Peran Wali Songo Yang Diabadikan Sejarah

Posted: March 30, 2016 in Sejarah
Tags:

Peran Wali Songo Yang Diabadikan Sejarah

Sunan Gresik

Maulana Malik Ibrahim atau Syekh Magribi. Hal ini karena ia diduga berasal dari wilayah Magribi (Afrika Utara). Namun hingga kini, tidak diketahui secara pasti sejarah tentang tempat dan tahun kelahirannya.

Ia diperkirakan lahir sekitar pertengahan abad ke-14. Sunan Gresik diyakini sebagai pelopor penyebaran agama Islam di Jawa.

Upaya menghilangkan sistem kasta dalam masyarakat pada masa itu menjadi objek dakwah Sunan Gresik. Cita-cita dan perjuangannya menyebarkan Islam di Jawa kemudian dilanjutkan oleh anaknya, Sunan Ampel.

Sunan Ampel (Campa, Aceh, 1401-Tuban, Jawa Timur, 1481)

Nama aslinya Raden Rahmat. Ia adalah putra Sunan Gresik dari istrinya yang bernama Dewi Candrawulan. Sunan Ampel adalah penerus cita-cita dan terkenal sebagai perencana pertama kerajaan Islam di Jawa.

Ia memulai aktivitasnya dengan mendirikan pesantren di Ampel Denta dekat Surabaya, sehingga, ia dikenal sebagai Pembina pondok pesantren pertama di Jawa Timur.

Di pesantren inilah, Sunan Ampel mendidik para pemuda Islam untuk menjadi tenaga dai yang akan disebar ke seluruh jawa. Sunan Ampel tercatat sebagai perancang Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa.

Info lengkap tentang kain tenun tapis, silahkan kunjungi www.rumahtapis.blogspot.com

Sunan Bonang (Ampel Denta, Surabaya 1465-Tuban 1525)

Ia adalah pencipta gending pertama untuk mengembangkan ajaran Islam di pesisir utara Jawa Timur. Ia adalah putra Raden Rahmat dari perkawinanya dengan Dewi Candrawati dan merupakan saudara sepupu Sunan Kalijaga. Ia terkenal dengan nama Raden Maulana Makhdum Ibrahim.

Dalam menyebarkan agama Islam, Sunan Bonang dan para wali lainnya selalu menyesuaikan diri dengan corak kebudayaan masyarakat Jawa yang sangat menggemari wayang serta music gamelan. Sunan Bonang sendiri menciptakan lagu yang dikenal dengan tembang durma, sejenis macapat yang melukiskan suasana tegang, bengis, dan penuh amarah.

Sunan Giri (Blambangan, pertengahan abad ke-15 sampai awal abad ke-16)

Nama aslinya Raden Paku, disebut juga Prabu Satmata, dan kadang disebut Sultan Abdul Fakih. Ia adalah putra dari Maulana Ishaq yang ditugaskan Sunan Ampel untuk mengembangkan Islam di Blambangan.

Sunan Giri dikenal sebagai pendidik yang berjiwa demokratis. Ia mendidik anak-anak melalui berbagai permainan yang berjiwa agama, misalnya jelungan, jamuran, gendi ferit, jor, gulag anti, cublak-cublak suweng, ilir-ilir.

Sunan Drajat (Ampel Denta, Surabaya, 1470-Sedayu, Gresik Pertengahan abad ke-16)

Nama aslinya Raden Qasim atau Syarifuddin, tetapi karena ia dimakamkan di daerah Sedayu, kebanyakan masyarakat awam mengenalnya sebagai Sunan Sedayu. Hal yang paling menonjol dalam dakwah Sunan Drajat adalah perhatiannya yang sangat serius pada masalah-masalah sosial.

Ia terkenal memiliki jiwa sosial, dan tema-tema dakwahnya selalu berorientasi pada kegotongroyongan. Ia selalu memberi pertolongan kepada umum, seperti menyantuni anak yatim dan fakir miskin sebagai suatu proyek sosial yang dianjurkan agama Islam.

Sunan Kalijaga (akhir abad ke-14 sampai pertengahan abad ke-15)

Sunan Kalijaga dikenal sebagai seorang wali yang berjiwa besar, berpandangan jauh, berpikiran tajam, intelek, serta berasal dari suku Jawa asli. Sunan Kalijaga bernama asli Raden Mas Syahid dan kadang-kadang dijuluki Syekh Malaya.

Sunan Kalijaga memiliki jasa dalam memperkenalkan media dakwah melalui wayang dan gamelan. Sunan Kalijaga juga sangat berjasa dalam perkembangan wayang purwa atau wayang kulit yang bercorak islami seperti sekarang.

Ia mengarang aneka cerita wayang yang bernapaskan Islam, terutama mengenai etika. Jasa Sunan kalijaga terhadap kesenian bukan hanya terlihat pada wayang dan gamelan, tetapi juga dalam seni suara, seni ukir, seni busana, seni pahat dan kesusastraan.

Sunan Kudus (Abad ke-15, Kudus, 1550)

Nama aslinya Ja’far Sadiq, tetapi sewaktu kecil dipanggil Raden Undung. Sunan Kudus menyiarkan agama Islam di daerah Kudus dan sekitarnya. Dia memiliki keahlian khusus dalam bidang ilmu agama, terutama dalam ilmu fikih, tauhid, hadis, tafsir, serta logika.

Dalam melaksanakan dakwah dengan pendekatan kultural, Sunan Kudus menciptakan berbagai cerita keagamaan. Yang paling terkenal adalah Gending Maskumambang dan Mijil. Sunan Kudus juga mendirikan masjid di daerah Loran pada 1549. Masjid itu diberi nama Masjid Al-Aqsa atau Al-Manar.

Sunan Muria (Abad ke 15-16)

Salah seorang walisongo yang banyak berjasa dalam menyiarkan agama Islam di pedesaan di Pulau Jawa. Ia adalah putra Sunan Kalijaga. Nama aslinya Raden Umar Said atau Raden Said, sedang nama kecilnya adalah Raden Prawoto.

Cara yang ditempuh Sunan Muria dalam menyiarkan Islam adalah dengan mengadakan kursus-kursus bagi kaum pedagang, para nelayan, dan rakyat biasa. Ia menciptakan tembang dakwah Sinom dan Kinanti.

Sunan Gunung Jati (Makkah, 1448-Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat 1570)

Salah seorang dari Wali Songo yang banyak berjasa dalam menyebarkan Islam di Pulau Jawa, terutama di daerah Jawa barat. Ia juga pendiri Kesultanan Cirebon. Nama aslinya Syarif Hidayatullah. Dialah pendiri dinasti raja-raja Cirebon dan kemudian Banten.

Republika 28 Februari 2016

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s