Posts Tagged ‘Ilmu Hadits’

 

Karena hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampai kepada kita melalui jalur para perawi, maka mereka menjadi fokus utama untuk mengetahui ke-shahih-an atau tidaknya suatu hadits. Karena itu pula, para ulama hadits amat memperhatikan para perawi. Mereka telah membuat berbagai persyaratan yang rinci dan pasti untuk menerima riwayat para perawi. Ini menunjukkan jauhnya pandangan para ulama hadits, lurusnya pemikiran mereka, dan kualitas metode yang mereka miliki.

Berbagai persyaratan yang ditentukan terhadap para perawi dan syarat-syarat lain bagi diterimanya suatu hadits atau berita tidak pernah ada dan tidak pernah dijumpai pada agama apapun, bahkan hingga masa kini. (more…)

Secara bahasa, pengertian hadits adalah berita atau baru. Fairuz Abadi berkata, “(hadatsu, huduutsan, wa hadaatsatan) maknanya adalah kebalikan dari lama, dan alhadiitsu maknanya adalah baru atau berita. Bentuk jamaknya ahaadiitsu (Lihat Al-Qomus Muhith 1/164).

Adapun pengertian hadits secara istilah adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, baik berupa ucapan, perbuatan, ketetapan, perangai, maupun sifat jasad beliau (Taisir Mushtholah Hadits oleh Syekh Mahmud Ath-Thohhan, hal. 14).  Pengertian ini sama dengan pengertian as-sunnah, khobar, dan atsar (Nuzhatun Nazhar oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar, hal. 52). Hanya saja sebagian ulama membedakan antara hadits dengan atsar. Mereka menyatakan bahwa hadits itu yang datangnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan jika datangnya dari sahabat maka disebut atsar (Dirosat fi Ulumil Hadits oleh Isma’il Salim Abdul ‘Ali, hal. 7; Al-Hadits An-Nabawi oleh Muhammad Ash-Shobbagh hal. 15). (more…)