Archive for January 14, 2015

  1. Hasad

Artinya membenci datangnya nikmat Allah kepada seorang hamba. Dia adalah ketidaksenangan seseorang terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain. Maka ini adalah hasad, baik dia mengharap hilangnya nikmat itu atau tetap ada, akan tetapi dia membenci hal itu. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dia berkata, “Hasad adalah kebencian seseorang atas nikmat yang Allah berikan kepada orang lain.”

Setiap jiwa tidak pernah luput dari sifat hasad ini, yakni terkadang dia mendesak kedalam jiwa, tetapi dijelaskan dalam suatu hadits: “Jika engkau hasad maka janganlah engkau zhalim dan jika engkau berprasangka maka janganlah engkau menyelidiki.” Artinya, seorang manusia apabila dia merasakan ada hasad didalam hatinya kepada orang lain maka wajib baginya untuk tidak berbuat zhalim kepada orang itu, baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan. (more…)

Faedah Pertama

Seorang penuntut ilmu harus memperhatikan beberapa perkara ketika mempelajari ilmu, ilmu apapun yang dipelajarinya:

  1. Menghafalkan matan kitab-kitab yang ringkas

Jika mempelajari ilmu nahwu, maka sebaikya menghafal kitab yang ringkas tentangnya. Kitab yang baik bagi seorang pemula sebaiknya menggunakan matan al Aajurumiyyah, karena kitab ini jelas, lengkap dan ringkas. Kemudian matan Alfiyah Ibnu Malik karena kitab ini adalah ringkasan ilmu nahwu.

Dalam masalah fiqh, sebaiknya menghafal Zaadul Mustaqni’ karena kitab ini dilengkapi dengan penjelasan dan catatan kaki serta pengajaran, sekalipun beberapa matan lain lebih bagus dari kitab ini dari satu segi akan tetapi dia lebih bagus dari kitab lain dari segi lainnya karena banyaknya masalah yang ada didalamnya dan banyak komentar dan perhatian orang terhadapnya.

Dalam masalah hadits, bagi pemula sebaiknya menghafalkan matan ‘Umdatul Ahkam. Jika telah meningkat maka hafalkanlah Buluughul Maraam. (more…)

Akhlak yang yang baik dalam bermu’amalah dengan Allah Ta’ala mencakup tiga perkara:

  1. Menerima berita-Nya dengan cara membenarkannya

Dengan cara tidak boleh adanya keraguan pada diri manusia dengan mempercayai berita Allah Ta’ala karena berita dari Allah bersumber dari ilmu dan Dia adalah yang paling benar ucapanNya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman tentang diri-Nya:

“Siapakah yang lebih benar ucapannya daripada Allah?” (QS. An Nisaa’: 87). Konsekuensi dari membenarkan berita dari Allah adalah hendaknya manusia percaya kepada hal itu dan membelanya serta memperjuangkannya dengan tidak dimasuki oleh keraguan. (more…)

Bermu’amalah dengan kitab dapat dilakukan dengan beberapa cara:

  1. Mengetahui isi materinya

Sehingga seseorang dapat mengambil manfaat darinya karena hal ini membutuhkan spesialisasi, sebab mungkin saja itu adalah kitab sihir, sulap atau kitab yang bathil. Maka kita harus mengetahui terlebih dahulu isi materi kitab sehingga manfaat darinya bisa diambil.

  1. Mengetahui istilah-istilahnya

Karena mengetahui istilah akan lebih mengefektifkan waktu, dan inilah yang dilakukan para ulama didalam pendahuluan kita-kitab mereka.

  1. Mengetahui metode dan gaya bahasa yang digunakan dalam kitab tersebut

(more…)

– Niat yang ikhlas

Dengan cara meniatkan mencari ilmu untuk mendapatkan wajah Allah dan negeri akhirat. Apabila seseorang berniat mencari ilmu syar’I untuk memperoleh ijazah agar dengan ijazah itu dia endapatkan kedudukan dan penghasilan, maka tentang hal ini Rasulullah telah bersabda, artinya: “Barangsiapa mencari ilmu yang seharusnya ditujukan untuk mengharap wajah Allah Ta’ala, lalu tidaklah dia mempelajarinya melainkan untuk mencari keuntungan dunia, maka dia tidak akan mencium aroma surga.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dll.) (more…)