Archive for the ‘Kaidah’ Category

Pertama, wajib, yaitu apa yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala. Siapa saja yang mengerjakannya akan mendapat pahala dan jika meninggalkannya akan mendapatkan siksa, seperti salat lima waktu dan puasa ramadhan.

Kedua, haram, yaitu apa yang dilarang Allah Ta’ala. Orang yang meninggalkannya akan mendapat pahala dan orang yang melakukannya akan mendapat siksa, seperti perbuatan zina dan meminum minuman yang memabukkan.

Ketiga, sunnah, yaitu apa yang dianjurkan dalam Islam agar dikerjakan. Setiap orang yang mengerjakannya akan mendapat pahala, namun orang yang tidak melakukannya tidak mendapat siksa. Seperti tersenyum dihadapan orang lain, mengucapkan salam ketika bertemu, dan menyingkirkan duri dari jalanan. (more…)

Advertisements

Setiap binatang yang mempunyai taring, yaitu semua binatang darat predator yang memangsa hewan lainnya, baik berukuran besar seperti harimau dan singa atau binatang berukuran kecil seperti kucing dan anjing.

Semua burung yang memiliki cakar, yaitu semua burung yang memakan daging seperti elang dan burung hantu.

Binatang melata, ular, dan tikus haram untuk dikonsumsi. Bahkan kita dianjurkan untuk membunuhnya. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ada lima binatang yang boleh kalian bunuh, baik ketika berhaji maupun tidak yaitu: ular, burung gagak, tikus, anjing buas, dan elang. (HR. Bukhari-Muslim) (more…)

Di antara hal yang dapat membinasakan anak cucu Adam adalah perbuatan menunda-nunda. Orang bijak berkata, “Barangsiapa yang menanam benih ‘nanti’, maka akan tumbuh sebuah tanaman bernama ‘mudah-mudahan’, yang memiliki buah bernama ‘seandainya’, yang rasanya adalah ‘kegagalan dan penyesalan’.”

Benar seperti apa yang dikatakan oleh seorang penyair, “Waktu itu laksana pedang, jika Anda tidak memanfaatkannya, maka dia akan menebas Anda.” Disebutkan Ibnu Mubarak—rahimahullah—dalam kitab Az-Zuhd bahwa ada sebagian ulama tabi’in yang berkata, “Ketika sakaratul maut datang, kata-kata ‘nanti’ pasti akan membuat kalian menyesal.”

NILAI SEBUAH WAKTU

– Menurut Al Qur’an

Allah Subhanahu wa ta’ala telah bersumpah dengan waktu-waktu tertentu dalam beberapa surah Al-Qur’an, seperti al-lail (waktu malam), an-nahâr (waktu siang), al-fajr (waktu fajar), adh-dhuhâ (waktu matahari sepenggalahan naik), al-‘ash (masa). (more…)

  1. Hasad

Artinya membenci datangnya nikmat Allah kepada seorang hamba. Dia adalah ketidaksenangan seseorang terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain. Maka ini adalah hasad, baik dia mengharap hilangnya nikmat itu atau tetap ada, akan tetapi dia membenci hal itu. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dia berkata, “Hasad adalah kebencian seseorang atas nikmat yang Allah berikan kepada orang lain.”

Setiap jiwa tidak pernah luput dari sifat hasad ini, yakni terkadang dia mendesak kedalam jiwa, tetapi dijelaskan dalam suatu hadits: “Jika engkau hasad maka janganlah engkau zhalim dan jika engkau berprasangka maka janganlah engkau menyelidiki.” Artinya, seorang manusia apabila dia merasakan ada hasad didalam hatinya kepada orang lain maka wajib baginya untuk tidak berbuat zhalim kepada orang itu, baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan. (more…)

Faedah Pertama

Seorang penuntut ilmu harus memperhatikan beberapa perkara ketika mempelajari ilmu, ilmu apapun yang dipelajarinya:

  1. Menghafalkan matan kitab-kitab yang ringkas

Jika mempelajari ilmu nahwu, maka sebaikya menghafal kitab yang ringkas tentangnya. Kitab yang baik bagi seorang pemula sebaiknya menggunakan matan al Aajurumiyyah, karena kitab ini jelas, lengkap dan ringkas. Kemudian matan Alfiyah Ibnu Malik karena kitab ini adalah ringkasan ilmu nahwu.

Dalam masalah fiqh, sebaiknya menghafal Zaadul Mustaqni’ karena kitab ini dilengkapi dengan penjelasan dan catatan kaki serta pengajaran, sekalipun beberapa matan lain lebih bagus dari kitab ini dari satu segi akan tetapi dia lebih bagus dari kitab lain dari segi lainnya karena banyaknya masalah yang ada didalamnya dan banyak komentar dan perhatian orang terhadapnya.

Dalam masalah hadits, bagi pemula sebaiknya menghafalkan matan ‘Umdatul Ahkam. Jika telah meningkat maka hafalkanlah Buluughul Maraam. (more…)

 

Karena hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampai kepada kita melalui jalur para perawi, maka mereka menjadi fokus utama untuk mengetahui ke-shahih-an atau tidaknya suatu hadits. Karena itu pula, para ulama hadits amat memperhatikan para perawi. Mereka telah membuat berbagai persyaratan yang rinci dan pasti untuk menerima riwayat para perawi. Ini menunjukkan jauhnya pandangan para ulama hadits, lurusnya pemikiran mereka, dan kualitas metode yang mereka miliki.

Berbagai persyaratan yang ditentukan terhadap para perawi dan syarat-syarat lain bagi diterimanya suatu hadits atau berita tidak pernah ada dan tidak pernah dijumpai pada agama apapun, bahkan hingga masa kini. (more…)

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapatkan pentunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)

Saat ini, jumlah penduduk Indonesia berkisar 250 juta jiwa. 80% di antaranya beragama Islam. Wajar jika Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai penduduk Islam terbesar di dunia. Tapi, jangan bangga dulu sebab jika kita bertanya, berapa persen di antara kaum muslimin yang benar-benar paham dengan ajaran agamanya? Tentu setiap kita memiliki jawaban masing-masing. Dan yang pasti, masih sangat sedikit. (more…)