Mengatasi Resistensi Antibiotik

Posted: February 1, 2016 in Kesehatan
Tags: , ,

Kasus kematian akibat resistensi antibiotic banyak terjadi di dunia.

Sejak pertama kali ditemukan pada 1928, antibiotic sangat berguna untuk menyembuhkan banyak pasien dengan penyakit infeksi. Saat ini, pengobatan banyak jenis penyakit akibat mikroba atau bakteri umumnya diatasi dengan antibiotic.

Antibiotic adalah segolongan molekul yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi atau jamur, baik alami maupun sintetik. Obat tersebut mempunyai efek menekan atau menghentikan proses biokimia di dalam organisme, khususnya dalam proses infeksi dalam bakteri.

Antibiotic adalah obat ampuh dan bermanfaat jika digunakan dengan benar. Namun, jika digunakan tidak semestinya, antibiotic justru akan mendatangkan berbagai kerugian bagi orang yang mengonsumsinya.Mengatasi Resistensi Antibiotik

Dahulu, banyak orang meninggal karena infeksi, tetapi dengan adanya antibiotic, masalah tersebut bisa teratasi.

Antibiotic hanya bermanfaat dan efektif untuk membunuh bakteri, tapi tidak membunuh virus. Penyakit yang bisa diobati dengan antibiotic adalah penyakit-penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Jika penggunaan antibiotic kurang tepat, bisa menyebabkan resistensi terhadap antibiotic.

Resistensi terhadap antibiotic maksudnya adalah bakteri yang ada di dalam tubuh penderita memiliki kemampuan untuk melawan efek obat. Resistensi antibiotic ini dampaknya bisa fatal, yaitu menyebabkan kematian.

Kasus kematian akibat resistensi antibiotic sudah banyak terjadi di dunia. Menurut data WHO pada 2007, di Eropa Barat, kasus kematian akibat masalah ini mencapai 25 ribu per tahun.

Pada 2050, diperkirakan 10 juta kematian akibat resistensi antimikroba akan terjadi per tahunnya, termasuk di antaranya 4,6 juta kematian akan terjadi di Asia. Resistensi antibiotic akan menjadi pembunuh utama manusia atau pembunuh terbesar. Untuk itu perlu adanya peningkatan kesadaran di masyarakat mengenai resistensi antibiotic.

Tidak semua penyakit memerlukan antibiotic. Misalnya, flu, pilek, radang tenggorokan, infeksi telinga, bronchitis dan berbagai penyakit lainnya tidak memerlukan antibiotic.

Pasien diberikan antibiotic apabila terjadi demam tinggi, dahak berubah warna menjadi hijau atau kuning, dan darah putih tinggi.

Untuk mengatasi resistensi antibiotic memang tidak terlihat jelas gejalanya. Namun, biasanya penyakit yang diderita pasien tidak sembuh-sembuh, terutama infeksi. Jadi ketika diberikan antibiotic, sudah tidak mempan. Bahkan ada yang kebal terhadap antibiotic apapun.

Untuk mengurangi resistensi antibiotic, seseorang disarankan untuk tidak sembarangan mengonsumsi antibiotic. Obat tersebut hanya didapatkan dengan resep dokter sesuai dengan dosis dan jangka waktunya. Obat tersebut juga harus dikonsumsi sesuai waktunya dan dihabiskan.

Republika 22 Januari 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s