Ironi Penggiat LGBT

Posted: February 15, 2016 in Pemikiran
Tags:

Oleh Badrul Munir, Dokter Spesialis Saraf Divisi Infeksi RS Saiful Anwar Malang

Perkembangan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di Indonesia masih cukup menarik untuk ditelaah. Apalagi, persoalan LGBT di Indonesia berhasil membelah masyarakat menjadi dua kelompok yang saling bertentangan.

Hal ini terlihat dari pendapat masyarakat yang saling berhadapan dalam beberapa artikel di media nasional dan media sosial. Opini mereka sangat dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, pola pikir mereka, serta orientasi hidup yang bersangkutan.

Hal lain yang perlu ditelaah adalah semakin beraninya penggiat dan komunitas LGBT menunjukkan eksistensinya. Dahulu, perbuatan ini dianggap malu dan tidak sesuai dengan norma kesusilaan di masyarakat. Namun, kini sudah semakin cair dengan perkembangan zaman karena pada era globalisasi seperti sekarang ini, hak asasi manusia dan kebebasan sangat dijunjung tinggi.

Untuk info kain tenun tapis, silahkan hubungi www.rumahtapis.blogspot.com

Para penggiat LGBT dan HAM berpendapat bahwa hidup dan berhubungan sejenis merupakan hak individu yang boleh dilakukan siapa pun asal tidak merugikan orang lain. Hubungan sejenis suka sama suka bukan suatu pelanggaran, bahkan suatu pilihan hidup asasi seseorang.

Filosofis dari pengghiat LGBT ini adalah kebebasan. Artinya, setiap manusia bebas apa saja asal tidak merugikan orang lain, termasuk dalam orientasi seksual mereka tanpa adanya tekanan dari pihak manapun. Ini karena merupakan hak asasi manusia maka komunitas ini terus memperjuangkannya, baik di luar negeri maupun di dalam negeri. Perjuangan di Indonesia melalui beberapa media. Salah satu media yang memudahkan misi ini dengan mendompleng kebebasan akademis di kampus atau lembaga pendidikan tinggi lainnya.

Perjuangan penggiat LGBT banyak mendapat kemajuan. Sebagai bukti, saat ini ada 14 negara yang telah membolehkan pernikahan sejenis dan hanya tiga negara yang melarang keras dan menganggap criminal pernikahan sejenis tersebut. Sedangkan, sebagian besar negara lain (termasuk Indonesia) tidak ada aturan yang melarang atau membolehkan.

Keberhasilan penggiat LGBT semakin mendapat angina segar saat WHO menghapus LGBT dari kelainan jiwa di daftar Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM V). Keberhasilan ini kemudian didorong oleh kelompok LGBT ini dijadikan Hari Gay Sedunia.

Boleh saja para pengghiat hak asasi manusia berjuang keras melegalkan LGBT agar diperlakukan sebagai manusia lain yang punya hak untuk hidup dan memiliki orientasi seksualnya. Akan tetapi, dampak LGBT di bidang kesehatan di bawah ini mungkin bisa jadi renungan mereka semua.

Data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada 2010 memaparkan, dari 50 ribu infeksi HIV baru, ternyata dua pertiga dari mereka adalah kelompok gay. Dan yang mengejutkan, satu di antara lima gay yang terinfeksi HIV tidak peduli penyakit HIV-AIDS. Artinya, tidak ada usaha untuk mencegah HIV tertular ke orang lain dan berpotensi menular ke partner seks lainnya.

Dan ini bilang dibanding 2008 terjadi peningkatan 20 persen gay yang tertular HIV. Dan data lain dari CDC, wanita transgender mempunyai risikko terinfeksi HIV 34 kali lebih tinggi dibanding wanita biasa.

Data terbaru pada 2013 lebih mengerikan. Dari hasil screening gay umur 13 tahun ke atas, didapatkan sebesar 81 persen terinfeksi HIV dan 55 persen terdioagnosis AIDS.

Selaras dengan kejadian di Amerika, peningkatan penularan HIV di LGBT di Indonesia juga menunjukkan peningkatan yang cukup bermakna.

Penggiat LGBT bertanggung jawab?

Bila nantinya para LGBT terinfeksi HIV dan menderita AIDS yang harus dirawat di rumah sakit, siapa yang paling bertanggung jawab dan menjaganya? Apakah para penggiat LGBT dan HAM yang merawat dan menjaganya?

Dipastikan tidak! Justru yang menjaga mereka adalah keluarganya.

Satu hal lagi yang ironi adalah anggota LGBT terinfeksi HIV-AIDS karena penyimpangan seksual, mereka akan sangat tersinggung bilamana ada sekelompok masyarakat yang dianggap menjauhi mereka karena takut tertular, menganggap mereka tidak empati, dan memberi stigma negative terhadap ODHA.

Oleh karena itu, dunia mengampanyekan antidiskriminasi dan antistigma negative terhadap HIV-AIDS. Memang tidak semua ODHA berasal dari penyimpangan seksual, tetap data menunjukkan, penyebaran utama adalah hubungan seksual tidak aman, termasuk LGBT.

Sesungguhnya, para penggiat LGBT yang mengatasnamakan hak asasi manusia dan kebebasan adalah para penganjur seseorang untuk memilih jalan yang salah. Ketika korban terperosok ke dalam penyakit HIV-AIDS, mereka pasti tidak mau menanggungnya dan menyerahkan dampak kepada penderita dan keluarga.

Republika 12 Februari 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s