Menjadi Suami Ideal

Posted: January 20, 2016 in Akhlak
Tags: , ,

Rasulullah Sosok Panutan Keluarga

Sebagai pemimpin agama dan umat, Rasulullah sangat perhatian ke keluarga.

Sebelum bicara terlalu jauh dalam konsep berbangsa dan bernegara, kesuksesan sebenarnya diawali dari keluarga. Inilah basis keberhasilan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam memimpin umat yang dimulai dari keberhasilan dalam keluarga.

Rasulullah bersabda, “Yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik kepada keluarganya. Dan aku adalah yang terbaik pada keluargaku di antara kalian.” (HR. Tirmidzi)

Dalam hadis di atas, tergambar bagaimana Islam sangat memuliakan keluarga. Kendati Rasulullah seorang kepala negara, panglima perang, dan pemimpin umat, beliau tetap bisa menjadi suami dan ayah terbaik bagi sembilan rumah tangganya.

Rasulullah merupakan sosok suami sempurna yang mesti diteladani. Sesibuk apapun aktivitas suami tak boleh luput memperhatikan keluarga. Sebagaimana penuturan Aisyah, Rasulullah tak segan membantu pekerjaan rumah tangga (HR. Bukhari).

Untuk koleksi kain tenun tapis terlengkap, segera kunjungi www.rumahtapis.blogspot.com

“Selain imam atau pemimpin dalam keluarga, Rasulullah menjadi pelindung, pengayom, dan menunaikan hak-hak anggota keluarga dengan sempurna.”

Beliau tak pernah sekali pun ia mengasari baik perkataan maupun perbuatan. Betapapun besarnya tanggung jawab beliau di luar rumah sebagai pemimpin umat, itu tak mengurangi kelembutan dan kasih sayangnya dalam keluarga.

Bahkan, ketika nabi sedang berbicara dengan tokoh-tokoh besar Quraisy dalam berdakwah, beliau tak segan memangku, memeluk, dan mencium cucunya.

Setidaknya ada empat modal dasar Rasulullah yang menjadikannya figure suami dan ayah terbaik. Moda tersebut adalah jujur, amanah, cerdas, dan tabligh. Tabligh bukan hanya diartikan menyampaikan, melainkan juga kemampuan berkomunikasi dengan baik pada siapapun.

Dalam berbagai riwayat disebutkan, Rasulullah tak mau melewatkan sesi makan bersama keluarga. Rasulullah bersama istrinya, Aisyah terbiasa memakan bis (sejenis bubur) bersama (HR. Bukhari).

Makan sepiring berdua bukanlah simbol kesederhanaan, apalagi kemiskinan. Suami-istri makan berdua bisa memupuk rasa kasih sayang dan kemesraan di antara mereka. “Dan sesungguhnya jika engkau memberikan nafkah, hal itu adalah sedekah, hingga suapan nasi yang engkau suapkan ke dalam mulut istrimu.” (HR. Bukhari-Muslim)

Republika 23 Desember 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s