Ibadah kurban hukumnya Sunnah muakad (sangat dianjurkan) bagi orang yang mampu secara materi. Ini seperti dijelaskan oleh Rasulullah, “Barangsiapa memiliki kelapangan materi, lalu ia tidak berkurban, maka janganlah ia datang ke tempat shalat kami.” (HR. Ahmad)

Perintah melaksanakan ibadah kurban mempunyai beberapa makna penting.

Pertama, ibadah kurban merupakan usaha muslim mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Untuk mau dan dapat bekurban perlu melakukan perjuangan, terutama mengendalikan hawa nafsu dan egoisme diri. Egoisme diri cenderung membuat orang lupa kepada Allah Ta’ala dan mengabaikan ajaran agama.

Kemauan bekurban terkait pula dengan ketakwaan seseorang. Takwa ini pula yang dinilai Allah Ta’ala dalam bekurban, seperti firmannya, “Daging-daging unta dan darahnya itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang sampai kepada-Nya.” (QS. Al-Hajj: 37)

Kedua, melaksanakan kurban merupakan wujud syukur kepada Allah Ta’ala atas nikmat yang diterima selama ini. Karena itu, wajar sebagian nikmat yang diperoleh tersebut digunakan untuk menaati perintah Allah Ta’ala. Firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan bekurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 1-2)

Ketiga, penyembelihan hewan kurban bertujuan membantu sesama, terutama yang kurang mampu melalui pendistribusian daging kurban kepada mereka. Ini bukti kemurahan dan keikhlasan hati yang bekurban kepada sesama manusia. Melalui pembagian daging hewan kurban diharapkan tercipta kebersamaan dan persaudaraan antar sesame muslim dan manusia secara keseluruhan. Persaudaraan yang hakiki terwujud ketika manusia saling menyayangi, saling menyantuni, dan saling memberi. Yang kaya memberi yang miskin dan yang kuat membantu yang lemah. Ibadah kurban merupakan salah satu upaya Islam mewujudkan cita-cita ini.

Keempat, kurban yang dilaksanakan dengan menumpahkan darah hewan adalah simbol agar orang yang bekurban menanggalkan sifat-sifat kebinatangan yang melekat pada dirinya, misal sifat bengis, licik, egois. Begitu pula melalui kurban seorang muslim diminta menanggalkan penghambaan sesama makhluk, karena Islam hanya membenarkan penghambaan hanya kepada Allah.

Nilai dan makna kurban di atas perlu dimiliki setiap komponen bangsa untuk mengisi pembangunan ke depan dan guna menumbuhkan solidaritas antar sesama.

Republika, 28 Januari 2004

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s