Berlimpahnya Materi Bukan Jaminan Kebahagiaan

Posted: February 9, 2016 in Kejiwaan
Tags:

Berlimpahnya Materi Bukan Jaminan Kebahagiaan

Kesejahteraan merupakan kata kunci dalam kebijakan ekonomi Islam. Setiap tahun, PBB lewat UNDP mengukur Human Development Index (HDI) untuk mengetahui tingkat kesejahteraan tiap-tiap negara.

HDI diukur berdasar pendapatan per kapita, usia harapan hidup, dan tingkat pendidikan masyarakat suatu negara.

Tingkat kesejahteraan negara-negara muslim, jika dilihat berdasar HDI, saat ini berada pada posisi rendah. Padahal, banyak negara muslim bergelimang kekayaan alam, terutama minyak dan gas.

Data HDI dari UNDP menentapkan pembangunan manusia Indonesia pada 2015 di posisi 108 dari 187 negara. Di kawasan ASEAN, peringkat ini lebih baik dari Filipinan (117), Timor Leste (128), Laos (139), tertinggal jauh dari Singapura (9), Brunei (30), dan Malaysia (62).

PBB merilis Norwegia sebagai peringkat pertama dalam HDI 2015. Negara ini sudah menempati peringkat pertama selama 12 kali berturut-turut.

Info kain tapis terlengkap, silahkan kunjungi www.rumahtapis.blogspot.com

Rata-rata, pendapatan warga Norwegia lebih besar 8000 dolar AS atau setara dengan Rp 109 juta dari rata-rata pendapatan Amerika Serikat. Negara ini juga dinilai berhasil mewujudkan jaminan kesehatan, tingginya tingkat pendidikan, dan usia harapan hidup yang panjang.

Namun, konsep kesejahteraan ini perlu didudukkan kembali. Pertumbuhan ekonomi tinggi tanpa dibarengi tingkat spiritualitas bukan ukuran kesejahteraan yang diharapkan dalam Islam. Norwegia negara yang menurut HDI merupakan negara yang paling sejahtera, mamiliki angka bunuh diri yang cukup tinggi, yaitu 28 orang setiap 100 ribu jiwa. Jika dibandingkan Mesir yang hanya menduduki peringkat 112 dalam HDI, angka bunuh dirinya hanya 0,1 dari 100 ribu jiwa.

Realitasnya, negara dengan tingkat kesejahteraan tinggi tidak selalu dibarengi dengan tingginya kualitas ukhrawi atau kenyamanan batin. Angka pertumbuhan ekonomi naik, tapi tidak selalu diiringi penurunan angka kejahatan dan bunuh diri.

JIka hanya kesejahteraan materi yang dikejar tanpa memerhatikan aspek moralitas dan kultural, akan terjadi peningkatan fenomena anomaly, seperti frustasi, kriminalitas, kecanduan alkohol, perselingkuhan, perceraian, gangguan mental, dan bunuh diri.

Semua fenomena itu mengindikasikan kurangnya kebahagiaan batin. Aspek material dan spiritual dalam kehidupan manusia harus dapat berjalan beriringan. Manusia tidak bisa hanya mementingkan duniawi atau rohani.  Kedua aspek ini tidak bisa berjalan sendiri-sendiri karena akan menimbulkan kegagalan dalam mencapai kesejahteraan.

Republika 24 Januari 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s