Universitas Al-Muntansiriyah, Warisan Terakhir Penguasa Abbasiyah

Posted: January 13, 2016 in Uncategorized
Tags: , , , , , , , ,

Universitas Al-Muntansiriyah, Warisan Terakhir Penguasa Abbasiyah

Universitas Al-Muntansiriyah menjadi perguruan tinggi yang mengajarkan dan menyatukan empat mazhab fikih suni.

Nama universitas tertua yang berdiri di Kota Baghdad, Irak, ini memang tak sepopuler Al-Azhar di Kairo, Mesir, atau Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko. Namun, Universitas Al-Muntansiriyah yang didirikan pada 5 Mei 1234 M oleh Khalifah Al-Mustansir Billah, penguasa ke-37 Abbasiyah, ini turut memainkan peranan penting dalam sejarah peradaban Islam.

Universitas Al-Muntansiriyah tercatat sempat Berjaya pada abad ke-13 M. Perguruan tinggi inilah diawal kelahirannya secara concern mengajarkan Ilmu Al-Quran, seni berpidato, serta matematika. Universitas ini pun mencatatkan dirinya sebagai perguruan tinggi perintis di Baghdad yang mampu menyatukan pengajaran berbagai bidang ilmu dalam satu tempat.

Pada awalnya, madrasah-madrasah di metropolis intelektual Islam, begitu Baghdad kerap dijuluki, mengajarkan ilmu tertentu secara khusus. Namun, Khalifah Al-Mustansir Billah menyatukan empat studi penting pada masa itu ke dalam satu perguruan tinggi. Keempat bidang studi itu, antara lain: ilmu Al-Quran, biografi Nabi Muhammad, ilmu kedokteran, serta matematika.

Untuk koleksi kain tenun tapis terlengkap, silahkan kunjungi www.rumahtapis.blogspot.com

Universitas yang dibangun pada 1227 dan diresmikan pada 1234 itu diyakini sebagai salah satu universitas tertua dalam sejarah. Pamor universitas ini mampu membetot perhatian para pelajar dari seluruh dunia untuk menimba ilmu di Kota Baghdad. Para pelajar berbondong-bondong datang ke Mustansiriyah untuk mempelajari ilmu unggulan yang ditawarkan di sana.

Al-Mustansiriyah pun menjadi perguruan tinggi yang mengajarkan dan menyatukan empat mazhab fikih suni yakni, Hambali, Syafii, Maliki, dan Hanafi. Setiap mazhab menempati pojok madrasah, istilah perguruan tinggi di era kekhalifahan. Inilah salah satu kelebihan dari Universitas Al-Muntansiriyah.

Guna menunjang aktivitas perkuliahan, Khalifah Al-Mustansir Billah mendirikan sebuah perpustakaan yang luar biasa besarnya. Penjelajah Muslim terkemuka kelahiran Tangier, Maroko, Ibnu Batuta mengungkapkan betapa besarnya perpustakaan kampus Universitas Al-Muntansiriyah.

Menurut Ibnu Batuta, perpustakaan ini mendapatkan sumbangan buku-buku langka yang diangkut 150 unta. Dari kekhalifahan saja, pada abad ke-113 M perpustakaan ini mendapatkan sumbangan 80 ribu buku. Perpustakaan ini terbilang unik di dalamnya terdapat rumah sakit.

Awalnya, universitas ini didirikan Khalifah Al-Mustansir untuk mempromosikan Islam Suni ketika Baghdad menjadi pusat kekhalifahan terbesar di dunia. Keberadaan universitas ini tentu sangat penting karena mampu melahirkan para ilmuwan dan intelektual terkemuka pada zamannya.

Seiring berkembangnya waktu, universitas ini juga mengajarkan studi zoology dan linguistic.

Gedung dan bangunan Universitas Al-Muntansiriyah terkenal dengan keindahannya. Terletak di tepi kiri Sungai Tigris, perguruan tinggi ini juga sempat menjadi korban keganasan invasi bangsa Mongol yang dipimpin Khulagu Khan. Hingga kini, bangunan aslinya masih tetap ada dan sempat direstorasi. Bekas bangunannya masih menjadi daya tarik kota Baghdad.

Nama besar perguruan tinggi yang sempat Berjaya pada abad ke-13 M dan sempat mati setelah invasi bangsa Mongol itu pun akhirnya dihidupkan kembali. Pada 1963, para ilmuwan dan intelektual di Baghdad membidani lahirnya kembali perguruan tinggi yang mengambil nama dari sekolah tinggi di masa kejayaan, yakni Universitas Al-Muntansiriyah.

Universitas Al-Muntansiriyah modern memiliki 10 fakultas, dua institute, dan empat pusat studi dan kajian.

Bangunan Universitas Al-Muntansiriyah yang indah itu juga sempat dihantam bom saat Amerika Serika menyerbu Baghdad. Universitas Al-Muntansiriyah di era modern itu merupakan bagian dari Universitas Baghdad yang berdiri sejak 1963. Ilmu hukum dan sastra, jurusan favorit di universitas ini.

Setelah abad ke-15 M, bekas bangunan Universitas Al-Muntansiriyah sempat digunakan sebagai rumah sakit dan kadang dipakai sebagai barak tentara. Sejak 1945, Direktorat Purbakala Irak kembali memperbaiki monument bersejarah itu. Kejayaan Universitas Al-Muntansiriyah terbilang tidak lama. Setelah Khalifah Al-Mustansir wafat dan digantikan Al-Must’sim, kekuatan Dinasti Abbasiyah mulai ambruk.

Dinasti yang berkuasa hampir lima abad itu pun tak lagi mampu mempertahankan posisinya sebagai adikuasa dunia. Kekhalifahan Abbasiyah luluh lantak dihancurkan bangsa Mongol pimpinan Khulagu Khan pada 1258 M. Dengan jatuhnya Baghdad ke tangan bangsa Mongol, Universitas Al-Muntansiriyah pun turut tenggelam.

Republika 28 Desember 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s