Akhlak Yang Baik Dan Bahaya Dengki

Posted: January 14, 2015 in Akhlak
Tags: , , , , , , , , ,

Akhlak yang yang baik dalam bermu’amalah dengan Allah Ta’ala mencakup tiga perkara:

  1. Menerima berita-Nya dengan cara membenarkannya

Dengan cara tidak boleh adanya keraguan pada diri manusia dengan mempercayai berita Allah Ta’ala karena berita dari Allah bersumber dari ilmu dan Dia adalah yang paling benar ucapanNya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman tentang diri-Nya:

“Siapakah yang lebih benar ucapannya daripada Allah?” (QS. An Nisaa’: 87). Konsekuensi dari membenarkan berita dari Allah adalah hendaknya manusia percaya kepada hal itu dan membelanya serta memperjuangkannya dengan tidak dimasuki oleh keraguan.

  1. Menerima hukum-hukum-Nya dengan cara melaksanakan dan menerapkannya.

Sesungguhnya akhlak yang baik dalam bermu’amalah dengan Allah Ta’ala berkaitan dengan hukum-hukumNya adalah manusia harus menerima, melaksanakan dan menerapkannya. Maka seseorang tidak boleh menolak sedikitpun dari hukum-hukum Allah itu. Jika dia menolak sedikit saja dari hukum-hukum Allah, maka ini akhlak yang jelek terhadap Allah, baik menolak karena mengingkari hukum-hukumNya atau menolak karena takabbur, tidak mau mengamalkannya atau menolaknya karena menganggapnya hina dalam mengamalkannya, karena semua itu meniadakan akhlak yang baik terhadap Allah Ta’ala.

  1. Hal ketiga mengenai permasalahan akhlak yang baik terhadap Allah adalah sabar dan ridha atas apa yang ditakdirkan. Setiap kita mengetahui bahwa takdir-takdir Allah yang terlaksana pada makhluknya , sebagian ada yang memuaskan dan sebagian lain ada yang tidak memuaskan.

Adapun akhlak yang baik kepada makhluk, tentang hal ini telah diterangkan oleh sebagian ulama. Diterangkan dari Hasan Al Bashri bahwa akhlak yang baik adalah tidak menganggu, bersikap dermawan dan ramah.

– Tidak mengganggu

Arti dari tidak mengganggu adalah seseorang menahan dirinya dari mengganggu orang lain, baik gangguan ini berkaitan dengan harta, jiwa dan kehormatan. Maka barangsiapa yang tidak menahan diri dari mengangu orang lain, itu bukanlah termasuk akhlak yang baik. Apabila seseorang menganiaya menusia dengan berkhianat atau menganiaya orang lain dengan memukul, mencela dan membicarakan aibnya, maka ini bukanlah akhlak yang baik terhadap sesame manusia karena dia tidak menahan diri dari mengganggu orang lain. Berbuat jahat terhadap kerabat lebih besar dosanya daripada berbuat jahat kepada orang yang jauh. Berbuat jahat kepada tetangga lebih besar dosanya daripada berbuat jahat kepada orang yang bukan tetangganya. Nabi shallahu’alaihi wa sallam bersabda, artinya:

“Demi Allah dia tidak beriman, demi Allah dia tidak beriman, demi Allah dia tidak beriman!” Ditanyakan, “Siapa dia wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. Al Bukhari).

– Bersikap Dermawan

Kedermawanan bukanlah seperti banyak diduga manusia yaitu hanya memberi harta saja, tetapi kedermawanan bisa juga memberi pengorbanan jiwa, kedudukan dan juga harta.

– Bersikap Ramah

Adapun bersikap ramah yaitu dengan wajah yang berseri-seri. Nabi shallahu’alaihi wa sallam bersabda, artinya: “Janganlah kalian menganggap rendah pada kebaikan apa pun sekalipun dengan memasang wajah berseri-seri kepada saudaramu.” (HR. Muslim).

Inilah faedah ilmu, yaitu agar manusia menjadi seorang Rabbani dengan arti seorang yang mendidik hamba-hamba Allah diatas syari’at Allah.

Peringatan dari sifat dengki dan penjelasan bahayanya.

Sesungguhnya dengki adalah akhlak yang tercela, yaitu mengharapkan hilangnya nikmat dari orang lain. Ada juga yang mengatakan, “Dengki adalah benci terhadap nikmat yang dianugerahkan kepada orang lain.”

Dampak negatif dari sifat dengki cukup banyak, diantaranya berpaling dari qadha dan qadar Allah, juga tidak ridha terhadap apa-apa yang telah Allah takdirkan karena orang yang hasad membenci nikmat yang Allah limpahkan kepada orang yang ia dengki. Biasanya orang yang hasad selalu berbuat jahat kepada orang yang dia dengki, dia akan selalu menyembunyikan nikmat Allah atas orang yang dia dengki atau berusaha menghilangkannya. Maka ketika itu dia menggabungkan dua sifat, yaitu dengki dan permusuhan.

 

Sumber:

Panduan Lengkap menuntut ilmu, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin: Pustaka Ibnu Katsir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s