Dibawah Kepemimpinan Ulama

Posted: March 2, 2017 in Pemikiran, Uncategorized

Di dalam Al-Quran disebutkan bahwa orang yang paling takut pada Allah adalah ulama. Ulama merupakan orang yang paling mengenal Allah, serta paling mengetahui sifat-sifat dan syariat-Nya. Ulama menjadi sosok yang teguh dan kukuh dalam menjalankan dan memperjuangkan syariat-Nya, serta orang yang paling bersemangat dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak pada yang baik dan mencegah pada yang buruk).

Dalam sebuah hadits shahih pun, Nabi Muhammad S.A.W. menyatakan bahwa ulama merupakan pewaris para nabi. Bukan harta atau jabatan yang diwariskan oleh para nabi, namun mereka mewariskan ilmu. Orang-orang yang paling bersemangat dalam memburu warisan para nabi adalah ulama. Ketika tidak ada lagi nabi yang membimbing dan memberi peringatan pada umat, maka tugas itu diestafetkan kepada para ulama. Ulama menjadi sumber pencerahan bagi umat yang membutuhkan bimbingan dan petunjuk dalam hidupnya.

Dengan demikian, ulama merupakan orang-orang yang memiliki jiwa merdeka. Pujian manusia bukanlah sumber kebahagiaan mereka. Sebaliknya, dicela pun tidak menjadikan mereka bersedih hati.  Mereka memahami bahwa hakikat kebahagiaan adalah ketika mampu menjalankan dan memperjuangkan syariat Allah, sedangkan hakikat kesedihan adalah ketika melanggar larangan-larangan-Nya serta berdiam diri ketika melihat larangan-larangan-Nya dilanggar.

Keberkahan ilmu dan pelajaran hidup dari para ulama tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Mereka merupakan panutan umat. Buah pemikiran dan biografi hidup mereka dipelajari oleh umat dari masa ke masa serta dari berbagai penjuru dunia. Penjara pun tidak menjadikan pengaruh mereka terkungkung dalam bilik jeruji. Ketika keadilan tidak ditegakkan, maka mereka berada dalam garda paling depan dalam melawan kezaliman. Sehingga wajar, jika dalam sejarah, banyak ulama yang dipenjara, disiksa, bahkan dibunuh ketika harus berhadapan dengan penguasa yang zhalim. Kekuasaan dan kekuatan penguasa tidak menciutkan nyali mereka untuk menyampaikan kebenaran, karena ketakutan terbesar mereka hanya kepada Allah, Sang Maha Kuasa, Raja dari segala raja.

Oleh karenanya, jika saat ini ada upaya mengkriminalisasi ulama, maka sebenarnya tindakan  itu tidak akan menyurutkan perjuangan ulama dan umatnya dalam menyuarakan kebenaran. Penjara sudah menjadi tempat yang pasti disinggahi para ulama yang bersikukuh dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Bahkan ancaman pembunuhan dan penyiksaan sudah seperti makanan yang dilahap sehari-hari. Perlindungan paling tinggi datangnya hanya dari Allah. Jika manusia bersepakat untuk berbuat celaka, namun jika Allah tidak menghendaki, maka kecelakaan tidak akan terjadi. Ulama mengetahui hakikat dan sumber perlindungan, maka mereka tidak gentar dengan serangan manusia-manusia durjana yang ingin memadamkan kebenaran dan keadilan.

Bukan ulama jika ia memusuhi umat Islam. Bukan ulama jika ia mempermainkan ayat-ayat dan tafsir Al-Quran. Bukan ulama jika ia mempermainkan syariat Islam. Bukan ulama jika ia tidak menegakkan perintah Allah. Bukan ulama jika ia tidak takut pada ancaman azab dari Allah di dunia maupun di akhirat. Bukan pula ulama yang ia justru berusaha meredam semangat umat dalam menegakkan kebenaran dan keadilan.

Habib Rizieq pernah menyampaikan dalam ceramahnya tentang kisah Nabi Ibrahim yang mampu menaklukkan Raja Namrud, serta kisah Nabi Musa yang mampu mengalahkan Fir’aun. Keduanya melawan penguasa yang sangat kuat, zhalim, bahkan mengaku sebagai Tuhan. Dengan pertolongan Allah, Nabi Ibrahim dan Nabi Musa berhasil mengatasi penguasa yang zhalim tersebut. Jadi tugas ulama dan umatnya adalah konsisten memperjuangkan dan menampakkan kebenaran, kapan pun dan dimanapun. Allah dengan kekuatan-Nya akan menolong hamba-hamba-Nya serta memenangkan kebenaran. Meskipun dalam kondisi tertentu, dengan hikmah-Nya pula, kadang kebenaran itu harus kalah. Namun inti dari perjuangan adalah kerja keras dan konsistensi, sedangkan hasilnya seutuhnya diserahkan kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Ketika umat mengalami krisis kepemimpinan, maka umat harus kembali kepada ulamanya. Ulama adalah pemimpin umat meskipun ia tidak memiliki kekuatan angkatan bersenjata dan tidak memiliki kekuasaan politik. Namun dengan keilmuan dan kebajikannya, ulama mengetahui jalan yang harus ditempuh umat agar mereka tidak terjerumus dalam jurang kesalahan. Ulama sangat tulus dan ikhlas mencintai umatnya. Kepentingan mereka pada umatnya bukanlah untuk mendapatkan harta atau jabatan. Satu-satunya kepentingan mereka hanya untuk membimbing umat agar hidup mereka dirahmati, dilindungi dan diridhoi Allah. Merdeka!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s