Ilmu pengetahuan yang kita dapatkan dan pelajari saat ini, tak lepas dari peranan para ilmuwan yang terus mencari dan menggali ilmu. Hingga didapatkan sebuah teori yang logis dan masuk akal, seperti halnya para ilmuwan muslim dari berbagai belahan dunia seperti Persia, Arab, dan Turki yang sukses membuat beberapa penemuan besar yang hasilnya bisa kita pelajari saat ini.

Nama asli Ibnu Batutah adalah Abu Abdullah Muhammad bin Batutah. Ia adalah seorang penjelajah Beber Maroko. Atas dukungan dari Sultan Maroko, Ibnu Batutah menyiarkan beberapa perjalanan pentingnya kepada seorang sarjana, yakni Ibnu Jauzi yang ia temui saat sedang berada di Iberia.

Ibnu Batutah lahir di Tangier, Maroko sekitar tahun 1304 . Diusianya yang ke-20, beliau pergi haji dan ziarah ke Mekah. Setelah itu, beliau melanjutkan perjalanan spiritualnya hingga melintasi 120.000 km ke sepanjang negara muslim, sekitar 44 negara modern.

Perjalanannya Melebihi Marcopolo

Perjalanan awal Ibnu Batutah dimulai dari Tangier menuju Mekah. Untuk menghindari berbagai resiko buruk seperti diserang perampok, selama perjalanan Ibnu Batutah bergabung dengan kafilah yang akan menuju Mesir. Bersama kafilah itu, Ibnu Batutah menyusuri hutan, bukit dan pegunungan bergerak menuju Tlemcen, kemudian tiba di Tunisia dan tinggal di sana selama dua bulan.

Dari Tunisia, ia dan rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Libya. Sejak meninggalkan Tangier hingga Libya, Ibnu Batuta telah menempuh perjalanan darat sejauh hampir 3500 km melintasi Afrika Utara. Delapan bulan sebelum musim haji dimulai, Ibnu Batutah memutuskan untuk mengunjungi Kairo. Pada tahun 1326, Ibnu Batuta dan rombongannya tiba di Pelabuhan Alexandria. Ibnu Batuta sangat terkesan melihat Pelabuhan Alexandria. Saat itu, Alexandria merupakan pelabuhan yang sangat sibuk dengan berbagai aktivitas dan berada di bawah kendali Kerajaan Mamluk.

Setelah beberapa pecan di Alexandria, Ibnu Batutah singgah di Kairo, kemudian melanjutkan perjalanannya ke Damaskus. Selama 24 hari di Damaskus, Ibnu Batutah melanjutkan perjalanannya ke Mekah melalui jalur Suriah. Sepanjang jalur itu, ia banyak mengunjungi tempat-tempat suci Al Khalil (Hebron), Al-Quds (Jerussalem), Bethlehem.

Dibawah pengawasan Kerajaan Mamluk yang menjamin keamanan para jamaah haji, maka ia dan rombongannya dapat tiba di Madinah dengan selamat. Setibanya di Madinah, ia tinggal selama empat hari, lalu bergegas menuju Mekah dan melaksanakan ibadah hajinya.

Garis besar perjalanan Ibnu Batutah berawal dari Maroko menuju Aljazair, Tunisia, Mesir, Palestina, Suriah, dan Mekah. Setelah mengembara ke Irak, Shiraz, dan Mesopotamia, Ibnu Batutah melaksanakan ibadah haji yang kedua dan tinggal di Mekah selama tiga tahun. Kemudian dia pergi ke Jedah dan melanjutkan perjalanan ke Yaman dan meneruskan perjalanan ke Mombasa Afrika Timur.

Pada tahun 1332 setelah dari Kulwa, Ibnu Batutah pergi ke Oman melalui selat Hormuz, Siraf, Bahrain, dan Yamama untuk kembali melaksanakan ibadah haji ke Mekah. Setelah itu Ibnu Batutah memutuskan untuk pergi ke India melalui Jedah. Namun dia berubah pikiran dan memutuskan untuk kembali mengunjungi Kairo, Palestina, dan Suriah. Setibanya disana, Ibnu Batutah melanjutkan kembali perjalanannya ke Asia Kecil melalui jalur laut menuju Anatolia dan meneruskan petualangannya dengan melintasi Laut Hitam.

Setelah beberapa lama dan berada dalam perjalanan yang penuh bahaya, akhirnya Ibnu Batutah tiba di Turki melalui selatan Ukraina. Ibnu Batutah kemudian meneruskan penjelajahannya ke Khurasan dan mengunjungi kota-kota penting seperti Bukhara, Balkh, Herat, dan Nishapur. Ibnu Batutah melintasi pegunungan Hindukush untuk tiba di Afganistan untuk selanjutkan masuk ke India melalui Ghani dan Kabul.

Ibnu Batutah terus menyusuri Lahri, Sukkur, Multan, Sirsa, dan Hansi akhirnya tiba di Delhi. Selama beberapa tahun disana, ia disambut keramahan Sultan Mohammad Tughlaq. Setelah kunjungannya di Delhi, Ibnu Batutah kembali meneruskan perjalanannya melewati India tengah dan Malwa, kemudian dia menggunakan kapal dari Kambay menuju Goa.

Sampai Ke Aceh, Indonesia

Setelah mengunjungi banyak tempat sebelumnya, kemudian Ibnu Batutah tiba di Pulau Maladewa melalui jalur pantai Malabar dan selanjutnya terus menyeberang ke Srilanka. Ibnu Batutah masih terus melanjutkan penjelajahannya hingga mendarat di Coromandal dan kembali lagi ke Maladewa hingga akhirnya dia berlabuh di Bengal dan mengunjungi Kamrup, dekat Dhaka.

Ibnu Batutah berlayar sepanjang pantai Arakan dan kemudian tiba di Aceh, tepatnya di Samudera Pasai. Setelah kunjungannya di Aceh, ia meneruskan perjalanan ke Kanton lewat jalur Malaysia dan Kamboja.

Setibanya di Cina, Ibnu Batutah terus berpetualang ke Peking. Lalu ia menuju Calicut dan meneruskan perjalanannya ke Iran, Irak, Suriah, Mesir, kemudian menunaikan haji di Mekah.

Setelah ibadah hajinya yang terakhir, Ibnu Batutah kembali ke kampung halamannya. Pada tahun 1369, di usia 65 tahun, Ibnu Batutah meninggal dunia, setelah 12 tahun menyelesaikan tulisannya, Rihlah.

 

Sumber:

Jurnal Halal No. 111 Januari-Februari Th. XVIII 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s