Wanita Lebih Utama Shalat di Rumah atau di Masjid?

Posted: January 13, 2016 in Ibadah
Tags: , ,

Wanita Lebih Utama Shalat di Rumah atau di Masjid?

Banyak mubaligh yang menganjurkan kaum perempuan agar tidak ikut ke masjid menunaikan shalat berjamaah. Mereka berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Ummu Humaid, “Shalatnya salah seorang perempuan di makhda (sejenis kamar untuk menyimpan barang) lebih utama daripada shalat di kamarnya. Dan shalatnya di kamar lebih utama daripada shalat di rumahnya. Dan shalat di rumahnya lebih utama daripada shalatnya di masjid kaumnya. Dan shalat di masjid kaumnya lebih utama daripada shalat bersamaku.” (HR. Ahmad)

Hadis yang dihasankan Al-Albani ini juga menjadi dalil mufti Arab Saudi, Abdu Aziz bin Baz, ketika ditanya soal shalat kaum perempuan. Manakah yang lebih utama, shalatnya kaum perempuan di rumah atau di Masjidil Haram yang keutamaannya 100 ribu kali lipat dibanding shalat di masjid biasa? Bin Baz menjawab, shalat kaum perempuan lebih utama di rumah saja.

Hal ini terkadang menuai kegelisahan bagi kaum perempuan. Di satu sisi, merekalah yang paling bersemangat untuk shalat ke masjid. Fenomena diberbagai masjid, jamaah perempuan kadang lebih banyak dibanding jamaah laki-laki. Sementara, ketika mereka ingin shalat ke masjid, ada anjuran agar mereka lebih utama untuk shalat di rumah saja.

Untuk koleksi kain tenun tapis terlengkap, silahkan kunjungi www.rumahtapis.blogspot.com

Para fukaha memang berbeda pendapat dalam persoalan ini. Beberapa ulama lebih cenderung menghukum secara tekstual dari hadis tersebut. Sementara, ulama kontemporer lebih cenderung mengkaji aspek maslahat-mudarat serta tinjauan fikih prioritas. Kebanyakan fukaha tetap menganjurkan kaum perempuan untuk shalat ke masjid sebagaimana kaum laki-laki.

Ulama kontemporer berpendapat, penekanan dalam hadis riwayat Imam Ahmad tersebut bukan pada larangan ke masjid, melainkan perhatian kaum perempuan untuk lebih menjaga hijab.

Makhda lebih tertutup dari kamar. Kamar lebih tertutup dari rumah. Rumah lebih tertutup dari masjid kaumnya. Kemudian masjid kaumnya lebih tertutup daripada masjid jami’. Berarti yang dimaksud hadis tersebut adalah penegasan agar kaum perempuan lebih memperhatikan penutup pada saat shalat.

Selain itu, ulama kontemporer juga mengkaji asbabul wurud (latar belakang keluarnya hadis) dari hadis riwayat Imam Ahmad ini. Menurut mereka, hadis ini dikeluarkan ketika maraknya gangguan yang dihadapi kaum muslimin dari orang-orang kafir. Tak jarang kaum muslimin mendapatkan pelecehan dan penistaan di tempat umum. Tentu saja kondisi rawan keamanan ini sangat berbahaya bagi kaum perempuan yang lemah secara fisik.

Adapun saat ini tak ditemui lagi kondisi rawan keamanan sebagaimana zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dulu. Maka, dengan hilangnya ‘illat (penyebab) berupa rawan keamanan, hilang pula hukuman berupa anjuran shalat sendiri bagi wanita di rumah. Jadi, kaum perempuan tetap dianjurkan ke masjid selama aman dari fitnah dan bisa menjaga auratnya dengan baik.

Pada zaman Rasulullah, kaum perempuan kerap hadir shalat berjamaah. Tentunya ketika kondisi sedang kondusif. Riwayat dari Aisyah, “Mereka wanita-wanita mukminah menghadiri shalat subuh bersama Rasulullah. Mereka berselimut dengan kain-kain mereka. Kemudian para wanita itu kembali ke rumah-rumah mereka seselesainya dari shalat tanpa ada seorang pun yang mengenali mereka karena masih gelap.” (HR. Bukhari-Muslim)

Jadi, perbuatan melarang kaum perempuan untuk ikut shalat berjamaah ke masjid adalah tindakan keliru. Hal ini juga bertentangan dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jangan kalian cegah hamba-hamba perempuan Allah dari shalat di masjid-masjid-Nya.” (HR. Bukhari)

Kendati demikian, hukum shalat berjamaah di masjid bagi kaum perempuan tidaklah wajib sebagaimana pendapat masyhur yang diperuntukkan bagi laki-laki.

Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla mengatakan, tak ada perselisihan di kalangan ulama dalam hal tidak wajibnya kaum perempuan untuk hadir shalat berjamaah di masjid. Menurut Imam Nawawi, hukumnya bukan fardhu ain, bukan pula fardhu kifayah, melainkan hanya mustahab (sunah).

Kaidah asal kaum perempuan dihukum sunah untuk ikut shalat berjamaah ke masjid. Tentu hal inilah yang lebih utama mengingat ada aspek ibadah dan tarbiyah.

Namun, jika shalatnya kaum perempuan di masjid mengundang fitnah, rawan keamanan, serta uzur lainnya, kembali kepada hadis Nabi yang diriwayatkan Imam Ahmad tadi. Shalat kaum perempuan lebih utama di makhda-nya dalam kondisi tersebut.

Fitnah yang dimaksudkan, jika mengundang ikhtilath (percampuran) antara laki-laki dan perempuan walau mereka berada di masjid atau tidak tersedianya tempat yang tertutup di ruangan masjid.

Imam Abu Hanifah, Syafii, Hanbali memakruhkan wanita berparas cantik untuk shalat berjamaah di masjid. Yang demikian jika kecantikannya mengundang fitnah bagi jamaah laki-laki. Bahkan, Imam Malik secara tegas melarang wanita cantik dan kaum perempuan yang bersolek untuk shalat di masjid jika diyakini akan menimbulkan fitnah bagi jamaah laki-laki.

Republika, 23 Desember 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s