Haji Wada’ Rasulullah dan Khotbahnya

Posted: November 22, 2014 in Biografi
Tags: , , , , , , , , ,

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa selama sembilan tahun tinggal di Madinah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam belum melaksanakan haji. Selanjutnya, pada tahun kesepuluh, beliau mengumumkan hendak melakukan ibadah haji. Setelah pengumuman itu, berduyun-duyunlah orang datang ke Madinah. Semuanya ingin mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengamalkan ibadah haji sebagaimana amalan beliau.

Pada tanggal 25 Dzulqaidah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari Madinah. Jabir berkata, “Setelah unta yang membawanya sampai di lapangan besar, kulihat sejauh pandangan mata adalah lautan manusia, baik yang berkendaraan maupun yang berjalan kaki, mengitari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam didepan, belakang, kiri, maupun kanan beliau.”

Ada perbedaan pendapat dikalangan para perawi. Ahlu Madinah berpendapat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan haji ifrad, sedangkan yang lainnya berpendapat bahwa beliau melakukan haji qiran. Sebagian yang lain meriwayatkan bahwa beliau memasuki kota Mekah sambil berumrah haji tamattu’, kemudian dilanjutkan dengan haji. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan ibadah hajinya seraya mengajarkan manasik dan sunnah-sunnah haji kepada orang-orang yang menunaikan ibadah haji bersamanya.

Pada hari Arafah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan khotbah umum di tengah-tengah kaum muslimin yang sedang berkumpul ditempat wukuf. Beliau berkhotbah, “Wahai manusia, dengarkanlah apa yang hendak kukatakan. Mungkin setelah tahun ini, aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian di tempat ini untuk selama-lamanya. Hai manusia, sesungguhnya darah dan harta benda kalian adalah suci bagi kalian (yakni tidak boleh dinodai oleh siapapun juga) seperti hari dan bulan suci sekarang ini di negeri kalian ini. Ketahuilah, sesungguhnya segala bentuk perilaku dan tindakan jahiliyah tidak berlaku lagi. Tindakan menuntut balas atas kematian seseorang sebagaimana yang berlaku di masa jahiliyah juga tidak berlaku lagi. Tindak pembalasan jahiliyah seperti itu yang pertama kali kunyatakan tidak berlaku lagi ialah tindakan pembalasan atas kematian Ibnu Rabi’ah Ibnul Harits.

Riba jahiliyah tidak berlaku dan riba yang pertama kunyatakan tidak berlaku ada riba Abbas bin Abdul Muthalib. Sesungguhnya, segala macam riba tidaklah berlaku lagi. Hai manusia, di negeri kalian ini, setan sudah putus harapan untuk dapat disembah lagi. Akan tetapi, ia masih menginginkan selain itu. Ia akan merasa puas bila kalian melakukan perbuatan yang rendah. Karena itu, hendaklah kalian jaga baik-baik agama kalian.

Hai manusia, sesungguhnya menunda berlakunya bulan suci akan menambah besarnya kekufuran. Dengan itulah, orang-orang kafir menjadi tersesat. Pada tahun yang satu mereka langgar dan pada tahun yang lain mereka sucikan untuk disesuaikan dengan hitungan yang telah ditetapkan kesuciannya oleh Allah. Mereka kemudian menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah.

Sesungguhnya, zaman berputar, seperti keadaannya pada waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun adalah dua belas bulan. Empat bulan di antaranya bulan-bulan suci. Tiga bulan berturut-turut: Dzulqaidah, Dzulhijah, dan Muharram. Bulan Rajab adalah antara bulan Jumadil Akhir dan bulan Sya’ban.

Takutlah kepada Allah dalam memperlakukan kaum wanita karena kalian mengambil mereka sebagai amanat Allah dan kehormatan mereka dihalalkan bagi kalian dengan nama Allah. Sesungguhnya, kalian mempunyai hak atas para istri kalian dan mereka mempunyai hak atas kalian. Jika mereka melakukan hal itu, pukulah mereka dengan pukulan yang tidak membahayakan. Adapun hak mereka atas kalian adalah kalian harus member nafkah dan pakaian kepada mereka secara baik.

Karena itu, perhatikanlah perkataanku itu wahai manusia, sesungguhnya telah aku sampaikan. Aku tinggalkan sesuatu kepada kalian yang jika kalian pegang teguh, kalian tidak akan tersesat selama-lamany, yaitu kitabullah dan sunnah.

Wahai manusia, dengarkanlah dan taatlah sekalipun kalian diperintah oleh seorang hamba sahaya dari Habasyah selama ia menjalankan kitabullah kepada kalian. Berlaku baiklah kepada budak kalian. Berilah mereka makan apa yang kalian makan dan berilah pakaian dari jenis pakaian yang sama dengan yang kalian pakai. Jika mereka melakukan suatu kesalahan yang tidak bisa kalian maafkan, juallah hamba-hamba Allah itu dan janganlah kalian menyiksa mereka.

Wahai manusia, dengarkanlah perkataanku dan perhatikanlah. Kalian tahu bahwa setiap muslim adalah saudara bagi muslim lain, dan semua kaum muslimin adalah saudara. Seseorang tidak dibenarkan mengambil dari saudaranya kecuali yang telah diberikan kepadanya dengan senang hati. Karena itu, janganlah kalian menganiaya diri sendiri. Ya Allah, sudahkan kusampaikan?

Kalian akan menemui Allah, maka janganlah kalian kembali sesudahku menjadi sesat, sebagian kalian memukul tengkuk sebagian yang lain. Hendaklah orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir, barangkali sebagian orang yang menerima kabar (tidak langsung) lebih mengerti daripada orang yang mendengarnya (secara langsung). Kalian akan ditanya tentang aku, maka apakah yang hendak kalian katakan?”

Mereka menjawab, “Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan risalah, telah menunaikan amanat dan memberi nasihat.”

Kemudian seraya menunjuk ke arah langit dengan jari telunjuknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ya Allah, saksikanlah (tiga kali).”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetap tinggal di Arafah hingga terbenam matahari. Pada saat terbenam matahari itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beserta orang-orang yang menyertainya berangkat ke Muzdalifah. Seraya memberikan isyarat dengan tangan kanannya, beliau bersabda, “Wahai manusia, harap tenang, harap tenang.” Beliau kemudian men-jama’ takhir shalat maghrib dan isya di Muzdalifah. Pada malam itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bermalam di Muzdalifah kemudian sebelum terbit matahari, beliau berangkat ke Mina lalu melontar jumratul aqabah dengan tujuh batu kecil sambil bertakbir disetiap lontaran. Setelah itu, beliau pergi ketempat penyembelihan lalu menyembelih 63 binatang sembelihan. Beliau kemudian menyerahkan kepada Ali untuk menyembelih sisanya sampai 100 sembelihan. Setelah itu, beliau naik kendaraannya berangkat ke ka’bah (ifadhah) lalu shalat dzuhur di Makkah dan pergi mendatangi bani Abdul Muthalib yang sedang mengambil air zam-zam lalu bersabda, “Timbalah, wahai bani Abdul Muthalib. Kalaulah tidak karena orang-orang tersebut bersama kalian, niscaya aku menimba bersama kalian.” Mereka kemudian memberikan setimba air kepada beliau dan beliau pun minum darinya.”

Akhirnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kembali ke Madinah

 

Sumber:

Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy, Sirah Nabawiyah: Robbani Press

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s