Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna. Namun, mengapa bukan malaikat? Malaikat adalah makhluk Allah yang terbuat dari cahaya. Ia selalu taat dan patuh pada perintah Allah. Tidak pernah ia membangkang kepada-Nya. Jika diperintah bersujud, maka malaikat selama hidupnya akan selalu bersujud kepada-Nya. Dalam diri malaikat, Allah tidak menciptakan nafsu, sehingga tidak ada dalam dirinya dorongan untuk berbuat jahat. Hal ini yang membedakan antara manusia dengan malaikat. Manusia diciptakan dalam dirinya nafsu. Nafsu tersebut dapat mendorong manusia kepada kebaikan maupun keburukan. Pada dasarnya, nafsu selalu mengajak manusia pada keburukan.

Nafsu adalah insting dasar manusia. Sigmund Freud menamakannya dengan istilah id. Id adalah hasrat manusia untuk memenuhi kebutuhan dasarnya seperti kebutuhan fisiologis berupa makanan, minuman, maupun kebutuhan biologis berupa seks. Untuk mengendalikan dorongan nafsu pada diri manusia, maka Allah turunkan syariat, yaitu kumpulan norma-norma yang berfungsi untuk mengatur fungsi kehidupan manusia. Syariat merupakan super ego. Syariat bersifat menekan, bahkan membatasi keinginan id pada manusia. Terjadilah problema dalam diri manusia. Pada dasarnya dalam diri manusia terdapat kebutuhan untuk memenuhi hasratnya, namun di sisi lain terdapat syariat yang menekan dan membatasi pemenuhan hasrat tersebut. Disinilah titik kelebihan manusia, Allah ciptakan dalam diri manusia itu hati. Hati adalah ego, regulator dalam diri manusia. Hati ini pusat dari keimanan. Ia mengatur keseimbangan fungsi antara id dan super ego dalam diri manusia. Jika ia baik, maka baiklah manusia itu seluruhnya. Namun sebaliknya, jika hati itu buruk, maka buruklah manusia seutuhnya.

Hati akan baik, jika disibukkan dengan aktivitas berupa amal-amal kebaikan. Ia pun akan menjadi buruk, terombang-ambing, jika disibukkan dengan perkara-perkara sia-sia maupun haram. Hati yang baik akan mampu mengendalikan id, insting dasar manusia. Id bukanlah sesuatu yang tercela, sebab id adalah bagian dari eksistensi hidup manusia. Tanpa id, maka manusia akan terancam kelestarian hidupnya, karena id memberikan dorongan kepada manusia agar termotivasi dalam memenuhi kebutuhan fisiologis dan biologisnya. Hati yang baik akan bisa menyelaraskan antara pemenuhan hasratnya dengan perintah syariat. Hal ini berbeda jika hatinya buruk, maka ia tidak dapat berfungsi sebagai regulator diri. Hati akan dikalahkan oleh dorongan hawa nafsu. Apalagi jika fungsi hukuman (punishment) dalam syariat tidak dijalankan oleh masyarakat atau negara dengan baik, maka nafsu akan semakin merajalela. Maka, jadilah manusia tak ubahnya seperti binatang. Ia akan menjadi liar dalam memenuhi hasrat fisiologis maupun biologisnya. Maraknya pencurian merupakan bukti liarnya manusia dalam memenuhi kebutuhan perutnya. Sedangkan maraknya perzinaan merupakan tanda buasnya manusia dalam memenuhi hasrat seksnya. Itulah dampak ego, hati manusia, jika tidak dibangun dalam amal kebaikan.

Menurut Ibnu Qayyim, hati yang rusak dapat diobati dengan memperbanyak zikir dan memohon ampunan kepada Allah Ta’ala. Zikir akan selalu mengingatkan hati pada Sang Pencipta. Dekat dengan Sang Pencipta akan menjadikan hati merasa terawasi oleh-Nya. Hati akan menjadi kokoh, sehingga ia tak akan goyah dibujuk oleh hawa nafsunya. Selain itu, hati pun akan gentar memerintahkan anggota badannya untuk berbuat maksiat. Namun apabila hati jauh dari zikir, justru akan sebaliknya, hawa nafsu akan mudah mempermainkan hati manusia. Hati tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai bendungan yang mengatur derasnya aliran nafsu, sebab hati tidak lagi dirawat serta dipelihara dengan memperbanyak zikir. Oleh karenanya, bendungan yang tak lagi terpelihara, dibiarkan menua, apalagi jika terus digerogoti lumut-lumut kemaksiatan, maka ia akan mudah saja dihancurkan oleh derasnya dorongan nafsu.

Doa, memohon ampunan kepada Allah merupakan benteng yang menjadikan hati semakin kokoh. Sebab, hati tidaklah luput dari kesalahan maupun dosa. Setiap saat, iblis beserta pasukannya selalu mengintai dan mencari titik lemah hati manusia. Iblis beserta pasukannya selalu siap dengan tombak dan panahnya guna menghancurkan benteng pertahanan hati manusia. Tak jarang, tombak atau panah-panah iblis tersebut berhasil menembusnya. Jika pertahanannya telah tertembus, maka hati akan terluka, ia perlu melakukan perbaikan kembali (recovery), agar ia dapat melanjutkan pertempuran kembali melawan iblis beserta pasukannya. Berdoa, memohon ampunan-Nya adalah obat penawar luka tersebut. Jika obat tersebut tidak segera diobati, maka iblis beserta pasukannya akan semakin mudah membombardir pertahanan hati. Hati akan mudah ditaklukkan, kemudian dikuasai oleh iblis beserta pasukannya. Iblis beserta pasukannya akhirnya pun tertawa terbahak-bahak, angkuh, karena berhasil menaklukkan hati. Jika iblis beserta pasukannya berhasil menguasai hati, maka mereka akan jadikan hati sebagai budaknya. Mereka akan semena-mena memerintahkan hati untuk berbuat sesuai kehendak hati mereka. Tentu yang pertama adalah mereka perintahkan hati untuk membangkang pada-Nya. Kemudian, iblis jadikan hati yang kalah tersebut sebagai pengikutnya, untuk bersama-sama dengan pasukannya yang lain, menghancurkan hati-hati yang masih hanif lainnya.

Membangun hati yang kokoh memanglah membutuhkan perjuangan. Ia tidaklah dibangun hanya dalam sejenak. Benteng hati yang kokoh tentulah dibangun secara bertahap, namun berkesinambungan. Sebagaimana halnya benteng yang kokoh dalam arti sesungguhnya, maka ia dibangun dari konsep struktur bangunan dan bahan-bahan material yang terbaik. Demikian juga hati yang kokoh, maka ia dibangun dari konsep struktur bangunan ikhlas, disertai dengan rangkaian-rangkaian amalan yang baik sesuai anjuran Al-Qur’an dan sunnah. Tidak hanya dibangun lalu diabaikan, namun ia pun harus dipelihara keberadaannya. Karena hati bukanlah nilai yang konstan, ia bersifat fluktuatif, mengalami pasang dan surut.

Ramadhan merupakan moment yang penting untuk membangun kembali benteng hati kita, yang mungkin telah retak, serta menganga lebar setelah sebelas bulan ia diserang bertubi-tubi oleh iblis beserta pasukannya. Atau mungkin, telah ada dari sebagian kita, justru benteng hatinya telah hancur, roboh, karena tidak sanggup menahan godaan dan tipu daya iblis. Pada saat inilah, pada Ramadhan yang penuh barokah ini, kita harus memperbaiki, membangun kembali serpihan-serpihan benteng hati kita. Disaat iblis beserta pasukannya dibelenggu, maka tiada moment terbaik kecuali pada Ramadhan ini, untuk membangun kembali serpihan-serpihan yang telah runtuh. Perlu kiranya, kita merangkai kembali amalan-amalan yang terbaik, guna menjadikan benteng hati kita lebih kokoh, tatkala iblis beserta pasukannya telah bebas dari belenggunya, dan kembali memekikkan semangat pertempurannya melawan hati kita. Jika kita berhasil membangun kembali benteng kita pada moment Ramadhan ini, dan menjadikannya lebih kuat, kokoh, dan tangguh, maka pada bulan syawal, kita pekikkan pula takbir, bersiap menghadapi babak baru pertempuran melawan iblis, tentunya dengan hati yang ksatria dan gagah berani. Wallahu’alam

DAFTAR PUSTAKA

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. 2007. Setiap Penyakit Ada Obatnya. Jakarta: Darul Falah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s