Islam Sebagai Jalan Keselamatan

Posted: March 4, 2014 in Pemikiran
Tags: , , , ,

Apakah yang bisa menyelamatkan kaum muslimin dari kehinaan dan sikap mengekor orang-orang kafir sebagaimana telah menimpa umat Islam pada zaman ini? Tentu jawabannya adalah Islam. Tidak ada yang lain.

Islam adalah jalan hidup satu-satunya yang akan memberikan ke-maslahat-an sesuai dengan fitrah. Hanya Islam  yang mampu menegakkan suatu tatanan realistis bagi kehidupan.

Musuh-musuh Islam mengenal betul bahwa musuh mereka satu-satunya adalah Islam. Untuk itu mereka serius berusaha menghancurkan generasi yang agung ini. Hal itu disebabkan karena generasi Islam telah menghalangi mereka dari tindakan dzalim dimuka bumi sebagaimana yang mereka kehendaki. Oleh karena itu, para musuh Islam membuat konsep-konsep yang “bertentangan” dengan agama ini, agar konsep-konsep itu bisa menjadi pengganti syari’at-syari’at agama yang mulia ini.

Umat Islam harus membebaskan diri mereka dari ber-wala’ (loyalitas) terhadap musuh-musuh Allah Ta’ala baik dari kalangan orang-orang kafir, munafik, maupun ateis. Sikap kaum muslimin yang berlepas diri dari musuh-musuh Allah tersebut akan melindungi umat Islam dari tipu daya mereka. Kaum muslimin harus meyakini bahwa kemenangan umat ini datangnya semata-mata karena pertolongan Allah. Sikap rendah diri yang banyak hinggap dalam diri kaum muslimin terhadap kecanggihan teknologi orang-orang kafir merupakan virus yang dapat meruntuhkan kedigdayaan umat ini.  Allah akan memenangkan Islam betapapun hebatnya kemampuan musuh-musuh-Nya. Allah Ta’ala berfirman, “Betapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah.” (QS. Al-Baqarah : 249)

(Klik untuk info kain tenun tapis Lampung terlengkap)

“Sesungguhnya Kami pasti menolong (memenangkan) rasul-rasul Kami dan juga orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan pada hari berdirinya saksi-saksi (kiamat).” (QS. Ghafir: 51)

Kaum muslimin yang benar imannya akan mencapai derajat yang tinggi jika ia berlepas diri dari setiap manhaj dan perundang-undangan yang menyelisihi syari’at Allah Ta’ala. Selain itu, ia harus menjadikan syari’at Allah, baik dalam masalah besar ataupun kecil sebagai rujukan dan pedoman hidupnya. Syari’at Allah selalu memerintahkan pada ke-maslahat-an, melarang setiap kerusakan, membolehkan sesuatu yang bersih, dan mencegah dari setiap yang kotor.

Sudah selayaknya para da’I yang memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar agar mengembalikan umat ini kepada kejernihan akidah dengan cara:

Pertama, meluruskan pemahaman la illaha ilallah Muhammad rasulullah. Kemudian menyeru manusia untuk memahami kalimat yang agung ini sebagaimana yang dipahami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.

Hal ini harus disertai penjelasan bahwa di antara konsekuensi kalimat ini adalah memberikan loyalitas hanya kepada orang-orang yang beriman dan benci (bara’) pada orang-orang kafir, berhukum dengan syari’at Allah, dan berlepas diri dari sembahan-sembahan palsu, undang-undang, adat, tradisi, kebiasaan yang berlawanan dengan syari’at Allah.

Kedua, meluruskan pemahaman tentang ibadah bahwa ibadah merupakan konsep yang utuh dan menyeluruh dalam segala aspek kehidupan manusia baik dalam konsep ibadah secara murni, politik, sosial, bernegara, ekonomi, maupun kebudayaan. Ibadah mencakup akidah, syari’ah, dan juga sistem kehidupan. Tidak boleh ada pemisahan dalam masalah ini sebagaimana yang terjadi pada pemikiran sekuler yang memisahkan antara agama dan sistem kehidupan. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Rabbul ‘alamin. Tiada sekutu bagi-Nya.’ Demikianlah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang-orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah.” (QS. Al-An’am: 162-163)

Ketiga, mendidik generasi dengan metode Kitabullah dan As-Sunnah sebab keduanya adalah jalan yang benar. Hanya dengan metode inilah umat akan kembali kepada agamanya.

Keempat, menyingkirkan pengaruh-pengaruh invasi pemikiran. Hal ini dilakukan dengan membersihkan umat ini dari pemikiran-pemikiran “jahiliyah modern (termasuk di dalamnya pemikiran Evolusionis, Kapitalis, Sosialis, Komunis, Demokratis dan Liberalis Red.)”.

Kelima, memperdalam pengertian wala’ (loyalitas) orang muslim terhadap sesama muslim. Kaum muslimin adalah saling bersaudara satu sama lain. Dari perjalanan sejarah Islam, kita dapat saksikan urgensi masalah ini. Dalam suatu kisah, pernah seorang wanita dilecehkan di daerah Umuriyah, lalu ia meminta tolong “Wahai Al-Mu’tashim, tolonglah!”. Khalifah Al-Mu’tashim memberikan jawaban, “Ku penuhi permintaanmu, wahai muslimah!”. Lalu Al-Mu’tashim segera menyiagakan pasukannya menaklukkan Umuriyah dan menolong wanita itu. Ia tidak mengatakan bahwa si wanita berasal dari negeri lain, akan tetapi ia berangkat karena didorong rasa tanggung jawab sebagai Khalifatul Muslimin. Seluruh umat Islam adalah amanat yang ada dipundaknya.

Dari kisah ini dapat diambil pelajaran bahwa menolong kaum muslimin yang tertindas dibelahan bumi manapun merupakan sesuatu yang diwajibkan dalam agama ini. Kewajiban seorang muslim adalah mencintai muslimin lainnya dan menolong mereka dengan tangan, tulisan, harta, serta memberikan pembelaan bagi mereka di manapun dan kapanpun.

Keenam, memperdalam pembahasan tentang permusuhan terhadap musuh-musuh Allah baik dari kalangan orang-orang kafir, munafik, musyrik, maupun orang-orang murtad. Keimanan tidak akan menyatu dengan kecintaan terhadap kekufuran dalam satu hati seseorang. Allah Ta’ala berfirman, “Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu adalah bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka sendiri.” (QS. Al-Mujadilah: 22)

Ketujuh, mempertegas masalah permusuhan wali-wali setan terhadap wali-wali Allah. Permusuhan ini akan terus berlangsung sejak zaman Nabi Adam hingga akhir zaman. Dua golongan ini tidak akan pernah berdamai selamanya. Hal ini karena perbedaan yang mendasar di antara keduanya. Para wali Allah selalu menyeru manusia untuk menyembah Allah, sedangkan para wali setan senantiasa menyeru manusia untuk beribadah pada thaghut. Allah Ta’ala berfirman, “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian sampai mereka dapat mengembalikan kalian dari agama kalian (kepada kekafiran) seandainya mereka sanggup.” (QS. Al-Baqarah: 217)

Kedelapan, membangkitkan dan menguatkan harapan di dalam jiwa kaum muslimin akan dekatnya pertolongan Allah Ta’ala.

Jika kaum muslimin telah meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa hanya Allah sebagai Penolongnya, maka kehinaan, keterasingan, dan ketertindasan yang selama ini menimpa umat Islam akan segera lepas dan hilang dari  dalam diri umat Islam. Allahuakbar!

 

Sumber:

Muhammad Sa’id Al-Qahthani. 2000. Loyalitas dan Anti-Loyalitas Dalam Islam terjemah Salafuddin Abu Sayid. Solo: Era Intermedia

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s