Archive for the ‘Lampung Sai’ Category

Sastra Lampung adalah sastra yang menggunakan bahasa Lampung sebagai media kreasi, baik sastra lisan maupun sastra tulis. Sastra Lampung memiliki kedekatan dengan tradisi Melayu yang kuat dengan pepatah-petitih, mantera, pantun, syair, dan cerita rakyat.

Sastra Lisan Lampung menjadi milik kolektif suku Lampung. Ciri utamanya kelisanan, anonym, dan lekat dengan kebiasaan, tradisi, dan adat istiadat dalam kebudayaan masyarakat Lampung. Sastra itu banyak tersebar dalam masyarakat dan merupakan bagian sangat penting dari khazanah budaya etnis Lampung. (more…)

Budaya lisan merupakan pilar istimewa budaya Lampung. Dengan tradisi bertutur inilah proses memindahkan nilai-nilai dan norma terjadi. Cerita rakyat memiliki nilai sosial budaya serta spiritual yang terkandung dalam budaya masyarakat Lampung.

Judul cerita rakyat Lampung antara lain: Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat, Ompung Silamponga, Sultan Domas, Asal Usul Sukadana, Asal Usul Danau Ranau, Sumur Bandung, Buaya Perompak, Kisal Telu Pak.

(more…)

Lampung mempunyai beraneka macam makanan khas. Contohnya seruit, makanan khas Lampung yang terbuat dari ikan yang digoreng atau dibakar, kemudian dicampur sambel khas daerah Lampung (sambel terasi), tempoyak (olahan durian), atau manga yang ditambahkan lagi dengan lalapan.

Sedangkan minumannya adalah serbat. Terbuat dari olahan buah mangga kweni yang diserut kecil-kecil berbentuk panjang kemudian dicampur dengan air gula, susu kental, dan es. Selain itu juga terdapat makanan khas Lampung lainnya seperti sambal Lampung, lemdok (dodol), keripik pisang kapok, kerupuk kemplang, dan manisan. (more…)

Ada berbagai jenis tarian yang merupakan asset budaya Provinsi Lampung. Salah satu jenis tarian yang terkenal adalah Tari Sembah dan Tari Melinting. Ritual Tari Sembah biasanya diadakan oleh masyarakat Lampung untuk menyambut dan memberikan penghormatan kepada para tamu atau undangan yang datang, atau dapat disebut juga sebagai tarian penyambutan. Selain sebagai ritual penyambutan, Tari sembah pun kerap kali dilaksanakan dalam upacara adat pernikahan masyarakat Lampung. (more…)

Alat musik tradisional Lampung antara lain:

Serdam, yaitu alat musik sebangsa suling yang terbuat dari bamboo tipis berlubang empat; tiga di atas dan satu di bawah, dudukan tiup diujung dengan resonansi persilangan udara pada kulit bambu.

Kerenceng atau terbangan yaitu alat musik yang terbuat dari kayu (baluh) dan kulit kambing. Untuk menghemat pemakaian dan untuk memperkeras suara digunakanlah alat peregang kulit yang terbuat dari rotan (sidak). Alat musik ini digunakan untuk mengiringi vocal, baik dalam acara ngarak (buharak) dalam bentuk tabuh lama (butabuh) dan mengiringi lagu-lagu dalam tubuh baru (diperbaru). (more…)

Bahasa Lampung adalah sekelompok bahasa yang dituturkan oleh orang Lampung di Provinsi Lampung, selatan Palembang dan pantai barat Banten. Rumpun bahasa Lampung terdiri diri:

– Bahasa Komering

– Bahasa Lampung Api

– Bahasa Lampung Nyo

Kelompok ini merupakan cabang tersendiri dalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia.

Berdasarkan peta bahasa, Bahasa lampung memiliki subdialek, yaitu:

1. Dialek A yang dipakai oleh masyarakat Melinting-Maringgai, Pesisir Rajabasa, Pesisir Teluk, Pesisir Semaka, Pesisir Krui, Belalau dan Ranau, Komering, dan Kayu Agung (yang beradat Lampung Peminggir/Saibatin), serta Way Kanan, Sungkai, dan Pubian (yang beradat Lampung Pepadun). (more…)

Berikut ini cara perawatan pakaian berbahan sulam:

1. Pisahkan dengan jenis pakaian lain

2. Rendam sulam dengan sedikit deterjen atau pelembut pakaian

3. Diamkan 15 menit

4. Peras sulam dengan lembut agar tidak merusak sulaman

5. Jemur beberapa jam hingga setengah kering (more…)