Faedah Pertama

Seorang penuntut ilmu harus memperhatikan beberapa perkara ketika mempelajari ilmu, ilmu apapun yang dipelajarinya:

  1. Menghafalkan matan kitab-kitab yang ringkas

Jika mempelajari ilmu nahwu, maka sebaikya menghafal kitab yang ringkas tentangnya. Kitab yang baik bagi seorang pemula sebaiknya menggunakan matan al Aajurumiyyah, karena kitab ini jelas, lengkap dan ringkas. Kemudian matan Alfiyah Ibnu Malik karena kitab ini adalah ringkasan ilmu nahwu.

Dalam masalah fiqh, sebaiknya menghafal Zaadul Mustaqni’ karena kitab ini dilengkapi dengan penjelasan dan catatan kaki serta pengajaran, sekalipun beberapa matan lain lebih bagus dari kitab ini dari satu segi akan tetapi dia lebih bagus dari kitab lain dari segi lainnya karena banyaknya masalah yang ada didalamnya dan banyak komentar dan perhatian orang terhadapnya.

Dalam masalah hadits, bagi pemula sebaiknya menghafalkan matan ‘Umdatul Ahkam. Jika telah meningkat maka hafalkanlah Buluughul Maraam.

Dalam masalah tauhid, kitab yang bagus mengenai masalah ini yaitu Kitaabit Tauhiid karya Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdil Wahab. Kitab mengenai Asma’ dan sifat Allah yaitu al-Aqiidah al-Wasithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah

  1. Menelaah dan meminta penjelasan
  2. Tidak menyibukkan diri dengan kitab-kitab yang panjang

Hal ini sangat penting bagi penuntut ilmu. Pertama kali dia harus memantapkan kitab yang ringkas sehingga ilmunya tertancap kuat dalam otaknya. Kemudian barulah dia melangkah pada kitab-kitab yang panjang.

  1. Jangan berpindah dari satu kitab yang ringkas kepada kitab yang lainnya tanpa ada pertimbangan yang mengharuskan

Karena ini termasuk sikap bosan. Ini adalah penyimpangan besar yang akan membuat penuntut ilmu terputus dari belajarnya dan menyia-nyiakan waktu. Jika setiap hari dia menelaah satu kitab (satu hari dengan satu kitab yang berbeda), maka cara ini salah menurut metode dalam mencari ilmu.

  1. Kerahkan segala potensi diri untuk menuntut ilmu

Curahkan kemampuan diri untuk menuntut ilmu. Kerahkan kemampuan diri untuk selalu meningkat dan jangan jalan ditempat. Mintalah bantuan kepada orang yang dipercaya untuk membantu menyelesaikan suatu permasalah ilmu. Seseorang tidak akan memperoleh ilmu karena malu (bertanya).

Faedah Kedua

Diantara hal yang harus diperhatikan ileh seorang penuntut ilmu adalah mempelajari ilmu dari para masyaikh karena hal itu memberika manfaat yang banyak:

  1. Ringkasan metode, dibandingkan jika dia menelaah sendiri isi kitab dan memperhatikan mana pendapat yang kuat serta sebab-sebab kuatnya pendapat itu dan mana pendapat yang lemah dan sebab-sebab kelemahannya.
  2. Cepat memahami. Jika seorang penutut ilmu membaca kitab dihadapan seoarng alim maka dia dapat lebih cepat memahami dibandingkan dia membaca kitab sendiri.
  3. Adanya ikatan antara penuntut ilmu dengan ulama Rabbani. Oleh karena itu, membaca dihadapan ulama lebih bermanfaat dan lebih utama daripada membaca sendiri.

Faedah Ketiga

Apabila ada keperluan untuk bertanya, maka seorang penuntut ilmu harus mengajukan pertanyaan dengan cara yang baik. Adapun jika tidak perlu maka janganlah dia bertanya.

Faedah Keempat

Berdebat dan bertukar pikiran ada dua macam.

  1. Debat dengan bertengkar

Yaitu mendebat orang-orag bodoh dan lancing kepada ulama, dia hanya ingin membela pendapatnya saja dan ini tercela.

  1. Berdebat untuk mencari kebenaran

Jika demikian, maka hal ini terpuji dan diperintahkan. Tanda-tanda –debat untuk kebenaran- adalah jika telah jelas kebenaran bagi seseorang maka dia merasa puas dengan hal itu dan dia rujuk kepadanya.

Faedah Kelima

Makruhnya sikap merasa diri suci, pujian dan takabur kepada sesama makhluk. Ini adalah sifat yang telah menimpa sebagian manusia. Dia merasa dirinya suci dan melihat apa yang dikatakannya adalah benar dan selainnya adalah salah jika beerselisih dengan dirinya.

Faedah Keenam

Zakat ilmu bisa dilakukan dengan beberapa perkara

  1. Menyebarkan ilmu.

Menyebarkan ilmu termasuk zakat ilmu. Sebagaimana seseorang menshadaqahkan sebagian dari hartanya, maka seseorang yang berilmu harus menshadaqahkan sebagian dari ilmunya. Shadaqah ilmu lebih abadi dan bebannya lebih ringan.

  1. Mengamalkannya

Karena mengamalkannya termasuk juga mendakwahkannya. Banyak manusia yang lebih meneladani seseorang yang berilmu karena akhlak dan amalnya daripada meneladani karena ucapannya

  1. Membela kebenaran
  2. Amar Ma’ruf dan nahi munkar

Tidaklah diragukan lagi bahwa hal ini termasuk zakat ilmu karena orang yang menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar adalah orang yang mengetahui yang ma’ruf dan mengetahui yang munkar kemudian melaksanakan kewajiban terhadap apa yang diketahuinya itu berupa amar ma’ruf dan nahi munkar.

Faedah Ketujuh

Tentang maksud dari berkah ilmu.

Berkah bermakna kebaikan yang banyak dan tetap dari segala sesuatu baik harta, anak, dan ilmu. Ilmu yang yang tidak menyebabkan keberkahan bagi pemiliknya yaitu seseorang yang diberi ilmu yang banyak oleh Allah tapi dia seperti orang awam, tidak berbekas ilmu pada dirinya, ibadah dan pada akhlaknya, juga pada perilaku dan mu’amalahnya. Bahkan terkadang ilmunya membawanya pada sikap takabbur terhadap sesame hamba Allah, merasa lebih tinggi dari yang lain dan merendahkan yang lain.

Oleh karena itu, sebagian ulama mendefinsikan ‘alim Rabbani dengan mengatakan, “Seorang ‘alim Rabbani adalah orang yang mendidik manusia dengan ilmu yang shighar (kecil/ringan) sebelum ilmu yang kibar (besar/berat).”

 

Sumber:

Panduan Lengkap menuntut ilmu, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin: Pustaka Ibnu Katsir.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s