Archive for the ‘Fatwa’ Category

Hukum Tentang Autopsi

Posted: May 10, 2016 in Fatwa
Tags:

Autopsi Dalam Pandangan Islam

Autopsi memang kerap muncul berkaitan dengan pengungkapan sebuah kasus yang melibatkan korban meninggal dunia. Secara mudah, autopsy dimaknai dengan pemeriksaan tubuh mayat dengan jalan pembedahan untuk mengetahui penyebab kematian, penyakit, dan sebagainya.

Dunia kedokteran mengenal tiga jenis autopsy. Pertama autopsy klinis yang dilakukan oleh dokter untuk memeriksa penyebab seseorang meninggal dunia. Alasan yang dipakai dalam autopsy klinis adalah murni kesehatan.

Kedua, autopsy anatomis. Autopsi anatomis jenis ini adalah pembedahan untuk proses belajar calon dokter dengan cara mempelajari anatomi tubuh manusia. Tujuannya jelas untuk proses pembelajaran.

Ketiga, autopsy forensic. Autopsi ini dilakukan oleh penegak hukum untuk menyelidiki penyebab kematian seseorang demi penuntasan sebuah kasus. (more…)

Advertisements

Pada dasarnya, seorang muslim diharamkan untuk menabung di bank konvensional, karena interaksi dengan riba hukumnya haram dalam ajaran Islam, sesuai ayat, “Dan Dia telah mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 276)

Bila terlanjur, maka hendaknya menarik uangnya tersebut, kecuali kalau sangat darurat untuk disimpan di bank dan tidak ada bank lain yang bisa menggantikannya, seperti bank syariah yang hanya menyediakan penitipan uang saja, tanpa bunga. (more…)

Hukum Operasi Alat Kelamin

Hukum dibedakan berdasar penggantian atau penyempurnaan alat kelamin.

Isu lesbian, gay, biseks dan transgender (LGBT) kembali memunculkan perbincangan tentang bagaimana struktur fisik seorang transgender. Beberapa kalangan transgender pernah melakukan operasi alat kelamin demi menuntaskan perubahan bentuk fisik.

MUI menghukumi penggantian kelami dari perempuan menjadi alat kelamin laki-laki dan sebaliknya dengan hukum haram. Penetapan hukum haram juga dilakukan untuk perbuatan yang membantu orang tersebut mengganti kelaminnya. (more…)

Tindakan jual beli organ tubuh kembali mengemuka. Orang-orang rela menjual organ tubuhnya kepada sindikat karena mendapat iming-iming uang yang tidak sedikit.

Secara hukum positif, praktik jual beli organ tubuh dilarang. Tindakan ini bisa mendapatkan ancaman pidana. Lalu bagaimana hukum Islam memandangnya?

KH Ovied R berpendapat, sesuai dengan ijma ulama praktif jual beli organ tubuh dikategorikan haram. Tindakan menjual organ tubuh adalah tindakan batil dengan alasan donor anggota tubuh hukumnya haram.

Haramnya jual tubuh organ tubuh juga dikarenakan praktik donor organ tubuh masih terdapat silang pendapat. Ada yang mutlak mengharamkannya. Sementara yang memperbolehkan berpendapat donor harus bersifat kemanusiaan. (more…)

Siapakah Yang Boleh Memberi Fatwa?

Beratnya syarat menjadi mufti menegaskan fatwa tidak boleh dikeluarkan sembarangan.

Fatwa ulama akan menjadi pegangan umat dalam menjalankan syariat. Untuk itulah, mufti (rang yang memberikan fatwa) merupakan ulama-ulama yang memiliki kompetensi dari segi ilmu dan pengalaman hidup. Banyak bekal yang harus dimiliki untuk menjadi mufti.

Jumhur ulama bersepakat untuk memberi persyaratan yang harus dipenuhi seorang mufti. Syarat-syarat tersebut mencakup syarat umum, syarat pokok, dan syarat pelengkap. Syarat umum yakni baligh, muslim, sehat pikiran, dan cerdas.

Sementara, syarat pokok mencakup menguasai kandungan Al-Quran beserta ilmu-ilmunya yang mencakup ayat-ayat hukum, asbabun nuzul, nasakh-mansukh, takwil-tanzil, makiyah-madaniyah, dan sebagainya. Selain itu juga hafal dan menguasai berbagai hadis nabi dengan seluk-beluk asbabul wurud, periwayatan, ilmu mustalah, dan sebagainya. (more…)

Tampil Cantik Dengan Gigi Crown, Bolehkah?

Semakin majunya ilmu kedokteran, kini gigi yang kurang menarik bisa dipasangkan crown. Crown yakni suatu teknik memberikan sarung pada gigi yang bermasalah. Tujuannya, untuk membuat gigi menjadi lebih kuat serta punya nilai estetika. Tekniknya dengan mengikir terlebih dahulu, kemudian disarungkan restorasi gigi (crown). Bagaimana tinjauan syariatnya?

Soal mengikir gigi, secara jelas ada hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengecamnya. Sabda beliau, “Allah melaknat wanita-wanita yang mengikir (gigi) agar lebih cantik dan wanita-wanita yang mengubah ciptaan Allah.” (HR. Bukhari-Muslim)

Tentu saja yang dimaksudkan bukan hanya wanita saja. Dan tentu saja bukan hanya tindakan mengikir gigi. Tetapi seluruh tindakan yang bertujuan mengubah ciptaan Allah. (more…)

Pada prinsipnya, umat Islam bermuamalah dalam hubungan sosial, bergaul dan berinteraksi dengan masyarakat, tidaklah dibatasi oleh agama yang dianut oleh teman bergaul kita. Artinya, kita boleh bergaul dengan siapa saja dan apapun agama yang dianutnya. Syaratnya, tidak ada pembauran akidah atau perbuatan yang mencampuradukkan aspek akidah dan keimanan.

Dengan demikian, memenuhi dan mengikuti undangan jamuan makan dari teman yang memeluk agama lain, hukum dasarnya adalah boleh. Misalnya, kawan atau pimpinan itu mendapat promosi jabatan, kelahiran anak, pindah rumah, dan sebagainya. Lalu ia mengundang makan-makan rekan sejawat sebagai bentuk ungkapan syukur atas kebaikan/keberuntungan yang telah diperolehnya. (more…)