Kitab Al-Muwatha’ karya Imam Malik

Imam Malik menulis kitab Al-Muwatha’ bertujuan untuk mengumpulkan hadits-hadits sahih yang berasal dari Hijaz dan di dalamnya disertakan pendapat-pendapat dari para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in.

Imam Malik telah mengumpulkan sepuluh ribu hadits. Beliau selalu meneliti hadits-hadits itu, kemudian banyak yang tereliminasi, sehingga hadits yang tersisa seperti yang terdapat pada kitab Al-Muwatha’ saat ini.

Ibnu Abdil Bar menceritakan dari Umar bin Abdul Wahid, “Aku memperlihatkan Al-Muwatha’ kepada Malik setiap empat puluh hari sekali. Imam Malik pernah berkata, ‘Kitab ini aku tulis selama empat puluh tahun, dan aku mengoreksinya setiap empat puluh hari sekali. Tidak ada hadits yang ada di dalamnya yang tidak aku pahami.’”

Meninggalnya

Al-Qa’nabi berkata, “Imam Malik (tutup usia) saat berumur 89 tahun dan meninggal pada tahun 179 Hijriah.”

Imam Malik meninggal diwaktu subuh pada 14 Rabiul Awwal tahun 179 Hijriah. Amirul Mukminin Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim juga turut menyalatinya.

Sumber:

Syaikh Ahmad Farid. 2006. 60 Biografi Ulama Salaf terjemah: Masturi Irham dan Asmu’i Taman. Pustaka Al-Kautsar: Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s