Perhatikan Tumbuh Kembang Anak Down Syndrome

Posted: March 30, 2016 in Anak
Tags:

Perhatikan Tumbuh Kembang Anak Down Syndrome

Munculnya down syndrome bukan karena faktor keturunan, melainkan kelainan kromosom 21.

Memiliki anak yang terlahir dengan keistimewaan tertentu bukanlah hal yang mudah bagi orang tua. Demikian juga dnegan anak yang mengalami down syndrome. Orang tua tentu dituntut lebih dalam memerhatikan, memperlakukan, dan mendidik buah hatinya demi perkembangannya.

Orang tua tersebut harus dapat menerima dengan berbesar hati atas kondisi anaknya. Dengan keikhlasan, orang tua dapat mendukung tumbuh kembang anak dengan baik.

Kuncinya, orang tua bisa menerima kondisi anak dengan kebutuhan khusus yang mengalami down syndrome.

Sikap penolakan terhadap anak, akan menghambat perkembangan mereka. Untuk itu, orang tua diharapkan memahami keistimewaan buah hatinya dan memberikan perhatian serta perlakuan sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya. Ketahui karakternya seperti apa, lalu dididik untuk bisa mandiri dengan memberikan stimulus sesuai dengan kemampuan anak.

Info lengkap kain tenun tapis lampung, kunjungi www.rumahtapis.blogspot.com

Jika orang tua baru mengetahui anaknya mengalami down syndrome, dihimbau agar orang tua berkonsultasi ke psikolog maupun dokter untuk mengetahui langkah yang tepat dalam mendampingi anaknya.  Bisa jadi, usianya 11 tahun, tapi usia mentalnya baru empat tahun.

Orang tua juga diminta agar tidak terfokus pada kekurangan anak, tapi menggali terus minat dan bakat anak-anaknya. Soalnya, setiap anak down syndrome pasti memiliki sisi lain yang bisa dikembangkan.

Janin dengan down syndrome dapat dideteksi sejak dini. Pemeriksaan itu melalui tes ultrasonografi (USG).

Kehamilan dengan janin down syndrome tidak menunjukkan sejala khusus pada ibu hamil, tapi bisa diketahui lewat USG. Munculnya down syndrome, bukan faktor keturunan, melain kelainan kromosom, yaitu hadirnya kromosom 21 rangkap tiga (trisomy 21).

USG pada kehamilan 11 sampai 14 minggu dapat melihat ada tidaknya penebalan tulang tengkuk janin. Apabila penebalan area itu lebih dari tiga millimeter, janin dicurigai down syndrome.

Setelah itu, diperlukan tes darah untuk crytyping guna memastikan ada tidaknya trisomy 21. Berikutnya, dilakukan USG pada trisemester kedua untuk melihat kelainan organ pada janin. Biasanya, janin dengan trisomy 21 akan mengalami kelainan, seperti pada jantung, tidak memiliki tempurung kepala, ginjal, terhambatnya perkembangan organ gastrointestinal.

Jika kelainannya cukup berat sehingga menyebabkan bayi tidak mampu bertahan hidup setelah dilahirkan, sebaiknya dilakukan pengakhiran kehamilan atau terminasi.

Risiko kejadian down syndrome dapat diminimalisasi dengan hamil di usia reproduksi sehat, yakni 20 sampai 35 tahun. Meski risikonya tetap saja ada. Di luar itu, kemungkinan janin mengalami down syndrome semakin tinggi.

Republika 22 Maret 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s