Antara Nikmat Atau Laknat

Posted: January 31, 2016 in Kaidah

Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa. (QS. Al-An’am: 44)

Ayat ini dijelaskan oleh Prof. Wahbah Az-Zuhaily, ketika mereka berpaling dan melupakan apa yang telah diperingatkan oleh nabi-nabi mereka, baik ancaman maupun kabar gembira, dan mereka terus-menerus berada dalam kekufuran dan kedurhakaan kepada Allah, maka Allah akan bukakan untuk mereka pintu-pintu rezeki, kesejahteraan dalam hidup, kesehatan dan rasa aman sesuai yang mereka inginkan. Inilah yang disebut dengan istidraj. Di saat mereka bersenang-senang dengan apa yang diberikan kepada mereka, mulai dari bersenang-senang dengan harta benda, anak-anak dan rezeki yang melimpah, maka secara tiba-tiba Allah pun menurunkan siksa. Itu membuat mereka merasa putus asa dari mendapatkan keselamatan dan dari hal-hal kebaikan lainnya.

Dari penjelasan ayat di atas, kita bisa memahami bahwa tidak selamanya nikmat itu bukti kecintaan Allah kepada kita, tapi kadang merupakan istidraj. Lalu, apa itu istidraj?

Ketika seseorang selalu mendapatkan nikmat dari Allah, padahal dia suka melakukan maksiat, itulah istidraj. Dari luar seakan-akan mendapatkan nikmat, padahal itu sebenarnya merupakan hukuman dari Allah atas kemaksiatannya hingga jika telah tiba waktunya, giliran murka Allah yang akan dia terima.

(Baca juga: koleksi kain tenun tapis terlengkap)

Karena itu, cukuplah ayat ini sebagai bahan introspeksi, apakah nikmat yang selama ini kita dapatkan murni sebuah nikmat ataukah istidraj dari Allah. Kalau nikmat itu disertai dengan amalan-amalan baik, mungkin itu nikmat itu murni sebuah nikmat. Tapi jika nikmat itu disertai dengan seringnya berbuat maksiat kepada Allah, maka bisa jadi itu istidraj.

Sering kita mengeluh kepada Allah atas nasib kita di dunia ini. Nikmat yang diberikan kepada kita serasa masih kurang, padahal kita telah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Sedangkan orang yang selalu berada dalam kemaksiatan justru mendapatkan nikmat yang lebih besar daripada kita. Dalam kondisi seperti ini jika kita melihat dari segi luar saja, mungkin kita akan beranggapan bahwa Allah itu tidak adil. Tapi jika kita mau melihat lebih dalam lagi, kita akan memahami bahwa itu merupakan istidraj dari Allah untuk mereka yang selalu berada dalam kemaksiatan.

Adapun orang-orang yang bertakwa kepada Allah tapi masih saja berada dalam kondisi kekurangan, itu merupakan bentuk ujian dari Allah. Yang ujian tersebut berfungsi untuk meninggikan derajat bagi orang-orang yang berhasil melewatinya.

Perlu kita pahami juga bahwa bentuk kecintaan Allah kepada kita tidaklah diukur dari besar kecilnya nikmat harta yang diberikan. Melainkan harus kita lihat dari nikmat hidayah yang diberikan Allah kepada kita, yaitu hidayah untuk mau melaksanakan perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena jika kecintaan Allah itu kita ukur dari segi materi semata, maka rusaklah agama ini. Kita semua akan berlomba-lomba mencari harta yang sifatnya duniawi dan melupakan ibadah kita kepada Allah.

Dari uraian di atas, cobalah kita renungkan tentang apa yang terjadi di sekitar kita. Banyak sekali orang yang diberikan nikmat kedudukan atau jabatan, tapi itu merupakan istidraj dari Allah.

Kita melihat para koruptor yang kesemuanya orang-orang yang memiliki harta dan kedudukan. Tapi meskipun demikian, mereka tetap mencuri harta rakyat dengan wasilah kedudukannya tersebut. Dari sini mungkin bisa kategorikan bahwa itu merupakan istidraj dari Allah.

Allah sengaja biarkan dia tetap dalam jabatannya itu agar dia terus-menerus dalam kemaksiatannya. Jika dia sudah terlena dengan kesenangannya itu maka secara tiba-tiba akan datang hukuman dari Allah.

Terkadang juga kita jumpai sekelompok orang yang tidak menyukai Islam, tapi mereka dapat kemudahan jalan untuk memusuhi Islam, baik kemudahan dalam menyebarkan fitnah maupun kemudahan dalam menguasai kepemimpinan. Ini juga merupakan istidraj dari Allah sebagai bentuk kemurkaan Allah terhadap mereka yang selalu memusuhi Islam. Tapi sebanyak apapun juga musuh, Islam pada akhirnya akan bertahan.

Inilah yang perlu kita pahami agar bisa membedakan antara nikmat dengan istidraj.

Sumber:

Sabili Edisi 4 Tahun 01 November 2014 Hal. 8-9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s