Panglima Penakluk Afrika, Uqbah bin Nafi

Posted: February 9, 2016 in Sejarah
Tags: ,

Panglima Penakluk Afrika, Uqbah bin Nafi

Masjid Agung Kairouan merupakan salah satu warisan terpenting panglima muslim ini.

Tak seorang pun pernah tercatat dalam sejarah mampu menaklukkan Afrika Utara dalam waktu kurang dari satu decade, kecuali Uqbah bin Nafi. Karena itu, tak berlebihan jikwa julukan “Penakluk Afrika” tersemat pada dirinya.

Afrika Utara adalah kawasan yang wilayahnya membentang luas mulai dari timur hingga barat. Sejarah mencatat, seorang panglima muslim mampu menguasai wilayah nan luas itu. Dialah Uqbah bin Nafi.

Uqbah bin Nafi menaklukkan Afrika Utara pada paruh kedua di abad pertama Hijriah. Wilayah yang berhasil dia taklukkan meliputi Al-Jazair, Tunisia, Libya, dan Maroko hingga ke Pantai Atlantik, kecuali Mesir yang ditaklukkan Amr bin Al-Ash.

Uqbah bin Nafi lahir di Makkah, satu tahun sebelum Nabi Muhammad hijrah. Ia dibesarkan dalam lingkungan Islam. Ia banyak mendapat didikan mengenai ajaran Islam dari sang ayah, Nafi bin Qais. Dari sang ayah pula bakat kemiliteran mengalir deras dalam darahnya.

Kedekatannya dengan penakluk Mesir, Amr bin Al-Ash, ia dapatkan dari garis keturunan ibunya. Amr bin Al Ash adalah paman Uqba yang juga mewariskan darah pejuang dalam dirinya. Uqba selalu mengikuti dan menemani ayahnya selama masa kampanye Amr bin Al Ash di Mesir.

Info kain tapis terlengkap, silahkan kunjungi www.rumahtapis.blogspot.com

Setelah penaklukan Mesir, Amr bin Al Ash kemudian mengirimkan Uqba untuk menaklukkan wilayah barat. Pada 50 H, Uqba memimpin pasukan muslim ke Afrika Utara dengan melintasi padang pasir Mesir. Dalam perjalanannya, ia mendirikan sejumlah pos militer, salah satunya di wilayah yang kini dikenal sebagai Tunisia.

Di Tunisia pula ia membangun sebuah kota bernama Koiruan yang terletak di 160 kilometer arah selatan sebuah daerah yang kini dikenal sebagai Tunis, ibu kota Tunisia. Uqba menggunakan Koirouan sebagai pos utama untuk operasi-operasi selanjutnya.

Pos-pos militer yang didirikan Uqba ini membentang sepanjang ratusan mil tanpa ada konfrontasi yang berarti dari masyarakat setempat. Setelah melintasi wilayah Tunisia, Libya, Aljazair, dan Maroko, ia pun berhasil mencapai pesisir Samudra Atlantik dengan penuh kemenangan.

Pada 55 H, Uqba diberhentikan oleh Amir Muawiyah. Dengan lapang dada, Uqba menerima pemberhentiannya dan menyerahkan komando pasukan kepada Abu Muhajer Dinar. Namun pada 62 H, Uqba lagi-lagi ditunjuk sebagai komandan pasukan untuk wilayah Maghribi, yang kini meliputi Maroko, Aljazair, Tunisia, dan Libya.

Republika, 25 Januari 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s