Archive for the ‘Biografi’ Category

Salma binti Qais

Wanita yang dibaiat dua kali.

Salma binti Qais adalah salah seorang sahabiyah dari kalangan Anshar. Ia termasuk dalam golongan orang-orang yang pertama masuk Islam. Ia memeluk Islam dengan perantara Mushab bin Umair ketika berdakwah di Madinah, sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam datang ke kota itu. Ia juga dikenal dengan nama kuniyahnya, Ummul Mundzir.

Ummul Mundzir mendapat julukan mubayi’at al-baitain yang artinya orang yang dibaiat dua kali. Baiat pertama dilakukan bersama para perempuan kaum Anshar. Ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan mereka untuk tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak mereka, tidak menyebarkan fitnah, tidak bermaksiat kepada Allah, dan tidak mencurangi suami.

Salma berkata kepada salah seorang perempuan dari mereka, “Kembalilah, lalu tanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apa yang dimaksud dengan mencurangi suami kami.” (more…)

Khalifah Al-Mustansir Billah

Sejak abad ke-10 M, kekuasaan Abbasiyah perlahan tapi pasti mulai memudar. Kekuasaan Abbasiyah pada tahun 1000-1250 dalam bidang politik mulai menurun. Saat itu, terjadi masa disintegrasi di kekhalifahan yang sempat menjadi adidaya dunia itu.

Salah satu penyebabnya adalah banyaknya dinasti yang memerdekakan diri dari pusat kekuasaan Abbasiyah di Baghdad. Keruntuhan kekuasaaan Abbas mulai terlihat sejak awal abad kesembilan. Fenomena ini mungkin bersamaan dengan datangnya pemimpin-pemimpin yang memiliki kekuatan militer di provinsi-provinsi tertentu yang membuat mereka benar-benar independen.

Selain itu, fenomena perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan juga telah membuat kekuasaan Abbasiyah kian mengendur. Sisa-sisa kejayaan Abbasiyah memang masih terasa hingga abad ke-13 M. Di bawah kekuasaan Khalifah Abbasiyah ke-37, Al-Mustansir Billah, dinasti ini masih sanggup mengembangkan ilmu pengetahuan. Hal itu dibuktikan dengan dibangunnya Universitas Al-Muntansiriyah oleh Sang Khalifah. (more…)

Syekh Muhammad Mahfuz At-Tarmasi: Ahli Hadis dari Tanah Jawa yang Mendunia

Abad ke-18 menjadi tonggak kebangkitan ilmu di Haramain, dua Kota Suci, Makkah dan Madinah. Penuntut ilmu dari berbagai negara berbondong-bondong mendatangi kedua kota tersebut untuk memperdalam Islam. Tak sedikit yang berhasil dan bahkan menetap sebagai rujukan belajar para pelajar Islam.

Nama Syekh Muhammad Mahfuz bin Abdullah At-Tarmasi merupakan satu dari sekian ulama yang menorehkan tinta emas keberhasilan tokoh asli nusantara yang menimba ilmu di Haramain.

Sosok kelahiran Tremas, Jawa Timur, 31 Agustus 1868, tercatat sebagai pengajar di Masjid Al-Haram, Makkah. Prestasi ini bukan tanpa dasar. Kredibilitas dan kapasitas keilmuan yang dimiliki oleh Syekh Mahfuz At-Tarmasi ini sangat mumpuni. Ia pemegang mata rantai sanad ke-23 atau yang terakhir dari kitab Sahih Al-Bukhari.

Kepakarannya tersebut tertuang dalam berbagai karya. Syekh At-Tarmasi, begitu akrab disapa, produktif mengarang karya-karya yang berkualitas. Kitab-kitab tersebut seluruhnya berbahasa Arab, sebagaiannya telah dicetak dan disebar, tetapi ada yang dinyatakan raib. (more…)

Beliau adalah seorang cendikiawan dan filsuf muslim kelahiran Bogor, 5 September 1931 yang menetap di Malaysia. Ia menguasai teologi, filsafat, metafisika, sejarah, dan literatur.

Naquib berasa dari Hadramaut (keturunan Arab Yaman). Dari garis ibu, Naquib keturunan Sunda, sekaligus memperoleh pendidikan Islam di kota Bogor. Sementara dari jalur ayah, ia mendapatkan pendidikan kesusastraan, bahasa, dan budaya Melayu. Ayahnya yang masih keturunan bangsawan Johor itu, membuat Naquib memiliki banyak perhatian tentang budaya Melayu sejak muda. (more…)

Ilmu pengetahuan yang kita dapatkan dan pelajari saat ini, tak lepas dari peranan para ilmuwan yang terus mencari dan menggali ilmu. Hingga didapatkan sebuah teori yang logis dan masuk akal, seperti halnya para ilmuwan muslim dari berbagai belahan dunia seperti Persia, Arab, dan Turki yang sukses membuat beberapa penemuan besar yang hasilnya bisa kita pelajari saat ini.

Nama asli Ibnu Batutah adalah Abu Abdullah Muhammad bin Batutah. Ia adalah seorang penjelajah Beber Maroko. Atas dukungan dari Sultan Maroko, Ibnu Batutah menyiarkan beberapa perjalanan pentingnya kepada seorang sarjana, yakni Ibnu Jauzi yang ia temui saat sedang berada di Iberia. (more…)

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa selama sembilan tahun tinggal di Madinah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam belum melaksanakan haji. Selanjutnya, pada tahun kesepuluh, beliau mengumumkan hendak melakukan ibadah haji. Setelah pengumuman itu, berduyun-duyunlah orang datang ke Madinah. Semuanya ingin mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengamalkan ibadah haji sebagaimana amalan beliau.

Pada tanggal 25 Dzulqaidah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari Madinah. Jabir berkata, “Setelah unta yang membawanya sampai di lapangan besar, kulihat sejauh pandangan mata adalah lautan manusia, baik yang berkendaraan maupun yang berjalan kaki, mengitari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam didepan, belakang, kiri, maupun kanan beliau.” (more…)

Imam An-Nawawi adalah seorang ulama yang zuhud, banyak beramal soleh, tegas dalam membela kebenaran, serta begitu takut dan cinta pada Allah dan rasul-Nya.

Beliau menghabiskan waktunya untuk belajar ilmu dan mengajarkannya. Ia rela dengan makanan sederhana berupa roti dan buah at-tin.

Namanya adalah Yahya bin Syaraf bin Muri bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam Al-Hizam Al-Haurani Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i. Panggilannya Abu Zakaria. Dilahirkan pada bulan Muharram tahun 631 Hijriah. (more…)